GROBOGAN– Aksi Run for Rivers yang dilakukan tiga bersaudara asal Prancis, Sam, Gary, dan Kelly Bencheghib, tak hanya menjadi kegiatan lari jarak jauh.
Di Grobogan, mereka turun langsung membersihkan sungai penuh sampah bersama Pemerintah Kabupaten Grobogan dan komunitas Sungai Watch.
Bersama seluruh stakeholder terkait, aksi clean up dilakukan di Sungai Jajar Lama, Desa Kramat, Kecamatan Penawangan.
Lokasi tersebut dikenal sebagai titik rawan limpasan air saat hujan ekstrem, bahkan kerap menggenangi hingga rumah warga sekitar.
Tak main-main, sekitar 500 orang terlibat dalam kegiatan tersebut. Mulai dari unsur TNI-Polri, perangkat daerah seperti BPBD, DLH, Dinas PUPR, pihak kecamatan, warga desa setempat, hingga pelajar dari SMPN 3 Karangrayung, SMP Yasim Karangrayung, dan SDN 2 Kramat.
Sungai Jajar Lama sendiri diketahui memiliki kedalaman lebih dari 1 meter. Namun aliran air kerap tersendat karena tumpukan sampah yang menumpuk di sejumlah titik.
Sam, Gary, dan Kelly pun turun langsung ke sungai.
Bahkan Direktur Radar Kudus Baehaqi ikut membantu pembersihan di sungai yang dipenuhi sampah rumah tangga tersebut.
Selama aksi, Sam dan Gary terlihat sigap mengangkat sampah anorganik dari dasar sungai.
Mulai dari plastik, kemasan, hingga sampah rumah tangga. Sementara Kelly sempat menemukan sampah bekas susu yang kondisinya masih cukup baru.
Kelly pun sempat bercanda sejenak dengan pura-pura meminum susu kemasan tersebut.
Tak hanya sampah plastik, sejumlah sampah organik seperti ranting, gedebok pisang, bambu hingga batang pohon juga ikut dibersihkan.
Setelah sampah berhasil diangkat dalam jumlah besar, aliran air sungai terlihat kembali lancar.
Usai aksi, Sam Bencheghib menyoroti tantangan terbesar dalam persoalan sampah sungai, yakni time management dan konsistensi.
Menurutnya, banyak daerah hanya melakukan pembersihan sungai sesekali, tidak rutin dan tidak terjadwal.
“Tantangan paling besar itu time management. Tidak rutin mengambil sampah. Mungkin hanya beberapa hari dalam seminggu atau sebulan,” katanya.
Ia juga menyayangkan kebiasaan masyarakat yang masih membuang sampah ke sungai atau membakarnya.
Padahal, pembakaran sampah dinilai jauh lebih berbahaya dibanding asap rokok.
“Rata-rata orang buang sampah di sungai atau dibakar. Padahal pembakaran sampah itu tiga kali lebih bahaya dari asap rokok,” tegasnya.
Sam menilai persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan aksi bersih-bersih semata. Dibutuhkan solusi yang lebih besar dan sistematis.
Ia berharap Run for Rivers bisa mendorong pemerintah membuat kampanye besar-besaran soal pengelolaan sampah.
“Kita bisa bakar, kita bisa buang sampah sembarang. Tapi apa solusi yang harus dilakukan. Semoga Run for Rivers ini menginspirasi pemerintah. Harus ada campaign besar sekali,” ujarnya.
Sam kemudian menyinggung rencana pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di setiap desa di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Menurutnya, persoalan sampah seharusnya ditangani dengan keseriusan yang sama, yakni dengan memastikan setiap desa memiliki solusi pengelolaan sampah mandiri.
“Misalnya Koperasi Desa Merah Putih akan dibangun di setiap desa. Nah, sama halnya permasalahan sampah, harusnya bagaimana setiap desa bisa punya solusi terhadap sampah,” katanya.
Ia menambahkan, kondisi Sungai Jajar Lama di Grobogan hampir sama dengan yang mereka temui di berbagai daerah lain selama perjalanan Run for Rivers.
Sampah yang ditemukan pun beragam, mulai dari pampers, kresek, sandal, hingga sampah rumah tangga yang dibuang langsung ke aliran sungai.
Selain itu, campuran sampah organik seperti bambu, ranting, dan pohon membuat proses pembersihan menjadi lebih berat.
“Kalau bersih-bersih sungai seperti ini susah karena campuran organik dan anorganik,” ungkapnya. (int)
Editor : Admin