GROBOGAN – Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Pulongrambe, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan mulai tancap gas menjalankan peran sebagai penggerak ekonomi desa.
Meski unit simpan pinjam dan gerai sembako belum dibuka, koperasi ini sudah bergerak aktif lewat kemitraan dengan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) dan kolaborasi bareng BUMDes.
Kabid Kelembagaan dan Pengawasan Dinas Koperasi dan UKM Grobogan, Nur Ichsan, mengatakan KDMP Pulongrambe saat ini sudah berjalan lewat kerja sama dengan satu SPPG di wilayah mereka.
Di mana koperasi jadi penghubung sekaligus penggerak distribusi bahan baku.
“KDMP Pulongrambe bermitra dengan satu SPPG di wilayah mereka, serta bekerja sama dengan BUMDes,” ujar Nur Ichsan.
Ia menjelaskan, kerja sama dengan BUMDes menjadi kunci karena koperasi masih terkendala permodalan. Dalam skema ini, BUMDes berperan sebagai penopang modal sekaligus wadah supplier bahan baku.
“Karena koperasi kurang modal, maka modal diperoleh dengan BUMDes. Peran koperasi sebagai wadah supplier atau penyedia bahan baku. Menghubungkan UMKM dengan SPPG lewat KDMP,” jelasnya.
Lewat pola tersebut, KDMP bukan sekadar nama, tapi benar-benar berfungsi sebagai jembatan antara UMKM lokal dengan kebutuhan SPPG, sehingga rantai pasok lebih rapi dan perputaran ekonomi desa makin hidup.
Yang menarik, transaksi yang masuk ke rekening KDMP nilainya cukup besar.
Nur Ichsan menyebut, dana dari program MBG masuk rutin setiap dua pekan sekali dengan nominal Rp 150 juta.
Jika dihitung per bulan, transaksi tersebut mencapai Rp 300 juta. Dalam kurun lima bulan operasional, total perputaran dana yang masuk sudah menembus Rp 1,5 miliar.
“Transaksi yang masuk di rekening KDMP dari MBG tiap dua pekan sekali Rp 150 juta. Sebulan sekitar Rp 300 juta, dikali lima bulan menjadi Rp 1,5 miliar,” paparnya.
KDMP Pulongrambe diketahui mulai beroperasi sejak Agustus hingga Desember 2025.
Sedangkan, uang yang masuk itu digunakan untuk membayar para supplier bahan baku yang menyuplai kebutuhan SPPG. Setelah pembayaran supplier selesai, koperasi mendapat keuntungan dari transaksi yang berjalan.
“Uang itu untuk membayar para supplier telur, buah-buahan. Setelah itu keuntungannya Rp 50 persen masuk di KDMP,” ungkap Nur Ichsan.
Sementara sisanya dibagi lagi sesuai porsi kerja sama. Dari keuntungan tersebut, 25 persen dialokasikan untuk BUMDes, sedangkan bagian lainnya dibagikan untuk pengurus dan pengelola koperasi.
Meski roda kemitraan sudah berjalan kencang, Nur Ichsan mengakui beberapa program usaha KDMP Pulongrambe masih dalam tahap persiapan.
Kegiatan unit simpan pinjam belum berjalan, begitu pula rencana gerai sembako yang belum dibuka.
“Untuk kegiatan simpan pinjam belum berjalan, gerai sembako belum berjalan. Yang sudah berjalan kemitraan dengan SPPG,” tegasnya.
Dinkop UKM Grobogan berharap keberhasilan kemitraan ini bisa menjadi pijakan kuat untuk memperluas unit usaha koperasi.
Sehingga KDMP Pulongrambe tidak hanya aktif sebagai mitra SPPG, tetapi juga mampu berkembang menjadi pusat layanan ekonomi desa yang lengkap dan berkelanjutan. (int)
Editor : Admin