GROBOGAN – Pria yang mengamuk dan membacok enam warga di Dusun Gundi, Desa Sengonwetan, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, kini menjalani perawatan di ruang kejiwaan Rosella di RSUD dr. R. Soedjati Purwodadi.
Pelaku diduga mengalami gangguan jiwa berat. Bahkan berdasarkan pemeriksaan awal, pelaku mengarah pada F20, yakni gangguan mental berat jenis skizofrenia yang dapat memicu perilaku agresif jika tidak rutin menjalani pengobatan.
Sub Koordinator Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Kesehatan Jiwa di Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, Subandi, mengatakan pelaku diduga mengalami gangguan kejiwaan berat yang kambuh.
“F-20 gangguan mental berat. ODGJ berat, agresif. Harusnya rutin minum obat,” jelasnya.
Menurutnya, setelah mendapat informasi dari para tetangga. Pelaku sebelumnya juga pernah menjalani pengobatan gangguan jiwa di Jakarta.
Warga sekitar sempat mengira kondisinya telah membaik, namun diduga penyakitnya kembali kambuh.
Nahas, malah membuat peristiwa pembacokan tragis yang terjadi di Desa Sengonwetan Kecamatan Kradenan pada Minggu (29/3/2026) sore.
Saat itu pelaku tiba-tiba mengamuk sambil membawa parang dan menyerang warga di sekitar rumahnya.
Akibat kejadian tersebut, enam orang mengalami luka serius dan harus mendapatkan perawatan medis. Bahkan, satu korban di antaranya kedapatan meninggal dunia pada Senin (30/3).
Diduga, aksi pelaku dipicu persoalan di rumah setelah ia meminta uang kepada ibunya.
Subandi menjelaskan, pada Senin (30/3/2026) sekitar pukul 10.00 WIB pelaku dibawa ke rumah sakit untuk menjalani penanganan di ruang jiwa Rosella.
“Sebelumnya sempat dibawa ke Polsek Kradenan untuk dimintai keterangan. Karena dari rekaman CCTV saat kejadian pembacokan itu, dia sempat mengambil gawai milik warga,” ujarnya.
Meski demikian, diagnosis pasti mengenai kondisi kejiwaan pelaku masih menunggu hasil pemeriksaan dari pihak rumah sakit.
“Untuk diagnosis pastinya masih menunggu dari rumah sakit. Tergantung perkembangan di ruang jiwa Rosella,” katanya.
Ia menambahkan, biasanya setelah mendapatkan perawatan, pasien akan dipulangkan kembali ke keluarga atau tempat tinggalnya.
Namun dalam kasus ini situasinya berbeda karena warga masih mengalami trauma akibat kejadian tersebut.
"Karena kemarin ada kejadian seperti itu, otomatis warga dan desa menolak. Warga masih trauma berat. Dinkes dan Dinsos akan mencarikan panti eks psikotik yang ada di Jawa Tengah,” pungkasnya. (int)
Editor : Intan Maylani