Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

MBG Dibawa Pulang, Wali Murid SDN 1 Penadaran Grobogan Ikut Tumbang

Intan Maylani Sabrina • Selasa, 13 Januari 2026 | 16:06 WIB
MBG: Darti warga Desa Penadaran Kecamatan Gubug yang ikut terdampak dugaan keracunan.
MBG: Darti warga Desa Penadaran Kecamatan Gubug yang ikut terdampak dugaan keracunan.

GROBOGAN - Dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, tak hanya menyerang para siswa.

Sejumlah wali murid dan guru pun ikut terdampak.

Salah satunya Sudarti, warga Desa Penadaran, yang harus beristirahat total selama tiga hari akibat mual, muntah, dan diare hebat usai menyantap menu MBG milik anaknya.

Bagi Sudarti, Jumat itu seharusnya berjalan biasa saja.

Ia tak pernah menyangka seporsi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibawa pulang anaknya dari sekolah justru mengubah akhir pekannya menjadi hari-hari penuh rasa mual, muntah, dan diare yang melemahkan tubuh.

Sudarti merupakan wali murid SDN 1 Penadaran, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan.

Seperti banyak orang tua lainnya, ia terbiasa membantu anak menghabiskan makanan yang tersisa.

Siang itu, anaknya membawa pulang menu MBG yang tak sempat dimakan di sekolah.

“Anak saya dapat MBG hari Jumat. Pas pulang nggak dimakan di sekolah, terus saya yang makan,” tuturnya.

Menu yang disantapnya sederhana yakni nasi kuning, abon, dan telur dadar. Tak ada rasa aneh, tak pula kecurigaan.

Hingga malam tiba, tubuhnya mulai memberi tanda-tanda tak biasa.

Di saat bersamaan, gawai milik Sudarti mulai ramai. Grup percakapan wali murid dipenuhi pesan.

Ada yang mengeluh mual, ada yang menyebut diare. Namun Sudarti belum mengaitkan gejala yang ia rasakan dengan makanan yang dikonsumsinya.

“Saya nggak tahu. Saya kira biasa saja. Awalnya mikir masuk angin,” katanya.

Malam itu, perutnya mulai melilit. Ia merasa tak enak badan, disusul diare. Sabtu pagi, kondisinya kian memburuk.

Muntah datang berulang kali, disertai rasa mulas hebat yang membuatnya sulit beranjak dari tempat tidur.

“Saya muntah banyak sekali. Habis muntah, perut mules, terus muntah lagi. Badan juga terasa panas,” ujarnya.

Ia sempat mengira hanya kelelahan atau masuk angin. Bahkan Sudarti sempat dikeroki. Namun tubuhnya tak kunjung membaik.

Sabtu dan Minggu ia habiskan dengan beristirahat total di rumah, menahan perih di perut dan rasa lemas akibat diare cair yang terus berulang.

Baru setelah membaca kembali percakapan di grup, Sudarti mulai memahami bahwa dirinya bukan satu-satunya yang sakit.

“Ternyata bukan saya saja. Teman-teman wali murid juga diare. Baru tahu kalau itu efek dari MBG,” ucapnya.

Tiga hari berlalu sebelum kondisinya berangsur membaik. Hingga kini, Sudarti mengaku belum sepenuhnya pulih.

Perutnya masih kerap terasa mulas dan buang air besar belum kembali normal.

“Sekarang sudah mendingan, tapi rasanya belum enak. Masih sering mules,” katanya.

Sudarti hanyalah satu dari sedikit orang dewasa yang ikut terdampak.

Berdasarkan laporan resmi Pemerintah Desa Penadaran, total 138 orang mengalami dugaan keracunan MBG.

Mereka terdiri dari 125 siswa, 10 guru, dan 3 wali murid di SDN 1, SDN 2, dan SDN 3 Penadaran.

Gejala yang dialami para korban relatif serupa: mual, muntah, pusing, sakit perut, hingga diare setelah mengonsumsi menu MBG yang dibagikan pada Jumat pagi, 9 Januari 2026.

Meski kondisi para korban kini dilaporkan stabil, peristiwa ini menyisakan trauma sendiri bagi ratusan orang yang terdampak. (int)

Editor : Ali Mustofa
#grobogan #Mbg #keracunan