GROBOGAN – Perum Perhutani KPH Purwodadi menggelar Job Training Tebangan Tahun 2026 dengan mengusung tema “Bucking Optimal, Pendapatan Maksimal”.
Kegiatan ini dilaksanakan di Petak 116A RPH Teges, BKPH Tumpuk, Selasa (6/1), sebagai langkah awal dimulainya proses tebangan tahun 2026 di wilayah kerja KPH Purwodadi.
Job training tersebut diikuti jajaran manajemen KPH Purwodadi, para Kepala BKPH, Kepala RPH, penguji kayu, mandor tebang, serta mitra tebangan.
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kompetensi teknis karyawan dan mitra kerja Perhutani agar proses penebangan berjalan sesuai standar, aman, tertib administrasi, serta mampu meningkatkan nilai produksi kayu.
Materi pelatihan meliputi teknik penebangan yang benar dan efisien, penerapan bucking policy untuk mengoptimalkan nilai ekonomi kayu sesuai kebutuhan pasar, serta pelaksanaan cutting test guna mengetahui potensi kayu dari pohon yang akan ditebang.
Peserta juga dibekali pemahaman administrasi hasil hutan, pemasangan barcode sebagai bagian dari sistem lacak balak, serta praktik penggunaan Aplikasi Sistem Informasi Monitoring Produksi Kayu (SIMONPAYU) dan Sistem Informasi Monitoring Angkutan Kayu (SIMONANG).
Melalui SIMONPAYU, seluruh data produksi kayu mulai dari pohon berdiri, hasil tebangan, hingga penatausahaan dicatat secara digital dan akurat.
Sementara SIMONANG digunakan untuk memantau proses angkutan kayu agar sesuai dengan data produksi, menjamin legalitas kayu, serta mencegah potensi penyimpangan dalam distribusi hasil hutan.
Administratur KPH Purwodadi, Untoro Tri Kurniawan, menyampaikan bahwa job training ini merupakan langkah strategis untuk mengawali tebangan tahun 2026.
“Job training ini menjadi awal pelaksanaan tebangan tahun 2026. Kami berharap seluruh jajaran dan mitra kerja dapat melaksanakan tebangan secara profesional, tertib administrasi, serta menjunjung tinggi prinsip zero fraud. Dengan dukungan SIMONPAYU dan SIMONANG, seluruh proses dapat termonitor secara transparan dan akuntabel,” ujarnya.
Untoro juga menegaskan pentingnya aspek keselamatan dan kesehatan kerja.
“K3L adalah prioritas utama. Rambu peringatan harus lengkap, alat pelindung diri wajib digunakan, dan seluruh prosedur kerja harus dipatuhi untuk mencegah kecelakaan kerja serta menjaga keselamatan pekerja dan lingkungan,” tegasnya.
Wakil Administratur KPH Purwodadi, Henry Kristiawan, menambahkan bahwa keamanan kayu harus dijaga sejak awal.
“Keamanan kayu harus diperhatikan sejak pohon ditebang hingga ke tempat penimbunan. Pemasangan barcode dan penatausahaan hasil hutan wajib dilakukan dengan benar agar legalitas kayu terjamin,” katanya.
Sementara itu, salah satu kru tebang mitra Perhutani, Ngatoyo, mengaku kegiatan tersebut sangat membantu meningkatkan keterampilan kerja.
“Job training ini membuat kami lebih paham teknik penebangan yang benar, pembagian batang sesuai bucking policy, serta pentingnya keselamatan kerja dan ketertiban administrasi,” ungkapnya.
Melalui job training ini, Perhutani KPH Purwodadi berharap pelaksanaan tebangan tahun 2026 dapat berjalan sesuai standar teknis, aman, tertib administrasi, serta mendukung pengelolaan hutan yang lestari dan berkelanjutan. (mun)
Editor : Ali Mustofa