Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

SPPG Putatsari Grobogan Klarifikasi Dugaan Keracunan MBG, Keterlambatan Distribusi Jadi Sorotan

Intan Maylani Sabrina • Minggu, 14 Desember 2025 | 05:43 WIB
Salah satu SPPG di Grobogan
Salah satu SPPG di Grobogan

GROBOGAN- Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Putatsari memberikan klarifikasi terkait dugaan keracunan makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di Desa Putatsari, Kecamatan Grobogan. Keterlambatan distribusi makanan pada hari kejadian menjadi sorotan dalam evaluasi.

Kasus tersebut telah dilakukan penyelidikan epidemiologi bersama Puskesmas Grobogan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan pada Sabtu (13/12). 

Total terdapat 23 warga dan balita yang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi MBG, dengan gejala dominan berupa muntah-muntah, disertai pusing, sakit perut, dan diare. Seluruh korban telah pulih.

Kasus ini terjadi di delapan posyandu, yakni Posyandu Karangjati, Ketileng, Tahunan, Krajan, Carat, Turi, Pojok, dan Ngrumpeng. Berdasarkan hasil penelusuran, tercatat sebanyak 23 kasus dengan angka fatalitas nol persen. 

Pada hari terakhir penyelidikan, tim puskesmas dan Dinas Kesehatan melakukan visitasi langsung ke 23 balita dan warga terdampak. Hasilnya, seluruh balita telah kembali aktif dan kondisi kesehatan warga dinyatakan membaik.

SPPI Putatsari, Haris, menyampaikan bahwa menu soto ayam menjadi makanan yang dicurigai sebagai sumber dugaan keracunan. Namun, pemeriksaan laboratorium tidak dapat dilakukan karena sampel makanan tidak tersimpan. 

Ia mengakui bahwa sampel makanan terbuang saat pembersihan lemari pendingin pada Jumat pagi akibat kurangnya koordinasi internal. Selain itu, sampel muntahan korban juga tidak dapat diperiksa karena tidak ditampung dan korban sudah tidak mengalami muntah saat dilakukan penelusuran lanjutan.

Meski tanpa dukungan pemeriksaan laboratorium, SPPG Putatsari menegaskan telah bertanggung jawab penuh terhadap penanganan kejadian tersebut. 

"Seluruh biaya pemeriksaan dan pengobatan korban ditanggung oleh pihak dapur," ungkapnya.

Haris menyebutkan bahwa proses memasak saat ini telah dinyatakan aman dan seluruh keterangan yang dibutuhkan telah diberikan kepada pihak terkait.

Dalam evaluasil, SPPG Putatsari juga menemukan adanya keterlambatan pendistribusian makanan pada hari kejadian. "Distribusi yang seharusnya dilakukan pada pagi hari mengalami penundaan karena menunggu salah satu menu kering, sehingga makanan baru dikirim menjelang siang. Kondisi ini diduga meningkatkan risiko penurunan mutu pangan," imbuhnya.

SppgBaca Juga: Tancap Gas! Sudah Ada 76 SPPG di Grobogan yang Kantongi SLHS

Ke depan, SPPG Putatsari berkomitmen melakukan perbaikan menyeluruh, terutama dalam manajemen waktu distribusi, penyimpanan sampel makanan sesuai standar operasional prosedur, serta penguatan pengawasan proses pengolahan dan pendistribusian MBG. 

Haris menegaskan bahwa kejadian ini menjadi pembelajaran penting agar kejadian serupa tidak terulang.

Sebagai informasi, SPPG Putatsari saat ini melayani sebanyak 2.501 penerima manfaat yang tersebar di 12 sekolah di Kabupaten Grobogan. Pihak SPPG memastikan pelayanan MBG akan terus berjalan dengan pengawasan yang lebih ketat demi menjaga keamanan dan kesehatan penerima manfaat. (int)

Editor : Zainal Abidin RK
#SPPG #grobogan #Mbg #dkk #dinas kesehatan #gizi