RADAR KUDUS - SHAFIRA Noor Maharani Wichu Putri baru kali pertama mengikuti audisi di tingkat provinsi. Fia -sapaan akrabnya- tengah melangkah ke ajang Puteri Kebaya Jawa Tengah. Di mana ia membawa misi yang jauh lebih besar dari sekadar tampil anggun. Ia ingin mendekatkan kebaya dengan dunia remaja.
Lahir di Grobogan pada 18 Agustus 2007 dan kini bersekolah di SMAN 1 Purwodadi, Shafira tumbuh akrab dengan kebaya sejak kecil.
Ibunya adalah sosok yang mengenalkannya pada batik dan kebaya—dari cara mengenakan, ragam motif, hingga filosofi di baliknya.
Dari rumahnya di Gendingan, Desa Depok, Kecamatan Toroh, ia membawa kecintaan itu ke panggung audisi kategori remaja.
Bagi Shafira, ikut audisi ini bukan sekadar pengalaman pertama. “Saya ingin memberi makna baru pada kebaya yang saya pakai,” ujarnya.
Ia melihat kebaya sebagai identitas perempuan Jawa Tengah, bukan busana formal yang hanya dikenakan pada acara tertentu. Ia ingin remaja merasakan kebanggaan yang sama.
"Persiapannya lebih banyak menyentuh sisi mental. Ia melatih diri bicara di depan cermin, memperbaiki senyum, dan membangun rasa tenang agar tidak mudah panik," kesannya.
Untuk busana, Shafira memilih kebaya bertema burung merak. Sebagai simbol perempuan yang percaya diri dan berjati diri kuat—serta mempelajari makna motif jarik yang ia kenakan.
Ibunya menjadi inspirasi terbesar dalam langkahnya. Dari sang ibu, Shafira belajar bahwa berkebaya adalah bentuk menghormati akar budaya.
Dengan nilai itu, ia berani menjadikan audisi provinsi pertamanya sebagai titik awal keluar dari zona nyaman.
Jika terpilih menjadi Puteri Kebaya Jawa Tengah, Shafira telah menyiapkan program SHAYANG—SHAfira Ajak berkebaYa Generasi muda.
"Program ini dirancang untuk mengajak, mengenalkan, dan menggerakkan remaja agar lebih dekat dengan kebaya. Ia ingin kebaya dianggap membanggakan, bukan kuno.
“Budaya itu bukan sekadar peninggalan, tapi identitas,” tegasnya.
Dengan keberanian mengawali langkah di tingkat provinsi, gagasan SHAYANG, dan kecintaan mendalam pada kebaya, Shafira Noor Maharani hadir sebagai remaja yang bukan hanya mengenakan kebaya—tetapi ingin menghidupkan kembali maknanya bagi generasinya. (int)
Editor : Mahendra Aditya