GROBOGAN – Di balik tenangnya bentang alam Grobogan, tersimpan kisah heroik yang nyaris luput dari catatan sejarah.
Brigadir Jenderal Sentot Sudiarto, tokoh penting Divisi Diponegoro, ternyata memiliki jejak perjuangan kuat di wilayah ini.
Dari hutan Kendeng hingga sejumlah desa di timur Purwodadi, Sentot bersama pasukannya pernah menjadikan Grobogan sebagai pusat gerilya mempertahankan kemerdekaan.
Kisah tersebut kembali diangkat dalam kegiatan bertajuk “Bara Api Bledug Kuwu: Menapak Jejak Perjuangan Brigjen Sentot Sudiarto dan Brigade VI-SS/Divisi II di Semarang dan Grobogan” yang digelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Wilayah IV di Hotel Grand Master Purwodadi, Rabu (12/11/2025).
Acara ini merupakan bagian dari program Fasilitasi Penulisan Sejarah Lokal Tahun 2025 yang bertujuan menggali kembali kiprah tokoh daerah yang terlupakan oleh sejarah nasional.
Salah satu penulis buku Bara Api di Bledug Kuwu yang sekaligus Purna Dosen Universitas Diponegoro (Undip), Supriyono Priyanto menegaskan bahwa penggalian sejarah seperti ini menjadi langkah penting untuk menata ulang kesadaran sejarah masyarakat.
Menurutnya, Grobogan bukan hanya wilayah pertanian dan budaya, tetapi juga medan perjuangan yang memainkan peran vital selama masa revolusi.
“Perjuangan Brigjen Sentot Sudiarto di Grobogan ini bukan sekadar catatan perang, tapi simbol semangat rakyat yang bersatu mempertahankan republik. Ini sejarah yang perlu kita hidupkan kembali,” ungkapnya.
Perjalanan Brigjen Sentot Sudiarto di Grobogan bermula ketika ia menjabat sebagai Komandan Resimen 24/Divisi IV Diponegoro pada masa Agresi Militer Belanda.
Purwodadi dipilih menjadi markas utama karena posisinya strategis di antara Semarang, Blora, dan Bojonegoro.
Dari kota inilah, Sentot mengatur pertahanan dan menyusun taktik gerilya untuk menahan laju pasukan Belanda yang hendak menguasai jalur tengah Jawa.
Desa Sulursari di Kecamatan Gabus menjadi salah satu titik penting perjuangan.
Di sana pernah berdiri markas gerilya Divisi VI-SS, tempat Brigjen Sentot bersama anak buahnya memimpin perlawanan.
Wilayah Grobogan dengan kontur perbukitan Kendeng dan hutan jati lebat menjadi benteng alami yang memudahkan pasukan bergerak cepat.
Mereka memanfaatkan medan untuk melakukan taktik serangan kilat, menyergap musuh di jalur pedalaman, lalu menghilang sebelum bala bantuan Belanda datang.
Dalam arsip yang tersimpan di Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dinarpusda) Grobogan, tercatat bahwa pasukan Sentot sempat mendirikan pos perhubungan di Kuwu, Dapurno, hingga Wirosari.
Dari titik-titik itu dilakukan pergerakan menuju front Blora dan Randublatung.
Salah satu tulisan tangan Brigjen Sentot menggambarkan bagaimana ia mengatur pasokan logistik dari rakya. Beras, singkong, hingga hasil bumi untuk memberi makan pasukan yang terputus jalur suplai akibat blokade Belanda.
Dukungan rakyat Grobogan inilah yang menjadi tulang punggung keberlangsungan perang gerilya.
Dalam salah satu pertempuran di hutan Randublatung, pasukan Sentot berhasil menahan serangan konvoi Belanda dari arah Cepu.
Meski persenjataan mereka sederhana, semangat pantang menyerah membuat pasukan republik mampu menahan musuh selama beberapa hari.
Pertempuran ini tercatat sebagai salah satu aksi strategis yang memperlambat laju agresi Belanda ke jantung Karesidenan Pati.
Salah satu penulis yang juga guru Sejarah SMAN 1 Ungaran, Oni Andhi Asmara, menuturkan bahwa selama ini banyak orang keliru mengira Brigjen Sudiarto berasal dari Salatiga karena di kota itu berdiri tiga patung pahlawan—Yos Sudarso, Adi Sucipto, dan Brigjen Sudiarto.
“Setelah saya telusuri, ternyata hanya ibunya yang tinggal di Salatiga. Justru jejak perjuangannya jauh lebih kuat di Grobogan,” jelasnya.
Ia menambahkan, di Desa Sulursari masih terdapat lokasi napak tilas peninggalan perjuangan Sentot dan pasukannya. Salah satu dokumen tulisannya kini tersimpan di Dinarpusda Grobogan.
“Bukti-bukti ini memperlihatkan bahwa Grobogan bukan sekadar tempat singgah, tapi markas penting dalam perjalanan militer Divisi Diponegoro,” ujar Oni.
Ia pun mengajak masyarakat Grobogan untuk terus menggali historiografi lokal yang belum terdokumentasi secara utuh agar kisah para pejuang daerah tidak lagi terhapus dari ingatan kolektif.
Brigjen Sentot Sudiarto dikenal sebagai pemimpin lapangan yang dekat dengan rakyat.
Ia hidup sederhana, tidur di tanah bersama pasukannya, dan selalu mengedepankan strategi gerilya berbasis dukungan masyarakat.
Setelah pengakuan kedaulatan, ia terus mengabdi di TNI hingga berpangkat Brigadir Jenderal sebelum wafat pada tahun 1980.
Kini, lewat kegiatan ini, jejak perjuangan Brigjen Sentot Sudiarto di Grobogan kembali menemukan tempatnya dalam sejarah.
Dari tanah ini, semangat kemerdekaan pernah berkobar, dan dari rakyatnya lahir keteguhan mempertahankan republik.
Grobogan bukan sekadar saksi sejarah—ia adalah panggung perjuangan di mana bara api kemerdekaan pernah menyala dan tak boleh padam selamanya. (int)
Editor : Ali Mustofa