GROBOGAN – Peringatan Hari Wayang Sedunia diperingati berbeda di Kabupaten Grobogan, Kamis (6/11).
Ada sebelas dalang dari kalangan pelajar sampai profesi dalang tampil di Pendopo Kabupaten Grobogan dengan penampilan selama 16 jam dengan sistem maraton.
Penampilan Wayang Kulit dimulai pukul 10.00 WIB. Sebelas dalang ini terdiri dari tujuh dari pelajar. Diantaranya Ki Muhammad Fernando Rizkyansah dari SD IT Lukman Al Hakim Purwodadi kelas 4 dengan lakon Anoman Obong.
Ki Kenzie Aryazka Verendra Putra dari SD Fastabiq Purwodadi kelas 5 dengan lakon Kongso Leno. Ki Vava Darendra dari SMK 8 Surakarta kelas X dengan lakon Pandu Suwarga.
Kemudian Ki Pulung Nata Gumiwang dari SMP N 2 Penawangan kelas IX dengan lakon Babat Wanamarta.
Ki Alvin Febriansah dari SMP N Wirosari kelas VII dengan lakon Semar Mbangun Kahyangan.
Ki Vava Damiswara dari SMK N 8 Surakarta kelas IX dengan lakon Dewa Ruci dan Ki Ahmad Canavaro Heriyanto dari SMK N 8 Surakarta kelas XI dengan lakon Dewa Ruci.
Selanjutnya dua dalang remaja Ki Tangguh Wibowo dari Gundi Godong dan Ki Risang Aji Kameswara dari Kedungjati dengan lakon Alap-Alapan Sukesi.
Sebagai penampilan tampilan dalang puncak di mulai pukul 20.00 WIB sampai pagi hari. Yakni dalang Ki Sriyanto (Dalang Sopo Ngiro) dan Ki Joko Umbaran Purwodadi dengan lakon Bima Mandhito.
Kepala Disporabudpar Grobogan Wahono dalam sambutanya mengatakan pagelaran sehari semalam dengan penampilan sebelas dalang di hari Wayang Sedunia oleh Unesco.
Lembaga internasional UNESCO sebagai kekuatan wayang tak benda. Wayang kulit berikan ajaran petuah nasihat perilaku pewayangan untuk di dunia nyata.
”Ke depan meskipun menyesuaikan modernasi pakem harus dipegang. Maka disitulah adiluhung sendiri,” kata Wahono.
Penampilan dari sebelas dalang dari kalangan pelajar, remaja dan dewasa ini sebagai bentuk regenerasi.
Harapanya supaya dalang sudah tua nanti tergantikan yang muda. Sehingga jangan sampai tidak ada regenerasi menjadikan dalang wayang kulit punah.
”Mari kita bersama jaga budaya wayang kulit ini dengan kerjasama Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi). Ajak anak-anak cintai wayang dan budaya agar mulai berlatih. Wayang Kulit di Grobogan tetap remboko dan pemerintah daerah dukung penuh,” ujarnya.
Wahono juga berharap kegiatan Wayang Kulit di Pendopo Kabupaten Grobogan setiap Jumat Kliwon bisa digelar lagi.
Namun, karena ada kebijakan efisiensi dari pemerintah pusat pada tahun 2026. Maka pihaknya minta maaf belum bisa gelar rutinan wayang kulit setiap Jumat Kliwonan.
”Kami mengucapkan terima kasih bisa terselenggaranya atas pementasan sebelas dalang di Pendopo Kabupaten. Ini untuk membangun budaya dan kesenian di Kabupaten Grobogan,” harapnya.
Ketua Pepadi Grobogan Hardono mengatakan, penampilan sebelas dalang menampilkan dalang anak bertujuan untuk memupuk bakat anak-anak dan gali potensi kedepan. Harapanya nanti muncul dalang dari daerah Grobogan muncul di kancah nasional.
”Kami tampilkan sebelas dalang dari kalangan anak, remaja sampai senior selama sehari semalam. Ini untuk tingkatkan kreatifitas anak dan mau belajar wayang,” terang dia.
Selain itu, pihaknya juga menggandeng Dinas Pendidikan Grobogan untuk menghadirkan siswa untuk nonton wayang kulit.
Tujuanya agar anak –anak kenal dengan wayang kulit. Sebab, Wayang Kulit budaya luhur yang diakui UNESCO sejak tanggal 7 November Tahun 2023 lalu menjadi warisan budaya dunia dan milik Indonesia.
”Penampilan dalang anak 30 sampai 50 menit. Untuk Dewasa nanti tampil sampai pagi,” ujarnya.
Hardono berharap dengan adanya pentas dalang sebelas bisa menjadikan anak-anak bisa lebih suka.
Kemudian menggandeng pemerintah agar peduli budaya dan menjaga perilaku radikalisme. Dengan menjaga unggah ungguh toto kromo.
”Lakon yang ditampilkan bebas untuk anak agar tetap kreatif sesuai kemampuan anak,” tandasnya. (mun)
Editor : Mahendra Aditya