Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bonggol Jagung Disulap Jadi Energi Bersih, Grobogan Siap Jadi Lumbung Energi Hijau

Intan Maylani Sabrina • Rabu, 5 November 2025 | 14:42 WIB
JUARA: Pemkab Grobogan saat mendapatkan juara pertama di Central Java Investment Business Forum 2025.
JUARA: Pemkab Grobogan saat mendapatkan juara pertama di Central Java Investment Business Forum 2025.

GROBOGAN - Limbah bonggol jagung yang selama ini hanya menjadi sisa panen kini akan disulap menjadi sumber energi bersih.

Pemkab Grobogan tengah mendorong proyek pengolahan bonggol jagung menjadi Liquified Bio Gas (LBG) sebagai bentuk nyata transisi menuju energi hijau.

Program ini merupakan hasil kolaborasi Pemkab Grobogan dengan Bank Indonesia melalui ajang Keris Jateng Investment Challenge 2025.

Di mana Grobogan berhasil menyabet juara pertama berkat inovasi di sektor energi terbarukan berbasis limbah pertanian.

Plt Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Grobogan, Abdul Munib Susanto, menjelaskan proyek ini merupakan tindak lanjut dari arah kebijakan pembangunan sebagaimana tertuang dalam Perda Nomor 5 Tahun 2025 tentang RPJMD Kabupaten Grobogan 2025–2029.

Dalam RPJMD tersebut, salah satu misi utama adalah membangun infrastruktur handal, memperkuat ketangguhan wilayah, dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Menurut Munib, potensi pengembangan energi biomassa di Grobogan sangat besar karena kabupaten ini merupakan sentra jagung utama di Jawa Tengah.

Berdasarkan data Dinas Pertanian, total produksi jagung di tahun 2024 mencapai 855.665 ton, dengan estimasi limbah bonggol yang dapat diolah sekitar 171.133 ton per tahun.

“Selama ini bonggol jagung belum dikelola dengan baik dan cenderung menjadi beban lingkungan. Melalui proyek ini, limbah yang tidak bernilai ekonomi justru akan menjadi sumber energi alternatif yang ramah lingkungan,” jelasnya.

Konsep pengembangan energi bersih ini melibatkan peran aktif kelompok tani. Bonggol jagung dikumpulkan di tingkat petani melalui Gapoktan atau Badan Usaha Milik Petani (BUMP), lalu diserahkan kepada investor pengelola pabrik energi biomassa.

Limbah pertanian tersebut kemudian diolah menjadi biogas, diproses dalam unit penghilangan CO₂, dan dilanjutkan dengan tahap liquefaction untuk menghasilkan Liquified Bio Gas (LBG).

Produk utama berupa LBG berfungsi sebagai bahan bakar alternatif pengganti LPG, sedangkan produk sampingan berupa pupuk-bio dapat dimanfaatkan kembali oleh petani.

Berdasarkan perencanaan teknis, kapasitas produksi pabrik ditargetkan mencapai 3.450 ton LBG dan 5.175 ton pupuk-bio per tahun. Pengolahan tersebut diproyeksikan mampu menekan emisi karbon hingga 256.700 ton CO₂e per tahun, sekaligus mendukung target nasional dalam menurunkan emisi gas rumah kaca.

Selain itu, proyek ini memiliki keunggulan strategis karena didukung oleh skema offtaker yang jelas, sehingga produk LBG dan pupuk-bio telah memiliki pasar yang pasti.

Tidak hanya berdampak pada lingkungan, proyek ini juga memberikan manfaat ekonomi yang luas.

Masyarakat akan memperoleh pendapatan langsung melalui penyerapan tenaga kerja di sektor pengumpulan, transportasi, dan pemrosesan limbah, serta pendapatan tidak langsung melalui keterlibatan dalam rantai pasok.

Di sisi lain, tumbuhnya industri pengolahan limbah juga mendorong berkembangnya usaha lokal seperti penyedia jasa angkut, bengkel, serta pelaku usaha kecil di sekitar kawasan produksi.

Abdul Munib menegaskan adapun lokasi yang disiapkan sebagai kawasan pengembangan berada di tiga titik potensial, yakni KPI Tanggungharjo, KPI Kedungjati, dan KPI Gubug sebagai alternatif.

Ketiga wilayah tersebut dipilih karena memiliki ketersediaan bahan baku melimpah, akses transportasi yang baik, serta dukungan kelembagaan kelompok tani yang aktif.

Pemerintah daerah bersama Bappeda, Bank Indonesia, dan tim teknis kini tengah mematangkan aspek legalitas, hukum, dan kelembagaan agar proyek dapat segera ditawarkan kepada investor nasional maupun internasional.

“Proyek ini bukan sekadar inovasi energi, tetapi model pembangunan hijau yang mengintegrasikan pertanian, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat. Dari bonggol jagung, Grobogan membuktikan bahwa limbah pun bisa bernilai tinggi jika dikelola dengan cerdas. Kami optimistis, Grobogan akan menjadi pionir energi bersih berbasis pertanian di Jawa Tengah,” ujar Abdul Munib Susanto.

Dengan keberhasilan ini, Grobogan menegaskan diri sebagai kabupaten yang siap bertransformasi dari lumbung jagung menjadi lumbung energi hijau, menempatkan sektor pertanian tidak hanya sebagai penyokong pangan, tetapi juga sebagai sumber energi masa depan yang berkelanjutan. (int)

Editor : Mahendra Aditya
#grobogan #bonggol jagung #sumber energi bersih