GROBOGAN – Kabupaten Grobogan kembali mencatatkan prestasi membanggakan di bidang pendidikan lingkungan.
Sebanyak 11 sekolah berhasil lolos sebagai penerima Penghargaan Sekolah Adiwiyata Provinsi Jawa Tengah 2025. Prestasi ini bukan sekadar seremoni, tetapi cerminan komitmen sekolah-sekolah di Grobogan dalam mengembangkan budaya cinta lingkungan sejak dini.
Tak hanya ada nama-nama baru, tiga sekolah bahkan sukses memperpanjang status Adiwiyata mereka, membuktikan bahwa konsistensi menjaga lingkungan bukan hanya slogan.
Konsistensi Grobogan Jadi Panutan
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Grobogan, Mokamat, melalui Kabid Penataan dan Peningkatan Kapasitas, Gunawan Widiyanto, menjelaskan bahwa pada tahun sebelumnya Pemkab mengajukan 11 sekolah untuk mengikuti seleksi Adiwiyata Provinsi.
Dari jumlah itu, tiga sekolah memilih perpanjangan status karena masa berlaku penghargaan sebelumnya habis pada 2025.
Ketiga sekolah tersebut adalah:
-
SMAN 1 Wirosari
-
SMPN 1 Gubug
-
SMPN 2 Pulokulon
Gunawan menegaskan, perpanjangan status ini bukan otomatis diberikan, tetapi melalui penilaian ketat. Artinya, sekolah-sekolah ini mampu mempertahankan standar pengelolaan lingkungan sesuai kriteria Adiwiyata.
Daftar Lengkap 11 Sekolah Peraih Adiwiyata 2025
Selain tiga sekolah yang memperpanjang status, ada sembilan sekolah lain yang resmi menyandang predikat Sekolah Adiwiyata Provinsi 2025.
Berikut daftar lengkapnya:
-
SDN 1 Ringinkidul
-
SDN 1 Tambakan
-
SDN 1 Gundih
-
SDN 1 Ngombak
-
SMPN 5 Grobogan
-
SMPN 2 Gubug
-
SMPN 3 Karangrayung
-
SMPN 1 Kedungjati
-
SMPN 1 Gubug
Yang paling menonjol, SMPN 5 Grobogan berhasil meraih predikat Pelaksana Terbaik Ketiga se-Jawa Tengah, menandakan bahwa program peduli lingkungan yang mereka jalankan menjadi salah satu yang paling inspiratif di tingkat provinsi.
Apa Itu Sekolah Adiwiyata?
Banyak masyarakat yang mungkin hanya mendengar nama “Adiwiyata” tanpa benar-benar memahami maknanya. Adiwiyata adalah program nasional yang bertujuan mewujudkan sekolah berbudaya lingkungan, dengan indikator yang meliputi:
-
Integrasi pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum
-
Partisipasi aktif siswa, guru, dan warga sekolah
-
Pengelolaan sarana prasarana yang ramah lingkungan
-
Penerapan Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (GPBLHS) minimal selama satu tahun terakhir
Artinya, sekolah yang mendapat predikat Adiwiyata bukan hanya melakukan penghijauan atau menanam pohon, tetapi membangun sistem pembelajaran dan budaya sekolah yang menanamkan kepedulian lingkungan secara menyeluruh.
Lebih dari Sekadar Penghargaan
Gunawan menambahkan, capaian ini tidak hanya soal piala atau piagam penghargaan. “Harapannya, semakin banyak sekolah berstatus Adiwiyata, semakin kuat pula budaya peduli lingkungan yang tumbuh di masyarakat,” ujarnya.
Ia menekankan, anak-anak yang terbiasa memilah sampah, merawat taman sekolah, dan menghemat air sejak kecil akan tumbuh menjadi generasi yang sadar pentingnya menjaga bumi.
“Ini investasi jangka panjang. Kita sedang membentuk karakter generasi masa depan,” tegasnya.
Dampak Nyata bagi Masyarakat
Keberhasilan Grobogan mempertahankan dan menambah jumlah sekolah Adiwiyata menunjukkan bahwa program ini berdampak luas. Tak hanya sekolah yang menjadi lebih hijau, tetapi masyarakat sekitar pun merasakan manfaatnya:
-
Lingkungan sekitar sekolah lebih bersih dan sehat
-
Masyarakat mulai meniru kebiasaan siswa dalam mengelola sampah
-
Tercipta ruang belajar yang lebih nyaman dan produktif
-
Guru dan orang tua ikut aktif menjaga keberlanjutan program
Dengan kata lain, Adiwiyata telah menjadi gerakan bersama yang melampaui pagar sekolah.
Tradisi yang Terus Berlanjut
Grobogan dikenal konsisten dalam mengikuti program ini setiap tahun. Keberhasilan sembilan sekolah baru di 2025 melanjutkan tren positif yang sudah dibangun sejak beberapa tahun terakhir.
“Ini bukti bahwa Grobogan bukan hanya ikut-ikutan, tetapi serius menjadikan pendidikan lingkungan sebagai prioritas,” ungkap Gunawan. Konsistensi ini menempatkan Grobogan sebagai salah satu kabupaten yang paling aktif mendukung pendidikan berwawasan lingkungan di Jawa Tengah.
Tantangan ke Depan
Meski capaian ini patut dirayakan, tugas belum selesai. DLH menargetkan agar lebih banyak sekolah di Grobogan yang mengikuti program Adiwiyata tahun depan.
Selain itu, perlu ada inovasi agar kegiatan peduli lingkungan tidak hanya bersifat formalitas, tetapi benar-benar mengakar dalam kebiasaan warga sekolah.
Misalnya, pengembangan bank sampah digital, pembuatan kebun hidroponik sekolah, hingga penggunaan energi terbarukan seperti panel surya.
Dengan begitu, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga laboratorium hidup yang mengajarkan keberlanjutan.
Prestasi 11 sekolah di Grobogan yang berhasil lolos sebagai Sekolah Adiwiyata Provinsi 2025 adalah bukti nyata bahwa pendidikan lingkungan bisa dijalankan secara konsisten.
Bukan hanya soal menjaga taman sekolah tetap hijau, tetapi bagaimana membentuk karakter generasi yang peduli lingkungan.
Dengan langkah ini, Grobogan selangkah lebih maju menuju visi kabupaten hijau dan berkelanjutan. Ke depan, semoga lebih banyak sekolah yang ikut berkontribusi agar budaya peduli lingkungan benar-benar menjadi gaya hidup masyarakat.
Editor : Mahendra Aditya