GROBOGAN – Sebanyak 142 pemandu karaoke dan pengelola kafe di kawasan Letter S, Grobogan, menjalani skrining HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS) lainnya melalui layanan Voluntary Counselling and Testing (VCT) mobile.
Kegiatan berlangsung mulai malam hingga jelang tengah malam, menyasar 14 kafe karaoke yang beroperasi di kawasan tersebut.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Grobogan menggandeng tim VCT Puskesmas Toroh 1, Yayasan Soko Guru, Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Grobogan, Komunitas L-Paska, serta aparat keamanan untuk memastikan pelaksanaan berjalan aman dan lancar.
“VCT kami lakukan dengan metode skrining cepat diagnostik HIV whole blood. Sebagian sampel diperiksa langsung di Puskesmas Toroh 1, sebagian lainnya dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan lanjutan,” jelas Plt Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinkes Grobogan, Gunawan Cahyo Utomo.
Apabila hasil skrining menunjukkan reaktif atau positif, petugas langsung memberikan konseling dan edukasi kepada yang bersangkutan maupun pihak pengelola tempat hiburan.
Pasien kemudian diarahkan untuk memulai pengobatan di puskesmas terdekat. Menurut Gunawan, pendekatan dilakukan secara persuasif agar pasien mau menjalani pengobatan secara rutin dan konsisten.
Diungkapkan, tak hanya di Toroh, program VCT mobile juga sudah berjalan di wilayah Purwodadi Kota, Gubug, Pulokulon, Wirosari, dan Tawangharjo.
Ke depan, cakupan skrining akan diperluas ke seluruh wilayah Grobogan yang memiliki tempat hiburan malam.
Skrining ini tidak hanya menyasar kafe karaoke, tetapi juga lokalisasi dan kelompok berisiko tinggi lainnya.
Berdasarkan data Dinkes Grobogan, sejak 2002 hingga 2025 tercatat 1.991 kasus HIV dengan 590 penderita meninggal dunia.
Untuk periode Januari–Juni 2025 saja, sudah terdeteksi 118 kasus baru.
Gunawan menegaskan, menjamurnya tempat hiburan malam menjadikan kelompok pekerja di sektor tersebut sebagai populasi kunci penularan HIV/AIDS.
Oleh karena itu, deteksi dini melalui VCT sangat penting untuk memutus mata rantai penularan.
“Harapan kami, Three Zero HIV/AIDS 2030 bisa tercapai. Nol kasus baru, nol kematian akibat HIV/AIDS, dan nol diskriminasi terhadap penderita,” pungkasnya. (int)
Editor : Ali Mustofa