GROBOGAN - Kabar baik bagi ibu hamil di Grobogan! Mulai tahun ini, pemeriksaan kehamilan atau Antenatal Care (ANC) di puskesmas bisa dilakukan hingga delapan kali selama masa kehamilan.
Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Grobogan untuk menekan angka kematian ibu (AKI).
Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Grobogan dr Wahyu Tri Haryadi mengatakan, peningkatan frekuensi pemeriksaan ini diharapkan bisa mendeteksi lebih awal risiko-risiko kehamilan yang berbahaya.
Diketahui, jika sebelumnya pemeriksaan USG hanya dapat dilakukan di RS atau klinik. Sejak dua tahun terakhir ibu hamil sudah dapat melakukan pemeriksaan di puskesmas.
Baca Juga: Ini Cara TERBARU Daftar & Cek SIPP BPJS Ketenagakerjaan, Tak Perlu Bingung Lagi!
"Pemeriksaan tersebut terbagi dalam tiga tahap, yaitu satu kali pada trimester pertama, dua kali pada trimester kedua, dan lima kali pada trimester ketiga.
Dengan pemeriksaan yang lebih rutin, potensi komplikasi dan risiko kehamilan bisa dideteksi sejak dini, sehingga keselamatan ibu dan bayi lebih terjamin," jelasnya.
Perubahan ini juga didukung dengan peningkatan fasilitas di layanan primer. Sebanyak 30 puskesmas di Grobogan kini telah dilengkapi alat ultrasonografi (USG), sehingga ibu hamil tidak lagi harus ke rumah sakit atau klinik swasta hanya untuk mendapatkan pemeriksaan USG.
Pemeriksaan oleh dokter pun sudah bisa dilakukan di tingkat puskesmas, menjadikannya lebih mudah diakses oleh masyarakat.
Menurut dr Wahyu, langkah ini sudah menunjukkan hasil. Selama periode Januari hingga Juni 2025, tercatat enam kasus kematian ibu di Grobogan.
Sebagian besar disebabkan oleh kondisi serius seperti eklamsia, preeklampsia, perdarahan, komplikasi persalinan, dan kelainan jantung bawaan.
Ia menambahkan bahwa sebagian besar kasus tersebut terjadi pada ibu berusia antara 22 hingga 35 tahun, dengan risiko lebih tinggi pada usia di atas 30 tahun. Pada usia tersebut, sering kali terjadi perburukan kondisi kesehatan baik pada ibu maupun janin.
Meski demikian, dr Wahyu mengakui bahwa menekan angka kematian ibu bukan pekerjaan mudah.
Diperlukan peran aktif dari seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga hingga lingkungan sekitar.
Sebab, selain faktor medis, penyebab kematian ibu juga seringkali berkaitan dengan kondisi sosial dan ekonomi, serta minimnya asupan gizi selama kehamilan.
Dengan keterlibatan semua pihak, serta peningkatan kualitas layanan kesehatan di puskesmas, diharapkan kasus kematian ibu bisa terus ditekan.
Edukasi dan kesadaran untuk rutin memeriksakan kehamilan menjadi kunci utama keselamatan ibu dan bayi.(int)
Editor : Mahendra Aditya