GROBOGAN - Badan Geologi Kementerian ESDM dari Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) akhirnya memaparkan hasil penyelidikan lithium di Bledug Kuwu, Kecamatan Kradenan, Grobogan.
Hasil 2024 tersebut berbeda dibanding 2023 lalu. Perbedaan hasil tersebut membuat Cabang Dinas ESDM Wilayah Kendeng Selatan mengharapkan adanya penelitian lanjutan.
Hal itu diungkapkan Plt Kepala Cabang Dinas ESDM Wilayah Kendeng Selatan Provinsi Jateng, Sinung Sugeng Arianto.
Hasil yang sudah dipaparkan belum bisa menjelaskan berapa cadangan yang didapat. Baik cadangan tereka, terukur maupun hipotetik.
"Minimal ada hasil terkait cadangan tereka, sehingga potensinya berapa bisa dijabarkan. Setelah mengerucut ke berapa besar cadangan, tentunya akan mempermudah Pemkab Grobogan untuk membuka peluang investasi dan masuk dalam Rencana Strategis (Renstra) daerah," imbuhnya.
Menurutnya, penyelidikan kali kedua ini masih bersifat kualitatif. Sehingga hasil yang dipaparkan sebatas adanya potensi lithium.
"Pengambilan sampel masih belum seragam, sehingga memunculkan perbedaan kadar lithium di setiap titik," keluh Sinung.
Diungkapkan, pengambilan sampel lithium ini bisa diambil menjadi beberapa sampel. Mulai dari dalam bebatuan, lumpur hingga di dalam brine water.
"Untuk pengukuran brine water itu kan ada dua jenis, yaitu saat diambil dari pusat semburan langsung tanpa perlakuan khusus langsung diukur kadarnya. Kemudian ada juga melalui model presipitasi dulu," ujarnya.
"Jadi kadar garam dilepaskan atau di pisah. Air dari sisa pengendapan air itu konsentrasinya tinggi. Sehingga mineral sisanya yang ada di air itu (termasuk lithium) konsentrasinya jadi tinggi," jelasnya.
Dalam penyelidikan lalu masih dicampur. "Kemarin dicampur, ternyata ada yang diukur langsung dari mata air dan ada yang diambil melalui treatment," imbuhnya.
Perbedaan metode ini menyebabkan hasil yang tidak konsisten dan membingungkan masyarakat yang berharap akan hasil signifikan.
"Adanya penurunan kadar lithium ini pasti akan ada pertanyaan dari masyarakat. Padahal kenyataannya karena ada perbedaan teknis pengukuran pengambilan sampel," imbuhnya.
Sinung berharap adanya penyeragaman pengambilan sampel. Di mana sebaiknya pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah dilakukan treatment.
"Hasil penyelidikan umum kemarin memang masih dini. Sehingga dikhawatirkan tidak adanya kelanjutan penelitian dari Badan Geologi. Padahal diharapkan adanya kelanjutan penyelidikan lagi. Kalau hanya sampai di penelitian saat ini, berarti hampir sama dengan penelitian-penelitian sebelumnya," paparnya.
Sehingga hasil penyelidikan kali ini belum bisa dipakai untuk pemetaan perkembangan ke depan dalam menggaet investor masuk ke wilayah Grobogan.
Sedangkan Kepala Bappeda Grobogan Afi Wildani menambahkan, Pemkab Grobogan mendukung penuh keberlanjutan eksplorasi.
Menurutnya, jika lokasi dan sebaran potensi lithium bisa dipastikan, maka Pemkab dapat menjadikannya acuan dalam penyesuaian RTRW.
"Saat ini kawasan Bledug Kuwu masih tercantum sebagai wilayah pariwisata. Selama belum ada kepastian potensi, kami belum bisa mengubah peruntukannya menjadi kawasan pertambangan," imbuhnya.
Menurut Afi, selama ini Bledug Kuwu ini ya masih kawasan Pariwisata mengarah ke induk Geologi.
"Kalau pola ruangnya memang masih Pariwisata," imbuhnya. (int)
Editor : Ali Mustofa