GROBOGAN - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akhirnya memaparkan hasil penyelidikan umum potensi kandungan lithium dan boron di Bledug Kuwu.
Terdapat perbedaan hasil antara penelitian pada 2023 dan 2024.
Hal itu diungkapkan Penyelidik Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM Agatha Vanesa secara daring dalam Diseminasi Hasil Penelitian Kabupaten Grobogan Tahun 2024 di Gedung Riptaloka.
"Pada 2023 kami menemukan kadar lithium di Grobogan tinggi. Di Bledug Kuwu, dari 138,64 PPM, jika dikeringkan kadar lithium naik mencapai 1110 PPM. Saat itu air dan garam sudah dipisahkan, ternyata hasilnya tinggi," jelasnya.
Kemudian pada 2024 melakukan penyelidikan umum di lima kecamatan.
Pembedanya, kali ini belum dipisahkan antara air dan garam. Sehingga ditemukan hasil yang berbeda. Di Bledug Kuwu kadar lithium hanya 36-135 PPM.
"Hasil penyelidikan geokimia, pengambilan sampel memang tidak banyak mengambil hasil dari brine water. Sehingga hasil kadar lithium kecil 135 PPM sedangkan boron 408 PPM. Sehingga potensi ada, namun harus dipisahkan terlebih dulu," jelasnya.
Tim juga menemukan sekitar Bledug Kuwu terdapat tuban formasi atau batu pasir kuarsa selang-seling dengan batugamping dan batulempung.
Menurutnya, keberadaan mineral kritis ini menjadi prioritas saat ini. Karena lithium banyak dicari dijadikan baterai mobil listik. Baterai yang dibutuhkan 5 kg atau 3 persen lithium.
Sedangkan Kepala Tim Ahli Geofisiki Dzil Mulki Heditama menambahkan, hasil penyelidikan geologi, geokimia, dan geofisika di Kabupaten Grobogan menunjukkan beberapa hasil antaranya di lokasi penyelidikan terdapat dua satuan batuan berupa endapan aluvial dan batulempung
Kadar lithium paling tinggi ditemukan di Bledug Kuwu, sampel air (36-135 ppm); sampel lumpur (76 – 645 ppm) dan Bledug Cangkring, sampel air (53-665 ppm); sampel lumpur (59–106 ppm).
"Tren kurva gravity (completed bouger anomaly) menunjukkan sedikit penurunan di daerah Bledug Kuwu. Hal ini diinterpretasikan terjadinya penurunan densitas batuan di sekitar daerah Bledug Kuwu yang mungkin dipengaruhi keberadaan struktur geologi," ujarannya.
Selain itu, pola anomali magnetik (reduce to pole) memperlihatkan adanya peningkatan nilai magnetik di bagian tengah area penyelidikan (Bledug Kuwu) dan menerus ke bagian selatan.
"Pola anomali magnetik tinggi tersebut diinterpretasi berkaitan dengan keberadaan kandungan mineral logam yang terdapat di bawah permukaan," imbuhnya.
Kemudian, penampang magnetotellurik (MT) bagian utara-selatan memperlihatkan sebaran resistvitas rendah di bagian dekat permukaan hingga kedalaman sekitar 2500 meter.
"Pada lintasan ini diinterpretasi terdapat pola struktur di dekat Bledug Kuwu. Sebaran resistivitas rendah di lintasan barat-timur lebih tebal hingga kedalaman 4000 meter. Pola struktur di lintasan barat-timur diinterpretasi berada di arah timur lintasan," jelasnya.
Dzil menyebut diperlukan tindak lanjut kegiatan berupa pengeboran uji untuk mengetahui informasi bawah permukaan yang lebih akurat.
"Masih ada beberapa langkah lagi yang kami lakukan. Memang potensinya sudah terkonfimasi ada. Mungkin ke depan butuh dua kali kegiatan lagi melalui beberapa penelitan. Sehingga bisa mengetahui seberapa banyaknya lithium di Kabupaten Grobogan," jelasnya. (int)
Editor : Ali Mustofa