Grobogan, Radar Kudus – Bencana banjir kembali melanda Dusun Mintreng, Desa Baturagung, Kecamatan Gubug, setelah tanggul Sungai Tuntang jebol untuk keempat kalinya dalam tahun ini.
Kejadian ini terjadi pada Minggu (9/3) sekitar pukul 10.00 WIB, setelah hujan deras mengguyur wilayah Tuntang, Salatiga, dan sekitarnya.
Kabid Kedaruratan dan Kebencanaan BPBD Grobogan, Masrican, menjelaskan bahwa sebelumnya tanggul sudah mengalami kebocoran kecil di empat titik.
Kali ini, tanggul jebol dengan lebar sekitar 25-30 meter setelah mulai rembes sejak pukul 07.00 WIB.
“Jebolnya tanggul berdampak luas, termasuk ke Desa Ringinkidul yang bersebelahan. Saat ini kami telah mengevakuasi sekitar 50 warga ke Gereja Ringinkidul,” ujarnya.
Evakuasi dan Dampak Luapan Sungai
Bupati Grobogan, Setyohadi, turun langsung ke lokasi bencana dan meminta warga yang tinggal di sekitar tanggul untuk segera mengungsi, terutama kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak. Namun, banyak warga yang enggan meninggalkan rumah mereka.
Selain Desa Baturagung dan Ringinkidul, banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang juga merendam beberapa wilayah lain di Kecamatan Gubug.
Di Desa Penadaran, genangan air setinggi 50-100 cm berdampak pada sekitar 400 kepala keluarga. Sementara itu, di Desa Papanrejo, jalur kereta api lintas 32+6/7 terpaksa ditutup sementara akibat rembesan air.
Tidak hanya Sungai Tuntang, tanggul Sungai Kliteh di Kecamatan Tegowanu juga mengalami jebol selebar lima meter di Desa Sukorejo. Meski demikian, air di daerah tersebut sudah mulai surut.
Banjir Meluas ke Enam Kecamatan
Hujan deras pada Jumat-Sabtu (7-8/3) turut menyebabkan luapan air dari hulu Sungai Lusi dan Sungai Glugu. Data BPBD Grobogan mencatat bahwa banjir telah merendam 21 desa di enam kecamatan, yakni Toroh, Purwodadi, Tawangharjo, Kedungjati, Gubug, dan Tegowanu.
Total warga terdampak mencapai 2.174 kepala keluarga atau sekitar 7.065 jiwa.
Di Kecamatan Toroh, banjir menggenangi jalan raya Desa Boloh-Kenteng serta halaman Puskesmas II Toroh dengan ketinggian air mencapai 20-50 cm.
Sementara itu, di Kecamatan Purwodadi, air merendam beberapa lingkungan di Kelurahan Purwodadi seperti Kemasan, Banaran, Jajar, Jengglong Timur, Kebondalem, Jetis, dan Ngabean, dengan ketinggian antara 10-40 cm.
Di Kelurahan Kalongan, banjir menggenangi Perumahan Permata Hijau dan beberapa jalan dengan ketinggian 10-40 cm.
Sementara di Lingkungan Mekarsari, Ganesha, dan Palembahan, air mencapai 30-50 cm. Meski air mulai surut, sejumlah rumah dan jalan masih terendam.
Dampak pada Infrastruktur dan Pertanian
Banjir juga menyebabkan genangan di Perumahan Griya Citra Dewata, Desa Karanganyar, dengan ketinggian 20-30 cm.
Sementara di Kecamatan Tawangharjo, Desa Jono yang dikenal sebagai daerah penghasil garam ikut terendam banjir setinggi 15-40 cm.
Kondisi ini mengancam hasil produksi garam dan mengganggu aktivitas warga.
Di Kecamatan Kedungjati, banjir terjadi di beberapa desa seperti Kedungjati dan Klitikan, meskipun air sudah mulai surut.
Hal serupa juga terjadi di Panimbo, Kentengsari, Padas, Deras, Ngombak, Wates, Jumo, Kalimaro, dan Karanglangu.
Langkah Antisipasi dan Penanganan
BPBD Grobogan terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menangani dampak banjir dan mempercepat proses evakuasi.
Bantuan logistik dan kebutuhan dasar mulai disalurkan ke daerah terdampak, sementara tim teknis bekerja untuk memperbaiki tanggul yang jebol guna mencegah banjir lebih lanjut.
Pemerintah daerah mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap kemungkinan banjir susulan mengingat curah hujan masih tinggi.
Masyarakat yang tinggal di sekitar tanggul Sungai Tuntang dan daerah rawan lainnya diminta untuk segera mengungsi jika terjadi peningkatan debit air yang signifikan.(int)
Editor : Mahendra Aditya