GROBOGAN - Memasuki pekan ke-15 atau pertanggal (21/4), data kasus kematian yang disebabkan oleh demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Grobogan mencapai 12 orang.
Angka rata-rata kematian kasar tersebut ialah 3,05 persen.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Grobogan melalui Sub Koordinator Penanggulangan Penyakit Menular (P2M) Dinkes Grobogan Gunawan Cahyo Utomo Kamis (25/4).
Secara global, berdasarkan jumlah surat atau laporan kewaspadaan dini rumah sakit (KDRS) diketahui mencapai 1058.
Sementara itu yang menjadi demam dengeu sejumlah 596.
Demam berdarah dengeu (DBD) sejumlah 376. Serta dengeu shock syndrome (DSS) 18 kasus.
Gun sapaan akrabnya menyebut, demam Dengue dapat mengakibatkan dua kondisi, yaitu demam dengue maupun demam berdarah dengue (DBD).
"Tahap awal kedua kondisi ini memiliki gejala yang mirip. Bedanya demam berdarah dengue dapat menyebabkan gejala yang berat, sedangkan demam dengue biasanya hanya menimbulkan gejala ringan," sebutnya.
Adapun langkah penangaggulangan untuk menurunkan kejadian atau kasus DBD di antaranya ialah dengan penyelidikan epidemiologi setiap kasus DBD di wilayah yang terjadi.
"Ini dilakukan untuk mengkaji sumber penularan, faktor risiko penularan DBD. Serta edukasi terhadap masyarakat dan pemangku kebijakan setempat untuk gerakan PSN dan pembagian larvasida pada lingkup rumah tangga," jelasnya.
Foging Focus di lokasi kejadian kasus DBD yang memenuhi kriteria foging dimaksudkan untuk menurunkan populasi nyamuk dewasa.
Meskipun tidak efektif akan tetapi berguna untuk menurunkan psikologis masyarakat yang cemas karena kejadian kasus DBD di lingkungannya.
"Anak-anak dapat diarahkan untuk memakai lengan panjang maupun lotion anti nyamuk ketika keluar rumah," ujarnya.
Upaya deteksi dini dan kewaspadaan pada kasus berobat di layanan kesehatan perlu dilakukan.
Baik di tingkat puskesmas, rumah sakit, maupun klinik.
Khususnya bagi kasus anak demam lebih dari 2-3 hari agar cek laboratorium darah lengkap atau pemeriksaan rapid tes DBD.
"Hal ini dimaksudkan untuk memperjelas gejala. Supaya tidak terjadi keterlambatan penanganan yang berujung ke DSS," tandasnya.
Terpisah, Kepala Seksi Pelayanan Medik Rawat Jalan, Gawat Darurat & Sumber Daya Manusia RSUD R Soedjati Purwodadi, Eros Budi Setiawan mengatakan per (23/4) terdapat 17 yanh sedang dirawat inap.
"Di bangsal Gladiol, Dahlia dan Seruni ada 15. Sementara di bangsal VIP Teratai ada 2 orang. Hanya satu kasus yang diderita oleh orang dewasa," ungkapnya.
Salah satu keluarga pasien, Puji Lestari Ningsih warga Desa Pojok, Tawangharjo menceritakan gejala yang dialami anaknya sudah hampir seminggu.
"Demam, kepala pusing, mencret, dan muntah. Sebelumnya Jumat (19/4) sudah rawat jalan di Puskesmas. Tapi Selasa (23/4) mimisan di sekolah kemudian dilakukan cek laboratorium sehingga dirujuk ke RSUD sini," terangnya memberi penjelasan terhadap anaknya yang masih duduk di bangku kelas 6 SD. (fik/khim)
Editor : Abdul Rokhim