GROBOGAN – Kepala Pelaksana BPBD Grobogan, Endang Sulistyoningsih menyebutkan jika Kabupaten Grobogan rawan banjir.
Hal itu dipicu selain curah hujan yang tinggi, juga daerah resapan air berkurang.
"Selain karena curah hujan yang tinggi, daerah resapan air (baik hulu maupun hilir, Red) berkurang," ujarnya saat mengisi acara "Pelatihan Peningkatan Kapasitas Relawan dalam Penanggulangan Bencana" di Rumah Kedelai Grobogan, Rabu (27/3) siang.
Menurutnya, usai guyur hujan deras selama hampir dua jam (Sejak Selasa Magrib hingga pukul 20.00, Red) sejumlah jalan protokol di Purwodadi terendam banjir.
Berdasarkan pantauan wartawan, Jalan Bhayangkara dan sekitar alun-alun tergenang air setinggi 50 sentimeter.
Lalu lintas sempat tersendat bahkan di depan pendopo kabupaten kendaraan tidak berani lewat. Namun sebelum pukul 00.00 kondisi jalan telah surut.
Kabid Cipta Karya Dinas PUPR Grobogan Ahmad Taufik Nur menjelaskan fenomena banjir yang biasa orang sebut sebagai "banjir lewat".
"Terjadi antren air yang masuk ke saluran drainase," ungkapnya.
Hal tersebut disebabkan dengan adanya sumbatan maupun endapan lumpur yang masuk ke saluran drainase.
"Daun-daun masuk ke inlet atau lubang yang berada pada sisi-sisi jalan yang berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air hujan. Sehingga fungsinya kurang berjalan dengan baik," terangnya.
Lebih lanjut Taufik menyampaikan pihaknya telah melakukan normalisasi saluran air bahkan sejak akhir tahun 2023.
"Satu tahun itu dilakukan pembersihan saluran air 2-3 kali. Sementara untuk tahun 2024 ini dilakukan pencatatan database secara umum meliputi dimensi, endapan maupun kerusakan," terangnya.
"Sehingga pada tahun depan dapat disampaikan sebagai Grand Master Plan Drainage Kawasan Purwodadi di musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang)," imbuhnya.
Berdasarkan pantauan wartawan pada Kamis (28/3) siang, delapan orang pekerja sedang membersihkan gorong-gorong atau saluran drainase di kawasan Alun-alun Purwodadi.
Diketahui saluran yang ada merupakan saluran tertutup.
Para pekerja kompak membersihkan lumpur dari bawah saluran hingga bisa dimasukkan ke dalam karung.
Ratusan karung dengan kapasitas 50 kilogram dijadikan sebagai wadah untuk menampung endapan.
"Lumpur di bawah mencapai sebetis," celetuk Sulis selaku pekerja.(fik/ali)
Editor : Ali Mustofa