Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tak Seperti Tahun-tahun Sebelumnya, Boyong Grobog Hari Jadi ke-289 Grobogan Hadirkan Konsep Berbeda, Begini Acaranya!

Sirojul Munir • Sabtu, 2 Maret 2024 | 18:09 WIB

 

MERIAH: Arak-arakan prosesi boyong grobog dalam salah satu rangkaian Hari Jadi Grobogan tahun lalu.
MERIAH: Arak-arakan prosesi boyong grobog dalam salah satu rangkaian Hari Jadi Grobogan tahun lalu.

GROBOGAN - Acara Boyong Grobog di Hari Jadi ke-289 Grobogan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya.

Kegiatan rutin tahunan sebagai penanda perpindahan ibu kota kabupaten dari Kecamatan Grobogan ke Kota Purwodadi ini, akan digelar secara meriah besok.

Bupati Grobogan Sri Sumarni bersama Wakil Bupati Grobogan Bambang Pudjiyanto, forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda), serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait akan membawa grobog (kotak kayu penyimpan senjata) dari Kecamatan Grobogan diarak ke Kecamatan Purwodadi.

Sebelum diboyong ke Kota Purwodadi, ada acara seserahan sebagai tanda kepindahan ibu kota Kabupaten Grobogan.

Usai acara seserahan, bupati dengan memakai pakaian adat Jawa bersama rombongan menggunakan kereta kuda kencana.

Bersama anggota keluarga itu, akan diarak rombongan dari kereta kuda perwakilan OPD dan anggota dewan dari Grobogan ke Purwodadi.

Rombongan juga ada manggoloyudo, pasukan kerajaan keratin, sekar kedaton, dan paguyuban pusaka Grobogan.

Setelah sampai di Kecamatan Purwodadi akan disambut di pendapa kabupaten.

”Sebelum masuk area pendapa kabupaten, bupati melakukan ritual wijian (cuci tangan dan kaki) serta penyerahan senjata keris Kiai Sengkelat sebagai tanda perpindahan ibu kota Grobogan di Purwodadi,” kata Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Grobogan Edi Santoso.

Setelah ritual wijian di depan gerbang pendapa, dilanjutkan dengan penyerahan grobog dan senjata keris Kiai Sengkelat.

Prosesi penyerahan itu, merupakan tanda perpindahan ibu kota Grobogan yang sudah berusia 289 tahun.

”Prosesi acara penyerahan grobog dan keris Kiai Sengkelat hanya sebentar di pendapa. Kemudian dilanjutkan doa bersama di Alun-alun Purwodadi. Usai doa ada rebutan gunungan yang jumlahnya 21," ujarnya.

"Rinciannya, 19 dari kecamatan, satu dari Disporabudpar, serta satu dari Kelurahan Grobogan. Juga ada makan bersama 310 tumpeng yang disiapkan,” lanjutnya.

Tumpeng 310 itu, dari 273 desa, tujuh kelurahan se-Kebupaten Grobogan, dan 30 OPD.

Setiap kecamatan membawa satu gunungan dan setiap desa atau kelurahan membawa satu tumpeng.

”Dalam prosesi ini, semua kepala desa, camat, kepala OPD, dan tamu undangan membawa pakaian daerah. Yaitu memakai beskap untuk laki-laki dan kebaya untuk perempuan,” ujarnya.

Edi menambahkan, acara Boyong Grobog ini, akan meriah karena akan merebutkan 310 gunungan untuk masyarakat umum.

Namun, dia meminta agar warga yang ikut berebut gunungan setelah doa bersama selesai dan dengan tertib.

”Harapannya tentu ke depan agar Kabupaten Grobogan aman, tentram, rukun, maju, serta gemah ripah lohjonawi. Maju kotannya, perekonomian meningkat, serta rakyatnya makin sejahtera,” harapnya. (mun/lin)

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#grobogan #kirab budaya #tumpeng #hari jadi #boyong grobog