Sebagai langkah awal pada 26 Syawal kemarin, pihak Keraton Surakarta melalui paguyuban kraton Surakarta Hadiningrat (Pakasa) mengadakan ziarah di makam tersebut. Hal ini merupakan pertama kalinya dilakukan dan akan dijadikan agenda tahunan.
Kepala Desa Ngembak Awang Ayuda Diswara menjelaskan mantan bupati Grobogan itu memiliki jasa besar. Salah satunya kekayaan intelektual berupa trilogi pedesaan. Yakni mencetuskan agar desa-desa memiliki sekolah, balai desa, dan lumbung.
“Hal itu kemudian diterapkan di desa-desa lain. Dari sebelum merdeka hingga sekarang,” katanya.
Menurutnya makam tersebut kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah kabupaten. Misalnya, tidak menjadi makam yang diziarahi saat peringatan hari jadi kabupaten Grobogan. Padahal makam-makam bupati lainnya menjadi sasaran ziarah saat momentum hari jadi.
Selain itu bentuk diskriminasi lain terhadap makam mantan Bupati Grobogan itu yakni dengan menjadikan areal sekitar makam justru menjadi tempat pembuangan akhir sampah. Sehingga membuat lokasi tersebut tercium bau menyengat sampah.
Untuk itu, kini pihaknya berupaya membuka lagi catatan sejarah dan merevitalisasi makam tersebut. Agar lebih terawat.
“Hari ini kami mendapatkan support dari keraton Surakarta. Harapannya setiap tahun ada. Kami juga sudah bersurat ke bupati terkait upaya revitalisasi. Nanti Apitan akan ada haul beliau," tuturnya.
Ketua pakasa KPRP Joko Wasis Sonto Adi Nagoro menyebut Kanjeng Pangeran Haryo Soenarto itu dipercaya masih keturunan trah Kraton. Beliau disebut sebagai bupati terlama. Karena menjabat selama 25 tahun.
Dalam ziarah itu dimulai dengan berjalan beriringan. Ziarah dimulai dengan tahlil, pembacaan sholawat hingga syahadat. Menurutnya hal tersebut merupakan kali pertama para Pakasa berziarah ke makam tersebut. Dan rencananya ke depan akan dijadikan agenda tahunan.
“Kami sebagai penerus memiliki tanggung jawab menguri-uri. Karena beliau keluarga keraton dan memiliki jasa besar,” imbuhnya. (tos/mal) Editor : Ali Mustofa