Baca Juga : Heboh! Pria di Grobogan Pamer Kemaluan di Pinggir Jalan, Incar Pengendara Perempuan
Perangkat desa Dapurno Puji Santoso menyebut, robohnya jembatan itu terjadi mengingat pondasi atau tiyang penyangga bagian selatan geser hingga patah. Hal itu disebabkan derasnya hujan beberapa hari lalu yang menyebabkan debit air Sungai Lusi meningkat sehingga mengikis bangunan pondasi di sisi selatan.
"Terlebih lagi, struktur bangunan jembatan yang tak lagi kokoh karena dimakan usia. Kemarin sebelum roboh ada yang lewat pakai sepeda dan merasa sudah goyang-goyang. Sehingga tak jadi melintas," paparnya.
Menurutnya, semula jembatan itu menjadi akses utama bagi wara desanya yang ingin ke Desa Tanjungsari, Keradenan. Atau bagi mereka yang mau pergi ke sawah. Sebab banyak warga desa Dapurno memiliki lahan di bagian Selatan jembatan. Daripada memutar, mereka melewati jembatan itu menjadi pilihan. "Dulu bisa dipakai lewat motor juga. Sehingga memang menjadi akses utama," terangnya.
Puji menambahkan, jembatan memang itu memiliki kedekatan historis dengan warga sekitar. Mengingat, dahulu pernah menjadi lalu lalang warga sekitar ketika beraktivitas. "Warga menyebut jembatan itu sebagai jembatan teyeng. Karena sudah pada berkarat," jelasnya. (tos/khim) Editor : Abdul Rokhim