Baca Juga : Tergiur Gaji Besar di Arab Saudi, Wanita Asal Grobogan Ini Diduga Jadi Korban Perdagangan Manusia
Tak hanya itu, jika ada hujan maka air langsung masuk ruang kelas. Jika panas maka sinar matahari langsung menembus ke dalam kelas. Begitu pula dengan plafon yang sudah rusak. Kayu penyangga lapuk. Sebagian sudah dimakan rayap dan dibiarkan terbengkalai.
Bahkan, untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. Pihak sekolah memasang bambu pembatas di depan kelas rusak. Ada tulisan imbauanya. “Awass!!! Rawan Roboh Dilarang Lewat Sini !!!”.
Suharto guru SD N 4 Ngraji mengatakan, kondisi sekolah rusak dengan empat ruang kelas sudah tidak ditempati mulai 2019. Sebelum genteng dan plafon ambrol, sekolah sudah memasang tiang penyangga agar tidak roboh. ”Setelah roboh, empat ruang kelas tidak dipakai lagi,” kata Suharto.
Dikatakannya, kondisi rusak dan tidak ditempati siswa menjadikan proses belajar mengajar terganggu. Namun, pada 2019 akhir sampai 2021 pembelajaran dilakukan secara daring karena pandemi Covid-19.
”Iya waktu ruang kelas rusak, pembelajaran kami lakukan secara daring karena ada pandemi Covid-19,” ujarnya.
Meski pembelajaran dilakukan secara daring. Namun, proses belajar mengajar mulai diberlakukan lagi dengan tatap muka dibuka lagi 2021. Adanya tatap muka tersebut menjadikan sekolah harus membuat ruang kelas sementara.
Dari pihak sekolah dan komite melakukan rapat pertemuan dengan orang tua siswa. Maka untuk menampung siswa belajar tatap muka, disepakati dibangun dua ruang kelas terbuka di tempat parkiran sekolah.
”Dari komite sekolah membuat bangunan sementara di ruang terbuka bekas parkiran sepeda. Biaya pembuatan kelas sendiri ini menghabiskan sekitar Rp 25 juta dari iuran,” terang dia.
Ruang terbuka yang ada di lokasi parkiran sepeda menjadikan siswa belajar kurang nyaman. Sebab, tidak ada tembok depan dan tidak ada pintu. Sehingga hewan seperti ayam dan lainya bisa masuk ke kelas.
Bangunan itu, hanya dibangun dengan tembok herbel dan genteng seng. Sehingga jika kondisi cuaca panas, otomatis ruangan sumuk. Jika hujan bising suara hujan. Begitu juga ketika ada angin maka bisa masuk ke dalam kelas.
”Info yang kami dengar tahun ini sekolah dapat bantuan dari pemerintah daerah. Bantuan untuk pembangunan ruang kelas,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala SD N 4 Ngraji Sri Soelastri menambahkan, pembangunan empat ruang kelas akan dibangun tahun ini. Bantuan dari Pemkab Grobogan melalui Dinas PUPR. Bantuan tersebut berupa rehab empat kelas rusak.
”Rencananya pembangunanya dananya Rp 466 juta untuk rehap empat kelas. Dan untuk sementara siswa belajar di ruang kelas darurat dengan cara bergantian,” terang dia.
Untuk sementara waktu di ajaran baru sekolah SD N 4 Ngraji mulai besok pagi, Senin (11/7) harus rela belajar di ruang kelas sementara.
”Saya berharap kondisi sekolah bisa diperbaiki. Agar anak saya bisa belajar nyaman,” kata Mariyati orang tua salah satu siswa SD N 4 Ngraji. (mun/zen) Editor : Abdul Rokhim