BLORA - Wulandari Dwi Andini hadir sebagai sosok muda yang mengemban amanah sebagai Duta Kebidanan Blora, membawa semangat untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan ibu dan anak. Dengan dedikasi, kepedulian, serta kemampuan berkomunikasi yang baik, ia berupaya menjadi jembatan antara tenaga kesehatan dan masyarakat dalam meningkatkan kesadaran akan pelayanan kebidanan yang berkualitas.
Arif Fakhrian Khalim / Radar Kudus
Gaun mewah dengan warna merah dipakai oleh Wulandari Dwi Andini saat melakukan sosialisasi dengan masyarakat terkait kesehatan. Peserta sosialisasi terdiri dari remaja, ibu-ibu dan mahasiswa.
Perjalanan peremuan dengan kelahiran 27 Januari 2008 untuk mendapat gelar Miss Kebidanan Blora bukanlah kisah yang selalu berjalan mulus. Di balik semangatnya sebagai Duta Kebidanan Blora, tersimpan cerita tentang perjuangan yang menguji tekad dan keteguhannya.
Saat hendak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, Wulandari sempat dihadapkan pada kenyataan pahit. Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, ditambah dengan perpisahan kedua orang tuanya, membuat langkahnya untuk melanjutkan pendidikan.
Saat banyak teman sebayanya terus menimba ilmu, ia harus menerima kenyataan bahwa mimpinya tertunda karena keadaan yang berada di luar kendalinya. Namun, Wulandari memilih untuk tidak menyerah.
“Saya meyakini bahwa setiap kesulitan adalah bagian dari proses untuk menjadi pribadi yang lebih kuat. Dengan kerja keras, doa, dan dukungan dari ibu, saya perlahan bangkit dan kembali melanjutkan pendidikan di Poltekkes kemenkes semarang kampus 4 Blora,” ujarnya.
Pengalaman tersebut justru membentuk karakter Wulandari menjadi sosok yang tangguh, penuh empati, dan tidak mudah menyerah. Baginya, setiap kompetisi adalah proses belajar, bukan hanya tentang memenangkan sebuah gelar. Ketertarikannya mengikuti berbagai ajang berawal pada 2024.
“Ketika saya mengikuti seleksi Duta Muslimah Hunt di Jakarta. Saat itu saya belum berhasil. Kegagalan tersebut sempat membuat saya sedih, tetapi saya berjanji kepada diri sendiri bahwa perjalanan saya tidak akan berhenti sampai di sana. Saya percaya bahwa kegagalan hanyalah bagian dari proses menuju kesempatan yang lebih baik,” ungkapnya.
Pada tahun 2025, ia kembali mencoba dengan mengikuti Miss Hijab Beauty Blora dan
berhasil masuk Top 7. Wulan bersyukur atas pencapaian tersebut, tetapi merasa masih memiliki banyak hal yang perlu dikembangkan, baik dari segi public speaking, kepercayaan diri, maupun kemampuan kepemimpinan.
“Karena itu, saya kembali menantang diri dengan mengikuti ajang Duta GenRe dan berhasil masuk Top 15. Hingga akhirnya, pada ajang berikutnya saya kembali memberanikan diri untuk berkompetisi. Alhamdulillah, berkat doa, kerja keras, latihan, dan dukungan dari orang-orang terdekat, saya dipercaya meraih Juara 1 Miss Kebidanan,” jelasnya.
Momen itu menjadi bukti baginya bahwa kegagalan tidak pernah sia-sia. Selama mau terus belajar, memperbaiki diri, dan tidak menyerah, akan selalu ada kesempatan untuk meraih hasil yang lebih baik. Baginya, setiap tantangan adalah pengingat bahwa mimpi dapat diraih oleh siapa saja yang mau berjuang dan kini ia berhasil menjadi Duta Kebidanan Blora.
Bagi Wulandari, peran seorang duta bukan sekadar menyandang gelar, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk peduli terhadap kesehatan reproduksi, pencegahan stunting, serta pentingnya pendampingan ibu sejak masa kehamilan hingga pascapersalinan. Melalui berbagai kegiatan edukasi dan kampanye kesehatan, ia berkomitmen menghadirkan perubahan positif demi terwujudnya keluarga yang sehat dan berkualitas di Kabupaten Blora.
“Dengan mengusung semangat pelayanan, empati, dan profesionalisme, saya berharap kehadirannya sebagai Duta Kebidanan Blora dapat memperkuat peran bidan sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan ibu dan bayi. Sekaligus mendorong masyarakat untuk semakin sadar akan pentingnya layanan kesehatan yang aman, berkualitas, dan mudah diakses,” harapnya.
Peran bidan sendiri, menurut Wulandari adalah bagian penting dari upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak yang juga menjadi fokus pendidikan kebidanan di Blora.
“Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Blora, saya ingin berkolaborasi dengan berbagai pihak, seperti tenaga kesehatan, institusi pendidikan, organisasi kepemudaan, dan pemerintah daerah. Kerja sama itu saya berharap bisa menyelenggarakan edukasi, kampanye kesehatan, serta kegiatan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
“Saya percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Kehaduran saya sebagai Miss Kebidanan tidak hanya dikenang sebagai seorang pemenang, tetapi sebagai seseorang yang mampu menginspirasi, mengedukasi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Blora,” tuturnya. (*)
Editor : Eko Santoso