Keterbatasan ekonomi bukan menjadi penghalang untuk meraih mimpi dan prestasi.
Danu Suryanto dan Seril Nur Aini, murid Sekolah Rakyat Atas Menengah (SRMA) 18 Blora menjadi finalis Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026 dengan penelitian omes kayu jati dan bersaing dengan ratusan sekolah.
ARIF FAKHRIAN KHALIM, Blora
Di sebuah gedung yang berdiri di Kecamatan Cepu, Blora, denyut semangat belajar terasa begitu hidup. Ada 30 murid Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 18 Blora.
Mereka fokus memperhatikan materi pelajaran matematika dan geografi yang disampaikan guru untuk persiapan Asesmen Sumatif Akhir Tahun (ASAT).
Tepat pukul 15.00, suara khas pergantian jam belajar ke istirahat terdengar di pengeras suara sekolah. Setiap sore, aktivitas di lingkungan SRMA 18 Blora dimulai dengan ritme yang tenang, tapi pasti.
Tak ada keramaian mencolok. Satu-persatu siswa-siswi meninggalkan ruang kelas. Mereka kemudian segera menuju asrama. Dengan tujuan mengistirahatkan badan setelah aktivitas pembelajaran.
Danu Suryanto dan Seril Nur Aini, murid yang kini naik kelas XI ini, tak termasuk di antaranya.
Mereka berdua justru menuju ruang laboratorium di lantai II gedung SRMA 18 Blora dengan wajah ceria. Sembari mengenakan jas laboratorium berwarna putih dengan logo Sekolah Rakyat.
Bagai melangkah keluar dari gubuk pematang, sejak Juli 2025 Danu dan Seril meninggalkan orang tua untuk “mengubah nasib” dengan belajar di SRMA 18 Blora.
Berasal dari keluarga yang berlatar belakang petani, tak menyurutkan cita-cita keduanya untuk menjadi dosen.
Selama ini, Seril mengaku lebih banyak hidup di pondok pesantren.
Sebab, kondisi ekonomi. Ia menceritakan, orang tuanya sebagai petani pernah sesekali membayar biaya bulanan pondok dengan beras saat masa panen.
“Saya mondok dengan adik. Kondisi ekonomi orang tua saat itu, sedang terpuruk. Pernah suatu waktu saya diberikan uang Rp 50 ribu dibagi dengan adik untuk uang saku selama satu minggu,” ucapnya.
Ia juga pernah merasa bersalah, ketika di pondok pesantren meminta uang saku. Sedangkan ayah dan ibunya di rumah tidak memiliki uang sepeser pun.
Berbeda dengan Danu, ia sering membantu ayah dan ibunya di sawah. Ditambah, prestasi akademik dan nonakademiknya memang menonjol sewaktu duduk di bangku SMP.
Namun, di balik keaktifan dan nilai yang membanggakan itu, Danu sempat dirundung kecemasan, untuk bisa melanjutkan ke bangku SMA.
Namun, sejak orang tuanya didatangi penyuluh sosial dan keluarganya terdata di Program Keluarga Harapan (PKH), ia bisa melanjutkan sekolah di SRMA 18 Blora angkatan pertama Tahun Ajaran 2025/2026.
Di Sekolah Rakyat, semua fasilitas memadai, guru berkualitas, dan lingkungan belajar yang kondusif, membuat Danu dan Seril memulai “hidup baru” dengan semangat meraih prestasi.
Danu menyukai pelajaran biologi, kimia, fisika, ekonomi, dan matematika. Sedangkan Seril lebih fokus dan menyukai pelajaran bahasa Indonesia, kimia, dan ekonomi.
Selama satu tahun belajar di SRMA 18 Blora, keduanya mampu berkembang dan mengetahui banyak hal baru, seperti penelitian yang saat ini mereka jalani.
Sebelumnya, saat masih duduk di bangku SMP, belum pernah ikut praktikum karya ilmiah.
“Di SRMA ini, kami dibekali bagaimana meneliti sesuatu yang telah dipelajari pada pelajaran ilmu pengetahuan alam ke ilmu sosial. Sewaktu SMP tidak pernah ada niatan untuk ikut penelitian. Saya merasa bangga bisa mewakili Sekolah Rakyat ke tingkat nasional, karena sebelumnya tak pernah menyangka bisa meraih prestasi seperti ini,” ujarnya.
Berkat penelitian tentang omes kayu jati, Danu dan Seril berhasil melaju ke babak final nasional dan mengalahkan ratusan siswa dari ratusan sekolah yang mengikuti Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026.
Di laboratorium SRMA 18 Blora, Danu dan Seril membagi tugas sebelum praktikum. Seril bertugas menyiapkan beberapa alat praktik, meliputi gelas kimia, gelas ukur, kaca arloji, pipa tetes, dan timbangan.
Sedangkan Danu mengambil bahan-bahan praktikum, di antaranya aquades, omes kayu, air mineral, air bercampur bahan tambang, dan arang.
Keduanya tak melakukan praktikum sendiri. Namun, dibimbing Vinsensius Maunia Singgih Husada, guru kimia SRMA 18 Blora.
“Ada Pak Vinsen sebagai guru kimia di SRMA yang selalu sabar memberikan arahan dan contoh untuk bisa mengeksplorisasi berbagai hal,” ucap Danu sembari menyiapkan alat-alat praktikum.
Penelitian tentang omes kayu jati itu, ia buat karena menjadi ciri khas Kabupaten Blora. “Kalau di Blora kan banyak kayu jati. Jadi, kami pakai sebagai ciri khas asal kami,” katanya.
Danu dan Seril kemudian fokus dengan mencampurkan bahan seperti arang, omes kayu, dan aquades.
“Setelah tercampur rata, cairan arang aktif yang tercampur oleh omes kayu dan aquades didiamkan selama 24 jam. Setelah itu, akan disaring untuk memisahkan padatan arang aktif dengan omes kayu jati,” ujar Seril saat menuangkan cairan omes kayu bercampur arang.
Seril mengaku, padatan arang aktif nanti akan dimasukkan dalam oven untuk dikeringkan.
Untuk kemudian, padatan arang aktif akan diuji pada air bercampur bahan tambang, yakni dari Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dan dari Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Terisah, Kepala SRMA 18 Blora Tri Yuli Setyoningrum bangga dengan prestasi akademik dan nonakademik para siswa SRMA 18 Blora. Ambisi mereka untuk mengangkat derajat orang tua dan berguna bagi negeri.
“Total, ada delapan siswa SRMA 18 Blora berprestadi di 14 lomba bidang akademik dan nonakademik, baik tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional. Untuk penelitian, Danu dan Seril ini berada di fase awal yang bagus. Dengan melaju ke nasional itu bisa meningkatkan kepercayaan diri mereka,” ujar Tri Yuli.
Di balik itu, ada kerja sama dan kolektif yang berjalan tanpa banyak sorotan. Mulai dari kepala sekolah, guru, wali asuh, dan wali asrama.
Semua berperan menjaga, mendampingi, dan menggali potensi anak-anak Sekolah Rakyat. (*/lin)
Editor : Ali Mustofa