Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Menyusuri Jejak Surat-surat RA Kartini lewat Museum: Tulisan Indah Itu, Berisi Semangat Pemberdayaan hingga Religiusitas  

Ali Mustofa • Selasa, 21 April 2026 | 11:09 WIB
ANTUSIAS: Pengunjung menilik surat-surat RA Kartini yang dicetak dalam ukuran jumbo di Museum RA Kartini Jepara. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
ANTUSIAS: Pengunjung menilik surat-surat RA Kartini yang dicetak dalam ukuran jumbo di Museum RA Kartini Jepara. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

Peringatan Hari Kartini bukan sekadar seremoni. Di Jepara, jejak pemikiran RA Kartini terasa hidup.

Terutama saat membuka lagi lembar demi lembar suratnya, yang merekam kegelisahan, gagasan, hingga cita-cita besar tentang pendidikan dan kemerdekaan.

 FIKRI THOHARUDIN, Jepara

 BAGI Susi Ernawati Susindra, peneliti di Komunitas Rumah Kartini, selain lewat museum, memahami sosok RA Kartini dapat dimulai dari surat-suratnya.

Ia menyebut, ada sekitar 180 surat Kartini yang diketahui. Jika ditambah dengan korespondensi keluarga, dari saudarnya, jumlah tersebut mencapai sekitar 236 surat.

”Surat-surat itu mengalir. Apa yang terjadi di pendapa, apa yang dia baca, apa yang dia rasakan. Semuanya tertuang di sana,” ungkapnya.

KHIDMAT: Peneliti Kartini di Komunitas Rumah Kartini Susi Ernawati Susindra menjelaskan riwayat hidup sosok pahlawan emansipasi perempuan di Museum Kartini. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)
KHIDMAT: Peneliti Kartini di Komunitas Rumah Kartini Susi Ernawati Susindra menjelaskan riwayat hidup sosok pahlawan emansipasi perempuan di Museum Kartini. (FIKRI THOHARUDIN/RADAR KUDUS)

 Menurut Susi, Kartini menulis kepada banyak sahabat dari berbagai latar belakang. Di antaranya Rosa Abendanon, Jacques Henri Abendanon, dan Stella Zeehandelaar.

Juga tokoh-tokoh lain, seperti Ovink-Soer, hingga Hilda G. De Booij Boissevain.

Dari korespondensi itu, tergambar bagaimana Kartini berdialog lintas budaya. Bahkan, lintas benua.

Surat pertama yang dipublikasikan misalnya, ditujukan kepada Stella. Di sana, nuansa personal terasa kuat.

Kartini berbicara tentang cita-cita, kegelisahan, hingga keinginannya menyejahterakan rakyat.

Sementara dalam surat kepada Ovink-Soer, Kartini lebih banyak membahas perkembangan pendidikan, rencana belajar ke Batavia, hingga dinamika berpikirnya yang semakin matang.

Tak hanya itu, surat-surat tersebut, juga mencatat geliat ekonomi dan seni di Kabupaten Jepara.

Kartini aktif mengabarkan perkembangan kerajinan ukir. Mulai dari pesanan, desain, hingga pengiriman karya ke luar negeri.

Ia bahkan menjadi jembatan bagi karya perempuan Jepara untuk tampil di pameran internasional, seperti di Den Haag (1898), Batavia (1902), hingga Osaka (1903).

”Di situ terlihat jelas, Kartini tidak hanya berpikir, tapi juga bergerak,” jelas Susi.

Susi menegaskan, Kartini kerap disalahpahami sekadar sebagai tokoh emansipasi perempuan. Padahal, menurutnya Kartini adalah pejuang kemerdekaan dalam arti yang lebih luas.

”Ia membangun fondasi nasionalisme melalui pendidikan. Saat itu masyarakat benar-benar dalam kegelapan. Satu kabupaten mungkin hanya punya tiga sampai lima sekolah untuk puluhan ribu orang,” jelasnya.

Dalam kondisi itulah, gagasan Kartini tentang pendidikan menjadi sangat revolusioner.

 Termasuk ayahnya, Raden Mas Adipati Sosroningrat yang bahkan menulis memorandum kepada pemerintah kolonial. Mendorong pendirian sekolah keterampilan bagi warga pribumi.

Pemikiran ini, kemudian beririsan dengan kebijakan pendidikan yang berkembang pada masa berikutnya. Termasuk sekolah Volkschool.

Semangat kritis Kartini juga tampak dalam pandangannya tentang agama.

Dalam salah satu surat kepada Stella, ia mempertanyakan praktik menghafal Alquran tanpa memahami maknanya.

Kritik itu kemudian membawanya berguru kepada Kiai Sholeh Darat, yang dikenal menerjemahkan ajaran agama ke dalam bahasa yang lebih mudah dipahami; Arab pegon Jawa.

”Itu menunjukkan Kartini punya nalar analisis yang kuat. Ia haus akan ilmu,” tuturnya.

Selain pendidikan, Kartini juga sejak muda telah dibentuk untuk dekat dengan rakyat. Ayahnya kerap mengajak anak-anaknya turun langsung melihat kehidupan masyarakat.

Bahkan, Kartini pernah diminta memilih satu wilayah untuk diperhatikan kesejahteraannya. Yang kemudian ia memilih daerah di balik pegunungan, di belakang bukit.

Ada yang bilang, Desa Mulyoharjo, Kecamatan Jepara Kota. Saat ini terkenal sebagai sentra relief dan patung.

Perjalanan intelektual Kartini tidak berhenti setelah menikah. Gagasan dan gerakannya dilanjutkan oleh adiknya, Rukmini. Termasuk dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan perempuan.

Bagi Susi, Kartini bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan role model yang relevan lintas zaman. Ia mengaku, mengenal Kartini sejak SMP telah mengubah jalan hidupnya.

”Kalau saya tidak mengenal Kartini dengan benar, mungkin saya sudah jadi ibu rumah tangga sejak muda,” kenangnya.

Ia menyebut, dirinya sebagai ”anak ideologis Kartini”. Menjadikannya refleksi, bahwa semangat belajar, berpikir kritis, dan berkarya untuk masyarakat masih sangat relevan saat ini.

Di Jepara, peringatan Hari Kartini pun menjadi lebih dari sekadar mengenang.

Masyarakat berbondong-bondong mendatangi eks rumah dinas bupati, yang kini menjadi Museum Kartini.

Di dalam Museum ini, terdapat peninggalan dan koleksi yang menawan. Termasuk replika surat yang ditulis Kartini. Gaya tulisannya berlawanan dengan garis dalam kertas.

Garis di kertas itu vertikal, tapi tulisannya horizontal. Betapa tulisannya secara leksikal juga memiliki gaya huruf yang indah. Seni tingkat tinggi.

Surat tersebut dicetak dalam lembaran raksasa. Lebarnya 1 meteran. Sedangkan panjangnya sekitar 5 meter. Sebagian lembarannya terlipat.

Tak hanya itu, di Museum Kartini ini, juga terdapat kamar pingit. Tempat yang ”mengurung” Kartini selama setidaknya empat tahun sebelum dia menikah. Namun tak dinyana, Kartini justru tumbuh dari dalamnya. Berkarya.

Menurut Susi, seperti yang tergambar dalam surat-suratnya, Kartini tidak pernah benar-benar diam. Ia terus ”berbicara” melintasi waktu. Menyapa generasi yang mau mendengarkan.

Cerita tentang Kartini tak hanya hidup di museum atau arsip. Di Kelenteng Welahan, jejaknya tersimpan dalam kisah yang lebih personal.

Dicky Sugandhi, ketua Yayasan Pusaka Kelenteng Welahan menyebut, dalam salah satu surat kepada Abendanon, Kartini pernah menceritakan pengalaman masa kecilnya saat sakit keras.

”Sudah didatangkan dokter dari Belanda, tapi tidak menemukan solusi. Lalu mencoba obat dari sini (Kelenteng Welahan, Red). Dia merasa sembuh,” sebutnya.

Hingga kini, tradisi pengobatan di kelenteng tersebut, masih bertahan.

Ramuannya berupa herbal yang diracik turun-temurun. Dengan bahan yang sebagian besar berasal dari toko obat Tionghoa.

Selain sebagai tempat ibadah, kelenteng juga sejak dulu menjadi pusat aktivitas masyarakat.

Mulai dari pengobatan, konsultasi usaha, hingga penentuan hari baik berdasarkan penanggalan Tionghoa.

”Ya obat-obatan di sini (Kelenteng Welahan, Red) hanya didapat di toko-toko obat China. Ramuan khusus,” imbuhnya. (*/lin)

Editor : Ali Mustofa
#jepara #hari kartini #museum #surat #gagasan