Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Lebih Dekat dengan Bidan Cindy dan Bidan Liya, Bantu Proses Persalinan di Tengah Bencana. Jalan Kaki Tiga Jam, Tembus Daerah Longsor

Fikri Thoharudin • Minggu, 11 Januari 2026 | 18:47 WIB
TANGGUH: Bidan Desa Tempur Cindy Claudia (kanan) bersama Bidan Desa Jlegong Liya Umayanti dijemput usai membantu proses persalinan warga Dukuh Petung Kecamatan Keling pada Sabtu (10/1).
TANGGUH: Bidan Desa Tempur Cindy Claudia (kanan) bersama Bidan Desa Jlegong Liya Umayanti dijemput usai membantu proses persalinan warga Dukuh Petung Kecamatan Keling pada Sabtu (10/1).

Tugas kemanusiaan tak mengenal waktu. Bahkan di tengah kondisi darurat sekalipun. Sebagaimana yang dialami oleh Bidan Desa Tempur Cindy dan Bidan Desa Jlegong yang membantu proses kelahiran anak warga Desa Tempur di tengah bencana longsor.

FIKRI THOHARUDIN, Radar Kudus, Jepara

BENCANA bukanlah akhir. Justru seringkali tumbuh harapan dan semangat baru. 

Di tengah lumpur, longsor, dan keterisolasian Desa Tempur, justru lahir kisah tentang keberanian dan penuh ketulusan. Kisah itu datang dari dua bidan muda, Cindy Claudia Sintya Dewi dan Liya Umayanti.

Cindy, 30, tak menyangka akan membantu warga Desa Tempur Kecamatan Keling yang tengah terisolasi. Imbas longsor dan akses jalan utama yang putus.

Mulanya pada Jumat (9/1) malam ia diminta berjaga posko di Damarwulan. Mengantisipasi apabila terdapat warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

Tak dinyana, panggilan yang diterimanya menjadi pengalaman berharga. Setidaknya dalam sembilan tahun masa tugasnya.

Ia mendapatkan kabar, jika terdapat sosok ibu yang hendak melahirkan. Sementara akses jalan terputus. Motor tak bisa lewat, apalagi mobil.

"Saya berangkat Sabtu (10/1) pukul 07.00, naik lewat Damarwulan. Jalan kaki tiga jam, sampai Tempur jam 10.00," ungkapnya Minggu (11/1).

Semula ia pun merasa bimbang, mengingat terdapat belasan bahkan puluhan titik longsor yang harus dilewati.

Namun dalam benaknya, hanya ada satu pikiran. 'Ada dua nyawa yang harus diselamatkan'. Ia tak ingin, dalam persalinannya warga RT 3/RW 2 Dukuh Petung Kecamatan Keling yang diketahui bernama Anifatun Khasanah tersebut kesulitan dalam proses melahirkan. 

Ia lantas memberanikan diri. Mengajak temannya yang juga merupakan bidan, Liya Umayanti. 

"Dia (bidan Liya, red) mau, tulus bantu. Akhirnya kami berangkat. Tanpa persiapan apapun. Padahal belum ada akses yang dibuka, belum kesentuh tim relawan," katanya.

Bidan Cindy bersama dengan Liya mengenakan jas hujan beserta helm. Jalan kaki. 

"Sudah naluri, harus ke sana. Meskipun saya gak pernah jalan jauh. Sesampainya di sana langsung lahiran, lancar. Ternyata dari semalam (Jumat) sudah kencang," katanya.

Cindy hanya bisa pasrah, berjalan tiga jam di bawah hujan. "Saya melihat longsoran, berserah. Yakin kalau niat nolong, pasti jalan dimudahkan. Akses gak bisa dinalar, tiba-tiba jalan aja," sebutan.

Lebih lanjut, kelahiran tersebut ialah kelahiran anak kedua. Sosok ibu yang ditolongnya tersebut melahirkan bayi laki-laki. Jagoan dengan berat 2,8kg dan panjang 48cm.

JAGOAN: Kelahiran yang akan selalu dikenang.
JAGOAN: Kelahiran yang akan selalu dikenang.

"Pulang dari Tempur, langsung infus vitamin. Lha selama tiga jam gak bawa apa-apa. Minum ya air gunung," ucap bidan asal Kelet, Keling tersebut.

Sementara itu, Liya Umayanti, 32, juga menyampaikan kesan atas pengalaman berharganya tersebut.

"Saya Bidan Desa, tapi di Jlegong. Sabtu (10/1) pagi saat bangun tidur diajak untuk menemani mbak Cindy karena ada orang mau lahiran. Dia panik, lalu saya temani," sebutnya.

Menurutnya, ia sebagai orang yang memiliki profesi yang sama turut menanggung tugas kemanusiaan.

"Saya ikut jalan kaki, berdua tanpa mengetahui jalan yang akan kami tempuh. Awalnya, katanya ada tiga titik longsor tapi ternyata ada belasan," kenangnya penuh haru.

Menurutnya, pengalamannya tersebut merupakan hal yang menakjubkan. Ia sempat tidak percaya bisa menempuh dan melakoni hal tersebut.

"Saya cuma berpikir, kami harus sampai. Untuk menolong orang (melahirkan, red). Ikhtiar, bismillah pasti Allah membantu," katanya.

Sekalipun medan penuh lumpur. Ia tetap tak rela tunduk pada jarak.

"Setelah rampung, pulang. Kami di antar dengan motor lewat jalan berbeda. Lewat Desa Medani, Kecamatan Cluwak, Pati. Sampai rumah langsung pijat," katanya.

Sebelumnya, ia bersama bidan Cindy juga langsung infus vitamin sesampainya di Puskesmas Keling I.

"Benar-benar lemas. Dehidrasi. Kehabisan minum, minumnya air gunung," pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#bidan #jepara #inspirasi #Pasca Bencana #tempur #bencana