Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Sosok Nayla Hasna Nafisah, Mahasiswi UMK Kudus Perintis Media Belajar Disabilitas yang Meraih Penghargaan Internasional

Redaksi Radar Kudus • Rabu, 12 November 2025 | 15:07 WIB

 

KEREN: Nayla Hasna Nafisah menunjukkan medali dan sertifikat spesial awardnya.
KEREN: Nayla Hasna Nafisah menunjukkan medali dan sertifikat spesial awardnya.

 

Nayla Hasna Nafisah, mahasiswi semester V Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muria Kudus (UMK) bersama tim lintas prodi.

Ia mengembangkan media pembelajaran berbasis AI untuk anak disabilitas dan telah meraih berbagai penghargaan tingkat internasional.

ANDIKA TRISNA SAPUTRA, Kudus

Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, aktivis, hingga pengajar bimbingan belajar (bimbel), Nayla Hasna Nafisah tetap konsisten menapaki jejak sebagai pengembang media pembelajaran inklusif.

Mahasiswi PGSD UMK angkatan 2023 ini, memimpin tim beranggotakan lima orang untuk menciptakan Ethnocar.

Itu merupakan media belajar berbasis kartu yang dipadukan dengan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Inovasi ini, dikembangkan untuk siswa disabilitas ringan. Khususnya mereka yang mengalami keterlambatan berpikir pada jenjang kelas I hingga II SD.

Melalui Ethnocar, anak-anak dapat memindai kartu dan menampilkan materi penjumlahan maupun pengurangan langsung di ponsel.

Media tersebut merupakan hasil rekonstruksi ide dari salah satu anggota tim dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Matematika yang kemudian disempurnakan selama sebulan melalui pemanfaatan AI.

Riset mereka dilakukan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kaliwungu, Kudus.

Tim lintas prodi itu, melibatkan mahasiswa dari Pendidikan Matematika, Pendidikan Bahasa Inggris, Bimbingan Konseling, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, serta Nayla sendiri dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD.

”Tujuan kami sederhana, membuat pembelajaran yang menyenangkan dan mudah di terima anak-anak berkebutuhan khusus,” ujar Nayla.

Upaya itu tak sia-sia. Sepanjang 2024- 2025, inovasi Nayla dan tim menunjukkan prestasi gemilang.

Mereka meraih medali emas pada Ajang Applied Science Project Olympiad (12ASPO) ITS Surabaya 2024.

Disusul gold medal World Innovation Competition and Exhibition (WICE) Malaysia 2025 serta spesial award dari Malaysia Young Scientists Organisation (MYSO) 2025.

Tak hanya tahun ini, kiprah Nayla dalam inovasi pembelajaran telah dimulai sejak 2024.

Saat itu, ia terlibat sebagai anggota tim pengembang media puzzle sensorik audio berbasis budaya lokal.

Puzzle berbentuk gugusan pulau itu, mengusung suara hewan khas berbagai provinsi dan ditujukan bagi siswa disabilitas dengan keterlambatan daya ingat.

Saat potongan puzzle dicocokkan, audio edukatif akan muncul sebagai rangsangan sensorik.

Ketertarikan Nayla pada pengembangan media tumbuh dari keinginannya melihat pendidikan Indonesia lebih maju dan inklusif.

Baginya, media yang kreatif dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan mendorong siswa lebih antusias memahami materi.

”Saya selalu berpikir, bagaimana membuat pembelajaran lebih mudah diterima? Inovasi adalah jawabannya,” tuturnya.

Di luar prestasi akademik, Nayla dikenal sebagai aktivis mahasiswa.

Ia tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Muria Kudus (DPM UMK), Himpunan Mahasiswa (Hima) Prodi PGSD.

Serta aktif di organisasi eksternal seperti Dewan Kerja Cabang Kwarcab Rembang, Youth Center Kibarr PKBI Rembang, PIK-R Kecamatan Sulang, hingga Posyandu Remaja.

Keaktifannya di berbagai kegiatan bahkan telah dimulai sejak MTs dan SMK.

Dengan deretan prestasi. Di antaranya lomba qiroah, tilawah, hingga cerdas cermat.

Gadis asli Rembang ini, juga menyeimbangkan aktivitas kuliah dengan mengajar bimbingan belajar (bimbel), serta menerima pekerjaan sebagai MC, moderator, dan freelancer.

Meski jadwalnya padat, ia mengaku mampu mengelola waktu dengan baik.

”Kuncinya komitmen. Selama bisa mengatur jadwal, semua bisa berjalan,” ungkapnya.

Perpaduan konsistensi dan rekam jejak inovatifnya, Nayla Hasna Nafisah menjadi salah satu potret mahasiswa muda yang tak hanya berprestasi, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi pendidikan inklusif di Indonesia. 

Editor : Ali Mustofa
#penghargaan #UMK #artificial intelligence #anak disabilitas #media pembelajaran #SLB