Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bupati Jepara Wiwit dan Wabup Hajar Benar-Benar Merealisasikan Janjinya, Jepara Mulus

Zainal Abidin RK • Sabtu, 8 November 2025 | 19:14 WIB
SINERGIS: Bupati Jepara Witiarso Utomo didampingi oleh Kepala DPUPR Hery Yulianto melakukan pengecekan perbaikan Jalan RMP Sosrokartono Selasa (7/10).
SINERGIS: Bupati Jepara Witiarso Utomo didampingi oleh Kepala DPUPR Hery Yulianto melakukan pengecekan perbaikan Jalan RMP Sosrokartono Selasa (7/10).

PAGI itu, matahari baru naik di langit Bringin. Asap tipis mengepul dari truk silinder yang bergerak perlahan di ruas jalan Mindahan–Bringin–Batealit. Di belakangnya, seorang pekerja dengan rompi oranye menenteng selang panjang, menyemprotkan cairan hitam pekat ke permukaan aspal yang kering. Bau khas aspal panas bercampur dengan aroma tanah dan debu pagi.

Truk besar di depan membawa muatan “aspal goreng” — campuran hitam legam yang menguarkan panas saat dituang. Suaranya menderu ketika cairan itu mengalir ke permukaan jalan. Beberapa meter di belakang, alat berat mulai meratakan lapisan itu, membuatnya halus seperti kulit mangga muda. Lalu datang truk silinder yang memadatkannya, menyesuaikan tinggi dan kemiringan jalan.

Beginilah pemandangan yang kini kerap terlihat di berbagai sudut Kabupaten Jepara. Dari perempatan Godang ke Kecapi, hingga ke arah Bangsri, jalan-jalan yang dulu berdebu dan penuh lubang kini berubah wajah. Aspal baru memantulkan cahaya matahari, membuat perjalanan terasa lebih ringan dan menyenangkan.

Di bawah komando Bupati Jepara Witiarso Utomo dan Wakil Bupati Jepara Gus Hajar, pemerintah kabupaten tampak sedang tancap gas memperbaiki berbagai ruas utama. Dari Bringin ke kota, suara mesin proyek hampir tak pernah benar-benar berhenti.

Dari selatan perempatan Mojo, proyek cor beton setebal sekitar 40 sentimeter kini membentang hingga pertigaan sebelum Pasar Ngabul. Di sana, deretan pekerja berjibaku di bawah terik matahari, menata besi, menuang semen, dan merapikan permukaan dengan penggaris panjang.

Tak jauh dari sana, ke arah barat, pelebaran jalan dengan betonisasi terlihat dari depan Masjid Pekalongan sampai timur kampus Unisnu. Siang hari, truk pengangkut pasir dan semen keluar-masuk area proyek. Bau semen basah bercampur dengan suara logam dari molen yang terus berputar.

Sementara itu, di jembatan kanal timur DPRD, pekerjaan pembongkaran dan perbaikan telah rampung. Kini kendaraan roda empat sudah kembali melintas, menandai berakhirnya masa penantian warga yang selama berbulan-bulan harus memutar jauh.

Di depan Pengadilan Negeri Jepara, pekerja sibuk menggali tanah untuk membuat gorong-gorong baru. Dari perempatan SMK ke arah Kecepli, proyek betonisasi juga sedang berjalan. Sisi kiri jalan kini tampak rapi dengan lapisan beton baru, sementara alat berat terus berpindah dari satu titik ke titik lain.

Bergeser ke utara, jalan Jepara–Kudus lewat Gebog kini tak kalah sibuk. Dua titik di jalur Balaikambang–Nalumsari tengah dibeton. Truk molen hilir-mudik membawa muatan semen, dan di sepanjang jalan, pekerja menata permukaan dengan rapi.

Perubahan mulai terasa juga di sepanjang jalur Rajekwesi–Mayong, Jepara. Jalan yang dulunya sempit dan hanya bisa dilalui dua kendaraan mobil kecil secara hati-hati, kini tampak lebih lega. Pemerintah daerah melakukan pelebaran jalan hingga mencapai hampir empat hingga lima meter, memberi ruang lebih bagi kendaraan besar yang melintas.

Bagi warga sekitar, ini bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. Jalur Rajekwesi–Mayong merupakan urat nadi penghubung antara kawasan pertanian, permukiman, dan pusat ekonomi lokal di Kecamatan Mayong. Setiap pagi dan sore, jalan ini ramai oleh aktivitas warga — mulai dari petani yang membawa hasil panen, pedagang yang berangkat ke pasar, hingga pelajar yang menuju sekolah.

“Dulu kalau dua mobil papasan, salah satunya harus menepi ke pinggir, kadang sampai masuk ke bahu jalan yang becek,” ujar Sutrisno, salah satu warga Desa Rajekwesi. “Sekarang jalannya sudah lebar, jadi lebih aman dan lancar.”

Tak hanya pelebaran, proyek ini juga mencakup pembuatan gorong-gorong di beberapa titik yang selama ini rawan tergenang air saat musim hujan. Gorong-gorong tersebut diharapkan mampu memperlancar aliran air dan mencegah banjir kecil yang kerap merusak badan jalan.

Proyek ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Jepara untuk meningkatkan konektivitas antarwilayah dan memperkuat ekonomi masyarakat pedesaan. Dengan jalur yang lebih lebar dan sistem drainase yang lebih baik, mobilitas barang dan jasa diyakini akan semakin efisien.

Kini, setiap kali kendaraan melintas di jalur Rajekwesi–Mayong, warga dapat merasakan denyut perubahan itu secara nyata — jalan yang lebih lebar, air yang mengalir lancar, dan harapan baru akan kemajuan desa yang makin terbuka lebar.

Di depan Pasar Nalumsari, proyek betonisasi hampir empat kilometer kini menjadi perhatian warga. Dari area Tritis hingga mendekati perbatasan Gebog–Kudus, jalan berubah menjadi jalur putih keabu-abuan yang halus dan rata.

Sementara itu, di kawasan Banyuputih menuju Kalinyamatan, proyek gorong-gorong sepanjang satu kilometer sedang berlangsung. Di beberapa titik, aliran air yang dulu kerap meluap saat hujan kini mulai tertata. Gorong-gorong besar menandai upaya pemerintah memperbaiki sistem drainase sekaligus memperkuat infrastruktur dasar.

Perubahan ini tak hanya terlihat, tapi juga dirasakan. Ridho (30), warga Desa Bawu, Batealit, setiap hari melintasi jalur Mojo–Ngabul untuk bekerja. Ia mengaku senang meski harus bergantian saat melintas di jalan yang masih diperbaiki.

“Sekarang kalau ke arah Ngabul memang harus gantian, tapi gak apa-apa. Namanya juga lagi dibangun,” ujarnya sambil tertawa kecil. “Dulu jalannya gampang rusak kalau hujan, apalagi kalau diaspal tipis. Tapi sekarang dibeton, pasti awet. Gak tambal-tambal lagi kayak dulu.”

Amir, warga Tahunan, punya cerita serupa. Ia memiliki truk kontainer yang sering melintas di jalur Mojo–Pekeng. “Sekarang lewat sini lebih lega. Dulu kalau papasan sama mobil lain harus minggir nunggu. Sekarang bisa langsung jalan,” katanya.

Ia juga menyoroti perubahan besar di sekitar Pasar Tahunan. “Dulu kalau hujan depan pasar itu banjir. Airnya numpuk, kayak kolam. Sekarang udah ada gorong-gorong baru, airnya langsung ngalir. Semoga gak ngecebong lagi,” ujarnya, tersenyum puas.

Sementara itu, Opik, warga Desa Bringin, merasa jalan di jalur Bangsri–Mindahan kini seperti jalan baru.
“Sekarang mulus banget. Dulu kalau naik motor itu berasa kayak naik kuda, gronjal-gronjal. Sekarang gak ada lagi. Ke pasar jadi cepat, gak pegel,” ujarnya sambil mengelap peluh.

Bagi sebagian orang, jalan hanyalah aspal dan beton. Namun bagi warga Jepara, setiap ruas yang diperbaiki membawa harapan baru. Jalan mulus berarti ekonomi bergerak, hasil bumi cepat sampai ke pasar, anak sekolah tak perlu takut jatuh karena lubang, dan pengemudi truk bisa melintas tanpa waswas.

Pagi hingga malam, proyek-proyek ini menjadi denyut kehidupan baru di Jepara. Cahaya lampu sorot menerangi jalan yang sedang dibeton, suara molen berpadu dengan jangkrik di kejauhan. Di tengah hiruk-pikuk pembangunan itu, satu hal terasa jelas: Jepara sedang berbenah — dan hasilnya mulai terlihat.

Kini, dari Bangsri sampai Nalumsari, dari Bringin hingga Tahunan, Jepara benar-benar tampak berbeda. Aspal hitam dan beton putih membentang halus di bawah roda kendaraan. Tak ada lagi guncangan di jalan, tak ada lagi genangan yang membuat kendaraan mogok.

Dan di sela deru alat berat, warga mulai tersenyum puas.
Ya, Jepara benar-benar mulus — bukan hanya di jalanannya, tapi juga di cara warganya melangkah ke masa depan yang lebih lancar. Bupati Jepara Wiwit dan Wabup Hajar Benar-Benar Merealisasikan Janjinya, Jepara Mulus.

Editor : Zainal Abidin RK
#aspal #jepara #jalan #Jepara Mulus #beton #infrastruktur #gorong-gorong