Delapan tahun menekuni dunia kaligrafi, Muhammad Choirul Anam telah menorehkan banyak prestasi hingga tingkat nasional.
Sosoknya dikenal tak hanya sebagai seniman muda, tetapi juga mentor yang aktif menularkan kecintaannya pada seni tulis indah kepada generasi muda di desanya.
ANDIKA TRISNA SAPUTRA, Kudus
BAKAT seni Muhammad Choirul Anam (23) mulai terlihat sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Baca Juga: Tifo Raksasa PON Beladiri Kudus 2025, Jadi Simbol Kreativitas dan Kebanggaan
Saat teman-teman sebayanya sibuk bermain, Anam lebih senang memegang pensil dan kertas, menuangkan imajinasinya dalam bentuk gambar dan karakter anime.
Ketertarikan itu berlanjut hingga madrasah tsanawiyah (MTs), di mana ia bergabung dengan ekstrakurikuler kaligrafi yang akhirnya mengubah arah perjalanannya.
“Dari MTs saya mulai belajar kaligrafi dengan guru. Kalau menggambar dulu otodidak, tapi kaligrafi ini ada kaidah dan tekniknya sendiri,” tutur Anam.
Ia menekuni seni kaligrafi selama delapan tahun terakhir, dengan lebih dari 50 karya yang telah dihasilkan.
Sebagian karyanya bahkan telah terjual dan dipesan oleh kolektor maupun instansi.
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, UIN Sunan Kudus itu kini dikenal sebagai salah satu pegiat seni di Desa Wisata Japan dan Kampung Budaya Piji Wetan.
Ia aktif menjadi mentor kelas kaligrafi, serta sering tampil dalam pertunjukan seni dan perform art dengan mendemonstrasikan pembuatan kaligrafi secara langsung.
Karya-karya Anam didominasi oleh kaligrafi kontemporer yang dikreasikan di atas media kanvas atau kertas menggunakan cat akrilik.
“Kaligrafi tidak selalu harus tulisan Arab, tapi yang saya pelajari memang tulisan Arab karena itu yang punya nilai estetika dan spiritual tinggi,” jelasnya.
Bagi Anam, setiap karya lahir dari ide dan tema yang kuat.
Ia rutin berlatih sketsa penulisan kaligrafi setiap hari untuk menjaga kelenturan tangannya dan ketajaman rasa estetikanya.
Baca Juga: Pengguna Jalan bakal Full Senyum, PUPR Kudus Perbaiki Jalan R. Agil Rp12 Miliar
“Kalau mau bikin karya, yang dibutuhkan itu ide dulu, baru menentukan bentuk dan warna,” ujarnya.
Sejak aktif di Desa Wisata Japan pada 2022, Anam juga terlibat dalam proyek ornamen masjid serta dekorasi teater dan acara kesenian.
Beberapa karyanya bahkan telah sampai ke luar daerah, seperti Semarang dan kota-kota sekitar.
Deretan prestasi pun telah dikantongi pemuda ini.
Di antaranya, Juara 1 Kaligrafi Mushaf tingkat Provinsi Jawa Tengah Jambore Pemuda Daerah (JPD) 2023, Juara 2 Kaligrafi Dekorasi tingkat Nasional pada Quran Hadus Fest IAIN Kudus 2023, serta Juara 1 Kaligrafi Mushaf tingkat Nasional Festival Kemahasiswaan IAIN Kudus 2021 dan 2022.
Baru-baru ini, Anam juga dinobatkan sebagai Juara 1 Pemuda Pelopor Kabupaten Kudus bidang Pendidikan tahun 2024 oleh Pemerintah Kabupaten Kudus.
Penghargaan itu menegaskan kiprahnya bukan hanya sebagai seniman, tetapi juga sebagai inspirator bagi generasi muda untuk mencintai seni kaligrafi.
Ke depan, Anam bertekad terus berkarya dan memperluas jejaringnya di dunia seni.
“Kaligrafi ini sudah jadi bagian dari hidup saya. Selama bisa berkarya dan bermanfaat untuk orang lain, saya akan terus menulis indah dengan hati,” katanya. (dik)
Editor : Ali Mustofa