RADAR KUDUS - Nama Hasyim As'at tampil mentereng di posisi wahid, dalam malam penganugerahan JIFDA di Pendapa Kabupaten Jepara pada Sabtu (18/10) malam.
JIFDA menjadi wadah bagi para desainer muda untuk mengorbitkan ide orisinilnya, mewujudkan sebuah karya furnitur yang memadukan antaran sentuhan klasik dan kontemporer.
Hasyim berhasil menyisihkan sedikitnya 204 karya yang usulkan untuk mendapatkan anugerah JIFDA. Hasyim terinspirasi dari kapal Jong Java, armada penggempur Portugis di Malaka abad ke-16.
FIKRI THOHARUDIN, Jepara, Radar Kudus
Wajah pria berkacamata itu tampak tenang, saat berada di kompleks Pendopo Kabupaten Jepara pada Sabtu (18/10) malam.
Ia bersama dengan para nominator lain menunggu-nunggu pengumuman ajang penganugerahan Jepara International Furniture Design Award (JIFDA) 2025.
Sejumlah karya telah disebut, namun kursi yang diberikan nama 'U-Djoeng Armchair' tak kunjung terdengar. Ternyata karyanya menjadi pengumuman pamungkas oleh panitia dan dewan juri.
Kursi berlekuk lembut menyerupai ujung depan badan kapal buatannya tersebut menyabet dua penghargaan sekaligus.
Dalam ajang yang diikuti sedikitnya 204 peserta dari berbagai kota, karyanya berhasil menembus seleksi ketat hingga masuk delapan besar finalis, dan akhirnya dinobatkan sebagai juara pertama sekaligus pemenang kategori best innovative design.
Kemenangan Hasyim di JIFDA 2025 bukan hanya kemenangan pribadi, tapi juga representasi generasi muda Jepara yang berani memadukan warisan budaya dengan inovasi.
"Sempat tidak menyangka bisa juara. Tapi memang desain karya yang saya buat orisinil, jarang ada di pasaran," ujarnya Senin (20/10).
Bagi Hasyim, kemenangan ini tak ubahnya merupakan panggilan untuk menghidupkan kembali semangat kolaborasi antara desainer dan industri di Jepara. "Saya berharap ke depan desainer bisa lebih dihargai. Industri dan desainer harus saling menguatkan," tuturnya.
Menyaksikan karya milik Hasyim, tampak lahir dari perpaduan antara imajinasi masa depan dan kebanggaan pada sejarah maritim Nusantara. U-Djoeng Armchair, menjadi simbol baru semangat muda Jepara, mengakar pada tradisi, tapi berlayar menuju masa depan.
Kebetulan yang bukan benar-benar kebetulan. Di usianya yang baru menginjak 35 tahun ini, ia turut mendapatkan apresiasi berupa uang Rp 35 juta karena meraih dua nominasi sekaligus.
Dirinya menceritakan, inspirasi di balik perwujudan karyanya tersebut.
Ia terpantik dari satu pertanyaan sederhana, "Bagaimana caranya membawa furnitur tetap mempertahankan kearifan lokal masa lalu?
Pertanyaan itu menuntunnya menelusuri sejarah Jepara hingga abad ke-16. Dari sana, ia menemukan sosok Jong Java — kapal besar simbol kejayaan dan daya juang masyarakat pesisir.
"Saya banyak membaca tentang masa Ratu Kalinyamat, termasuk periodisasi Majapahit maupun Demak. Hingga sampai pada riwayat kapal Jong Java yang digunakan dalam ekspedisi menyerang Portugis di Malaka," jelasnya.
Baginya, sekalipun kapalnya sudah tak ada, tapi semangat orang masa lampau luar biasa. "Dari situ saya ingin menghadirkan kembali nilai-nilai kejayaan Jepara melalui desain," katanya.
Maka lahirlah U-Djoeng Armchair, sebuah kursi yang terinspirasi bentuk kapal dengan lekuk menyerupai haluan dan buritan. Hasyim menggabungkan material kayu solid dengan teknik konstruksi modern, menciptakan harmoni antara kekuatan dan estetika.
Proses menciptakan karya ini tidak mudah. Setelah ide matang, Hasyim membutuhkan waktu sebulan hanya untuk riset dan eksplorasi konsep. "Saya membuat beberapa versi rangka. Bahkan tiga kali harus mengulang karena hasilnya belum sesuai," ujarnya sambil tersenyum.
Pembuatan gambar desain memakan waktu dua minggu, lalu pembuatan prototipe hingga satu setengah bulan. Rangka diproduksi oleh pemasok di Desa Kecapi, kemudian finishing dilakukan di perusahaan tempatnya bekerja di bidang manufaktur dan R&D.
"Semua prosesnya harus presisi. Setiap lekuk punya makna. Saya juga menyelipkan ukiran khas, sebagaimana apa yang ada di Masjid Mantingan," jelas lulusan Prodi Desain Produk Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara ini.
Meski kini bekerja di sektor manufaktur, Hasyim menyimpan mimpi besar, untuk mendirikan rumah produksi desain di Jepara. Ia ingin membangun ekosistem kreatif tempat para perancang muda bisa belajar, bereksperimen, dan berkarya.
"Dari situ, Jepara bisa melahirkan lagi desainer-desainer yang membawa kebanggaan daerahnya ke level internasional," ujarnya mantap.
Bagi Hasyim, desain bukan sekadar soal bentuk, tapi cara untuk menghidupkan kembali nilai-nilai budaya dalam konteks modern. "Seperti kapal Jong Java," katanya.
Ia juga turut berharap, agar karya ataupun desain dari para partisipan JIFDA 2025 lainnya yang belum mendapatkan nominasi, tetap diinventarisir. Terlebih dapat digandeng oleh perusahaan terkait.
Jepara, yang selama ini dikenal dengan ukiran klasiknya, kini mulai menulis bab baru melalui tangan-tangan muda seperti Hasyim As’at.
Melalui kursi yang menyerupai kapal masa lalu, Hasyim mengingatkan bahwa kejayaan tak selalu datang dari hal besar, kadang bermula dari satu sketsa, satu ide, dan satu keyakinan bahwa sejarah bisa hidup kembali dalam desain.
"Semoga ini menjadi bagian untuk mengembalikan kejayaan Jepara. Dan Jepara, dapat menjadi pusat inspirasi dan kreativitas kembali," tandasnya.(*)
Editor : Mahendra Aditya