Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tifo Raksasa PON Beladiri Kudus 2025, Jadi Simbol Kreativitas dan Kebanggaan

Andika Trisna Saputra • Selasa, 7 Oktober 2025 | 14:37 WIB
MEMUKAU: Pembukaan PON Beladiri menampilkan tifo raksasa dengan gambar Macan Muria, Menara Kudus, dan atlet beladiri, Minggu (5/10). (DOK PRIBADI)
MEMUKAU: Pembukaan PON Beladiri menampilkan tifo raksasa dengan gambar Macan Muria, Menara Kudus, dan atlet beladiri, Minggu (5/10). (DOK PRIBADI)

KUDUS - Dari tangan seniman lokal, karya kolosal tifo raksasa pembukaan PON Beladiri 2025 lahir di Kudus.

Penuh makna, penuh kerja keras, dan sarat filosofi tentang kebanggaan daerah.

Tedi Afrianto (36), koordinator project officer tifo raksasa PON Beladiri 2025 di Kudus, tak pernah menyangka hobinya di dunia seni rupa akan membawanya pada proyek terbesar sepanjang kariernya.

Baca Juga: Mengenal Ahmad Karomi, Penenun Asal Troso, Pecangaan , Jepara yang Mempertahankan Motif Lokal dan Pewarna Alami. Buka Ruang Edukasi dan Tembus Pameran

Bersama tujuh rekannya dari komunitas Kudus Smart Art, ia menciptakan bendera raksasa berukuran 1.250 meter persegi yang sepenuhnya dibuat dengan tangan.

ANDIKA TRISNA SAPUTRA, Kudus

PENGERJAAN tifo spektakuler itu berlangsung selama sepuluh hari penuh di GOR Bung Karno Kudus.

“Awalnya sempat ragu karena ukurannya luar biasa besar. Tapi dengan kerja sama tim dan dukungan banyak pihak, akhirnya bisa diselesaikan,” ujar Tedi yang akrab disapa demikian.

Pekerjaan dimulai dari pembuatan kain berbahan blacu, bahan yang biasa digunakan untuk totebag, hingga pengecatan manual menggunakan cat tembok.

Total berat kain sebelum dicat 400 kilogram, sedangkan total cat yang dibutuhkan mencapai 200 kilogram dengan dominasi warna merah yang mencolok.

Proses pembuatan kain saja memakan waktu enam hari.

Baca Juga: Kedai Rooftop Pertama di Sedan Rembang, Sajikan Sunset dan View Pegunungan

Setelah itu, barulah tim mulai melukis desain utama yaitu Macan Muria, Menara Kudus, dan atlet beladiri yang dikerjakan selama sepuluh hari.

“Filosofinya kami ingin mengangkat ikon kota Kudus. Ini kebanggaan tersendiri karena PON Beladiri kali ini merupakan yang pertama di Indonesia,” ungkap Tedi.

Ukuran tifo mencapai 50 x 25 meter atau sekitar 1.250 meter persegi, menjadikannya karya kolosal yang digadang akan masuk rekor MURI.

Saat ini, rekor yang tercatat dalam MURI yaitu tifo dengan ukuran 45,8 x 24,4 meter pada 5 Juni 2025, yang diperlihatkan dalam laga pembukaan timnas Indonesia melawan China.

Baca Juga: Kisah Pilu Maryono Bersama Asih Widaryari Pejuang Kemanusiaan Asal Demak Dan Sragen Dirikan Madrasah Nurul Jadid Gratikan Semua Santri Yang Belajar

“Kalau benar masuk MURI, ini tentu jadi catatan sejarah bagi Kudus,” imbuhnya.

Proses pengerjaan tidak selalu berjalan mulus.

Hari pertama tim sempat kebingungan mencari lokasi karena belum mendapat izin tempat.

“Untungnya teman-teman dari Disdikpora Kudus langsung membantu,” kenangnya.

Tantangan berikutnya adalah pengeringan.

Karena tifo tak boleh dilipat, kain harus dibentangkan penuh dan dikeringkan selama delapan jam.

Kesulitan lain muncul saat membuat sketsa, dimensi tifo yang sangat besar hanya bisa dibuka separuh di dalam GOR.

Pada saat pembukaan, tifo raksasa itu diangkat oleh 80 orang, terbagi menjadi dua kelompok di kanan dan kiri, yang kemudian menyatukan kedua bagian kain di tengah lapangan.

Berat total kedua kain yang sudah jadi mencapai 600 kilogram, dengan masing-masing bagian sekitar 300 kilogram.

Baca Juga: Tiga Pemenang Hadiah Utama Mlampah Sesarengan Bupati-Wabup Kudus: Memang Ingin Punya Motor Listrik hingga Firasat Dapat Hadiah Utama

“Kami ingin karya ini bukan sekadar visual megah, tapi simbol semangat gotong royong dan cinta tanah air,” ujar Tedi.

Bagi Tedi, dunia seni bukan hal baru.

Ia telah berkecimpung di dunia desain sejak 2012 dan mendirikan komunitas Kudus Smart Art pada 2014 sebagai wadah bagi kreator seni lokal.

Komunitas ini kerap terlibat dalam berbagai proyek mural, tifo, musik, hingga edukasi seni di sekolah.

Baca Juga: Mengenal Sosok Ika Luthfi Putri, Dara Asal Kudus Peraih Juara Nasional yang Jadi Wirausaha Muda

“Kami ingin membuktikan bahwa anak-anak Kudus bisa menciptakan karya besar tanpa harus keluar dari daerah,” tuturnya penuh semangat.

Di luar dunia seni rupa, Tedi juga dikenal sebagai musisi.

Ia pernah menjadi vokalis band lokal Astroboy, dan kini menjadi drummer band Munamuni.

Dari dunia musiklah ia menafkahi kehidupannya sehari-hari, bahkan berhasil membuka sebuah coffeeshop kecil di Kudus.

“Musik dan seni adalah napas hidup saya. Dan tifo raksasa ini, bagi saya, adalah wujud nyata bahwa seni bisa jadi alat pemersatu dan kebanggaan daerah,” katanya dengan senyum lebar.

Ia menambahkan, tifo raksasa bergambar Macan Muria, Menara Kudus, dan atlet beladiri yang berkibar megah di langit pembukaan PON Beladiri 2025, nama Kudus kembali menggema di kancah nasional, bukan hanya karena olahraga, tapi juga karena kreativitas anak daerah yang luar biasa. (dik)

Editor : Mahendra Aditya
#Tifo #muri #pembukaan #PON Bela Diri 2025 Kudus #raksasa