Sebagai seorang yang lahir dan besar di daerah penghasil karya ukir, relief, mebel maupun tenun, Ahmad Karomi merasa resah dengan berbagai limbah yang dihasilkan.
Perhatian akan kelestarian lingkungan mendorongnya memanfaatkan sejumlah limbah dan memelopori penciptaan Tenun Troso dengan pewarna alami.
Ia kemudian menciptakan motif lokal Cakra Manggilingan hingga saat ini terus menjaga warisan leluhur tersebut.
Dirinya juga membuka edukasi, karyanya pun telah mejeng dalam pameran- pameran daerah hingga kaliber nasional.
FIKRI THOHARUDIN, JEPARA, Radar Kudus
Suara kayu beradu berulang-ulang terdengar dari sebuah bangunan sederhana di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara. Seolah nada ini menjadi musik tradisi yang tidak pernah lekang oleh waktu.
Di bawah alat tenun dengan rangka kayu penuh helaian benang, seorang pria duduk dengan khidmat.
Jemarinya lincah, wajahnya fokus, dan matanya berbinar setiap kali sehelai benang tersusun menjadi motif. Pria itu adalah Ahmad Karomi, atau akrab disapa Romi.
Di usianya yang baru menginjak 36 tahun, ia telah menjadi bagian penting dari gerakan pelestarian wastra tenun Troso.
Perjalanan yang ditempuhnya bukan sekadar melanjutkan tradisi, melainkan juga upaya menjawab keresahan lingkungan yang telah lama ia rasakan.
Romi lahir dan tumbuh besar di Jepara, daerah yang terkenal dengan seni ukir, mebel, relief, dan juga tenun.
Sejak kecil, ia terbiasa menyaksikan aktivitas warga yang tak lepas dari dunia kerajinan. Namun, di balik keindahan yang lahir dari tangan-tangan kreatif itu, Romi melihat sisi lain yang mengkhawatirkan.
Bertahun-tahun ia menyaksikan bagaimana limbah pewarna sintesis dari proses menenun dibuang begitu saja ke sungai.
Air yang dulu jernih perlahan berubah warna. Kendati tidak begitu berbau, namun sumur warga yang selama ini menjadi sumber mata air lamat-lamat ikut tercemar.
Beberapa sumur bahkan terpaksa ditutup karena tidak lagi layak dipakai.
"Waktu itu saya merasa ada yang tidak beres. Kita bangga dengan tenun Troso, tapi di sisi lain lingkungan yang kita tinggali jadi korban. Kalau dibiarkan, anak cucu kita tidak akan punya warisan selain sungai kotor," ungkap Romi Selasa (30/9).
Dari keresahan itu, lahirlah tekad. Romi berani mengambil jalur berbeda dengan mayoritas perajin lain. Ia menggunakan pewarna alami untuk setiap helai tenunannya.
Kendati langkah itu tidak mudah. Proses pewarnaan alami membutuhkan eksplorasi panjang dan kesabaran tinggi.
Romi mulai mencoba berbagai bahan yang ada di sekitarnya. Seperti limbah kulit kayu mahoni, tanaman indigofera yang tumbuh liar di pinggir jalan, hingga daun mangga yang sering terabaikan.
Dari eksperimen-eksperimen ini, lahirlah warna biru pekat, cokelat hangat, merah lembut, hingga nuansa lain yang menawan.
"Pada tahun 2015 saya masih pakai pewarna sintesis. Tapi akhir 2016, saya mantap meninggalkannya. Walau lebih lama prosesnya, saya merasa inilah cara saya menjaga bumi dan memberi cerita baru pada wastra Troso," terangnya.
Setiap kain yang lahir dari tangannya bukan hanya karya seni, melainkan juga pesan tentang keberlanjutan. Bahwa keindahan bisa tetap tercipta tanpa harus merusak alam.
Proses Panjang, Ruh yang Tertanam
Membuat sehelai wastra Troso dengan pewarna alami tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa. Romi harus melalui 13 tahapan.
Mulai dari penguraian benang, penentuan desain, pengikatan motif dengan tali, pencelupan berulang, hingga penguncian warna menggunakan air tawas, kapur, atau air abu.
Proses itu bisa berlangsung berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Namun bagi Romi, setiap tahap adalah perjalanan spiritual.
"Saya ingin setiap lembar kain punya ruh, bukan sekadar produk," tuturnya.
Karena produksi yang rumit, Romi hanya mampu menghasilkan sekitar tujuh potong ikat pakan dan 30-an ikat lungsi per bulan. Angka yang kecil dibandingkan perajin besar, tapi Romi memilih mempertahankan kualitas, bukan kuantitas.
Di tengah kesibukannya sebagai penggiat seni, Romi tidak bekerja sendiri. Ia dibantu oleh sang istri, hingga tetangga sekitar sering dilibatkan dalam proses menenun.
Baginya, wastra Troso tidak hanya milik dirinya, melainkan juga milik komunitas.
"Ini bukan hanya tentang kain, tapi juga ruang untuk berbagi rezeki," tambahnya.
Salah satu motif yang kini tengah ia kembangkan adalah Cakra Manggilingan yang terdiri dari beberapa episode.
Motif ini tidak lahir sembarangan, melainkan terinspirasi dari tembang-tembang macapat Jawa. Cakra Manggilingan menyimbolkan siklus kehidupan manusia, mulai dari dalam kandungan, lahir, tumbuh dewasa, hingga akhirnya meninggal.
"Motif ini mengingatkan kita bahwa hidup itu berputar. Ada awal, ada akhir. Saya ingin pesan itu tertanam di selembar kain," jelasnya.
Harga selembar wastra Cakra Manggilingan bervariasi, mulai Rp 100 ribu hingga Rp 850 ribu, tergantung ukuran. Yang kecil biasanya dibanderol Rp 100 ribu, ukuran sedang sekitar Rp 350 ribu, sementara lembar besar bisa mencapai Rp 850 ribu.
Meski produksinya terbatas, karya Romi berhasil menembus pasar yang luas. Kolektor wastra, desainer busana, hingga pengelola resort menjadi pelanggannya.
Pemesanan acapkali datang dari Bali dan Jakarta. Tidak jarang pula ia menerima order dari luar Jawa, seperti Sumatera, Sulawesi, NTT, Maluku, hingga Kalimantan.
Tak hanya itu, Romi juga kerap diminta untuk berbagi ilmu melalui workshop. Salah satunya di Bandar Lampung, di mana ia memperkenalkan teknik pewarna alami kepada khalayak luas.
"Saya ingin semakin banyak orang yang tahu dan peduli, tidak hanya terhadap motif lokal tapi juga nilai-nilai di dalamnya. Karena kalau hanya saya, gerakan ini kecil. Tapi kalau banyak yang ikut, dampaknya besar," harapnya.
Bagi Romi, menenun bukan sekadar menganyam benang menjadi kain. Di balik setiap helai wastra, ada pesan tentang lingkungan, kearifan lokal, dan harapan masa depan.
Ia ingin generasi mendatang tidak hanya mewarisi kain indah, tetapi juga alam yang lestari.
"Kalau hanya mencari keuntungan, pewarna sintetis jelas lebih cepat. Tapi apa gunanya kalau di kemudian hari anak cucu kita kesulitan mencari air bersih?" ucapnya.
Kini, di dalam komunitas bernama Omah Petrok tempat ia berkarya, suara kayu beradu dengan benang terus terdengar setiap hari.
Di tempat inilah ia bersama sang istri membuka ruang pelatihan dan workshop, yang tak jarang dikunjungi oleh siswa-mahasiswa ataupun masyarakat umum yang ingin belajar menenun.
Karya-karyanya juga tak jarang mejeng dalam pameran nasional. Seperti dalam penyelenggaraan Festival Payung Indonesia ataupun aksi yang beririsan dengan perubahan iklim.
Bagi Romi, setiap denting itu adalah doa. Doa agar warisan leluhur tetap bertahan, doa agar bumi tetap terjaga, doa agar motif lokal tidak hanya jadi pajangan museum, tetapi hidup di tengah masyarakat.(*)
Editor : Ali Mustofa