Meski masih berstatus mahasiswa, Ika Lutfiati Putri (21) mampu membuktikan diri.
Prestasi nasional berhasil diraih, sementara usaha kerupuk bawangnya kini menjangkau pasar hingga ratusan kilogram per bulan.
ANDIKA TRISNA SAPUTRA, Kudus, Radar Kudus
Kiprah mahasiswi asal Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog, Kudus, ini patut diapresiasi.
Di usia 21 tahun, Ika Lutfiati Putri sukses menorehkan prestasi nasional sekaligus membangun usaha rumahan yang terus berkembang.
Mahasiswi semester tujuh Prodi Akuntansi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kudus ini dikenal aktif mengikuti lomba sejak awal kuliah.
Tahun 2022, ia meraih juara tiga lomba interpretasi Gurindam 12.
Dua tahun kemudian, ia kembali mengharumkan nama kampus dengan menyabet juara tiga lomba esai tingkat nasional yang diselenggarakan Kopma Universitas PGRI Semarang.
"Alhamdulillah bisa meraih juara, meski awalnya hanya coba ikut lomba. Itu semua berkat dukungan dosen dan organisasi Kopma," ujar Ika.
Tak berhenti pada dunia akademik, Ika juga menyalurkan minatnya pada kewirausahaan.
Berawal dari iseng mencoba membuat kerupuk bawang di rumah, usahanya kini menjelma menjadi produksi harian.
Setiap hari, bersama keluarganya, ia mampu menghasilkan 7–10 kilogram kerupuk. Dalam sebulan, penjualannya bahkan tembus lebih dari 100 kilogram.
”Dulu cuma coba-coba bikin camilan, lalu ditawarkan ke kerabat dan warung. Sekarang sudah dipasarkan secara offline dan online,” kata Ika sambil tersenyum.
Kesibukannya semakin padat setelah terpilih menjadi Ketua Umum Koperasi Mahasiswa UIN Sunan Kudus tahun ini.
Meski begitu, ia tetap mampu menjaga keseimbangan antara kuliah, organisasi, dan usaha.
Bahkan mulai September hingga Desember 2025, Ika dipercaya mengikuti magang sebagai fasilitator pendamping UMKM di program Mobile Marketing Syariah.
Prestasi nasional, bisnis yang berkembang, hingga kepemimpinan di organisasi membuat Ika semakin mantap menatap masa depan.
Ia bertekad melanjutkan usahanya setelah lulus, dengan menambah varian produk sekaligus merambah ke bisnis kreatif seperti seserahan, parsel, hingga jasa wedding organizer.
”Saya memang ingin fokus di dunia bisnis setelah lulus. Selain camilan, saya ingin mengembangkan usaha kreatif yang punya nilai tambah,” ungkapnya.
Bagi Ika, prestasi di tingkat nasional hanyalah pintu pembuka. Usaha yang ia jalankan kini adalah langkah nyata untuk mandiri.
Semangatnya menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain bahwa kuliah, berprestasi, dan berwirausaha bisa berjalan beriringan. (dik)
Editor : Ali Mustofa