Ia mewarisi resep dari kakeknya yang bernama Parto Pasiman.
EKO SANTOSO, Blora
Tangannya lincah menyuwir daging ayam kampung. Kemudian meracik berbagai bahan.
Ia masukkan ke mangkok satu per satu. Mulai dari nasi, daun bawang, bihun, suwiran ayam, hingga telur dan kletuk.
Setelah semua bahan dirasa cukup, Solikin kemudian menyerahkan mangkok itu ke istrinya, Susilowati. Sang istri kemudian menyiram isi mangkok dengan kaldu.
Bau sedap pun seketika menyeruak. Soto kletuk Mbah Gowak siap disajikan. Diantar ke pembeli yang sudah mengantre.
Solikin mengakau, mulai berjualan soto kletuk Mbah Gowak sejak 2007 silam. Meneruskan usaha kakeknya. Ia merupakan generasi kedua.
”Nggak tahu kenapa, sebelum meninggalnya mbah, milih saya untuk meneruskan (jualan soto kletuk Mbah Gowak). Jadi, setelah mbah tidak ada pada 2007, saya yang meneruskan," paparnya.
Soto kletuk Mbah Gowak sudah melegenda di Bumi Samin. Sebab, sudah dikenal sejak 1950-an.
Saat itu, kakeknya Solikin berjualan dari kampung ke kampung. Kemudian pada acara rakyat.
”Sempat juga di bawah sirine Alun-alun Blora. Kemudian setelah 1973, pindah di Rumah Makan Gajah, sekarang depan BRI Blora," tuturnya.
Menurutnya, kakeknya tidak bernama Gowak. Gowak merupakan sebutan.
Karena sang kakek dianggap jualan sego dan iwak (nasi dan lauk). Sebutan mudah untuk mengatakan jika Parto Pasiman jualan soto.
”Maksudnya dodolane sego iwak. Ada sego ada iwak. Ya soto itu. Penyebutan yang mudah dan simpel," jelasnya.
Seiring berjalannya waktu, sang kakek kemudian dimakan usia. Parto Pasiman kemudian mengamanahi Solikin untuk melanjutkan usaha itu.
”Sejak 2007 saya melanjutkan. Awalnya meneruskan usaha di Rumah Makan Gajah. Kurang lebih lima tahun," bebernya.
Kemudian pada 2011-2012, usaha itu pindah tempat. Yakni ke Seso. Di Seso hanya setahun. Lantas sempat vakum.
”Baru pada 2018 buka lagi di rumah sendiri. Di Jalan Gunung Lawu 93E Blora. Sampai sekarang," jelasnya.
Menurutnya, soto kletuk Mbah Gowak memiliki ciri khas. Selain rasa kletuk yang gurih, juga rasanya yang sedap.
Kletuk sendiri merupakan ciri khas Blora. Yakni semacam toping dari ketela pohong yang ditumbuk, diiris, dan dijemur. Lalu Digoreng kotak kecil-kecil dan dijadikan taburan di atas soto.
”Jadi, kalau makan soto ada suara kletuk… kletuk….
Selain itu, ciri khas lain soto kletuk Mbah Gowak adalah penggunaan ayam kampung 100 persen. Bukan ayam boiler, sehingga menambah rasa nikmat.
”Kami buka setiap hari. Pukul 8 pagi sampai 9 malam (08.00-21.00). Kalau pagi yang jaga istri. Kalau malam saya," jelasnya.
Penikmat soto kletuk Mbah Gowak beranekaragam. Selain warga sekitar, orang dari luar kota, hingga pejabat di Blora.
”Pak Bupati, Pak Sekda, dan lain-lain sering beli di sini. Kadang saya diundang di acara-acara pemkab," ujarnya.
Menurutnya, selain resep makanan yang telah turun-temurun, dalam berdagang ia menikmati, sehingga bisa konsisten.
”Melakoni dengan senang hati. Kerja dengan senang hati dan tulus. Semakin menyenangi profesi, dengan sendirinya akan ada kemudahan-kemudahan yang terbuka. Juga konsisten," imbuhnya.
Editor : Ali Mustofa