Shifa Nur Intania dan Lu`lu Ulmaknun menghabiskan waktu lebih dari sebulan untuk menciptakan media tanam berbahan limbah mebel.
Hasilnya, karya dua siswa MAN 1 Jepara itu, telah mendapat penghargaan tingkat kabupaten hingga nasional.
Atas karyanya itu pula, salah satu dari keduanya mendapat kesempatan masuk kuliah tanpa tes.
Serbuk gergaji dari beragam jenis kayu dikumpulkan Shifa Nur Intania dan Lu`lu Ulmaknun dalam wadah yang disimpan di laboratorium MAN 1 Jepara.
Serbuk-serbuk tersebut, didapatkannya dari beberapa industri mebel yang ada di sekitar tempat tinggalnya.
Serbuk tersebut, merupakan sisa dari bahan riset mereka yang telah sukses menciptakan sebuah nanocell hidroton, atau media tanam, yang berasal dari limbah mebel.
Karya ilmiah itu, tercipta setelah keduanya melihat banyaknya limbah mebel yang tak terpakai begitu saja.
Entah itu di sekitar rumah Shifa di Desa Pekalongan, Batealit, Jepara, atau di sekitar rumah Lu’lu di Desa Kecapi, Tahunan.
”Sebagian besar kalau selesai dibakar begitu saja,” ungkapnya.
Senada dengan Lu’lu, Shifa menilai selama ini limbah kayu mebel berupa serbuk gergaji itu, tak ada harganya.
Mereka pun berpikir keras, bagaimana bisa membuat terobosan menarik dari barang yang berharga, menjadi bermanfaat.
Akhirnya, setelah melakukan beberapa kali percobaan, mereka sepakat menjadikan limbah mebel berupa serbuk gergaji kayu untuk jadi media tanam.
”Kami riset selama kurang lebih sebulan untuk trial error dari komposisinya, bahan-bahannya. Kami memiliki pembaharuan. Dari biasanya hidroton menggunakan cocopeat, kami gunakan limbah kayu mebel yang diformulasikan dengan limbah tanah liat,” papar Shifa menambahkan.
Hasilnya, karya mereka terbukti ampuh. Mereka melakukan uji coba dengan tiga pohon cabe rawit dengan media tanam yang berbeda.
Berupa nanocell hidroton karya Shifa dan Lu’lu. Lalu hidroton komersial dan hidroton tanah liat.
Dari ketiga variasi hidroton itu, cabe rawit yang ditanam di media nanocell hidroton ciptaan Shifa dan Lu’lu lebih subur.
”Catatannya cukup signifikan. Pertambahan daun, akarnya, cukup tinggi,” ungkapnya antusias.
Atas capaian itu, mereka pun sepakat mengikutkan hasil karya ilmiah mereka itu ke beberapa ajang perlombaan di tangka kabupaten hingga nasional.
Hasilnya, di tingkat Kabupaten Jepara di ajang Jepara Inovation Award. Keduanya diganjar juara harapan III.
Sementara di tingkat nasional dalam lomba Airnology yang diselenggarakan Universitas Airlangga Surabaya, kedua siswa kelas XII MAN 1 Jepara itu, mendapat juara II.
Tak hanya itu, prestasi tersebut dimanfaatkan oleh Lu’lu untuk mendaftar kuliah.
Hasilnya, ia diterima kuliah jurusan Ilmu Lingkungan Universitas Negeri Semarang (Unnes) tanpa tes.
Sedangkan Shifa, memutuskan untuk mendaftar jurusan kedokteran di Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta.
Keduanya sepakat, hasil karya tersebut tak akan berhenti sampai di situ. Namun, mereka bertekad untuk bisa terus mengembangkan.
”Harapannya, ke depan karya ini bisa dipasarkan,” imbuhnya. (Moh Nur Syahri Muharrom)
Editor : Ali Mustofa