JEPARA - Di tengah stigma negatif yang melekat pada guru matematika sebagai sosok yang menakutkan, Ariyanti Utari Latifah muncul sebagai angin segar.
Perempuan 21 tahun asal Desa Karangnongko, Nalumsari, Jepara ini membuktikan bahwa mengajar matematika bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan jauh dari kesan killer.
Lulusan Cerdas dengan Segudang Aktivitas
Ariyanti, yang baru saja menyelesaikan studinya di Program Studi Matematika Fakultas Tarbiyah IAIN Kudus pada Juli 2024 lalu, tidak hanya unggul secara akademik.
Selama menjadi mahasiswa, ia aktif berorganisasi di Dewan Mahasiswa (Dema) dan Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), bahkan pernah menjabat sebagai bendahara hingga koordinator.
"Pengalaman organisasi ini sangat membantu saya dalam berinteraksi dengan berbagai karakter orang," ujar Ariyanti.
Metode Mengajar yang Menyenangkan
Sambil menunggu pembukaan Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Universitas Negeri Semarang (Unnes), Ariyanti kini aktif memberikan les privat kepada siswa SMP dan SMA.
Ia mengembangkan metode pembelajaran yang berbeda, jauh dari kesan menakutkan yang biasanya melekat pada guru matematika.
"Saya lebih suka menyampaikan pelajaran melalui game atau kuis. Siswa jauh lebih antusias dan mudah memahami materi," jelasnya.
Inspirasi dari Guru Matematika Masa Lalu
Ketertarikan Ariyanti pada dunia pendidikan matematika berawal dari pengalamannya sendiri sebagai siswa SMA.
Ia memiliki dua guru matematika dengan karakter berbeda - satu sangat killer dan satu lagi tegas namun penyayang.
"Dari situ saya belajar bahwa menjadi guru tidak harus killer untuk membuat siswa serius belajar. Pendekatan yang humanis justru lebih efektif," kenangnya.
Membuktikan Aktivis Bisa Lulus Tepat Waktu
Sebagai anak pertama dari dua bersaudara, Ariyanti merasa bertanggung jawab untuk tidak membebani orang tuanya.
Meski aktif berorganisasi, ia berhasil menyelesaikan studinya tepat dalam empat tahun.
"Saya ingin membuktikan bahwa aktivis bisa lulus tepat waktu. Ini juga bentuk tanggung jawab saya pada orang tua," tegas perempuan yang kini bekerja di sebuah lembaga pelatihan di Kudus ini.
Karya Ilmiah yang Inovatif
Skripsi dan jurnal Ariyanti yang mengangkat tema "Pengembangan E-LKPD Matematika Berbasis Problem Based Learning" menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan metode pembelajaran matematika yang lebih menarik.
Ia percaya bahwa matematika bukanlah pelajaran yang menakutkan, melainkan tantangan yang bisa dipecahkan dengan pendekatan yang tepat.
Pesan untuk Perempuan Muda
Ariyanti juga menyampaikan pesan motivasi bagi perempuan muda. "Perempuan juga bisa berdaya, berkarya, dan berkarir sesuai minatnya.
Kita tidak harus bergantung pada orang lain," ujarnya dengan penuh keyakinan.
Dengan semangat ini, Ariyanti bertekad untuk terus menginspirasi siswa dan mengubah stigma negatif tentang guru matematika.(*)
Editor : Mahendra Aditya