Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

SOSOK Yayang Dini Nur Frihartini: 9 Tahun Jadi Guru TK, Menebar Kebaikan Lewat Dongeng Kepada Anak-Anak

Intan Maylani Sabrina • Selasa, 18 Februari 2025 | 00:04 WIB
MENDONGENG: Pendongeng asal Grobogan, Yayang Dini saat bertemu anak-anak.
MENDONGENG: Pendongeng asal Grobogan, Yayang Dini saat bertemu anak-anak.

RADAR KUDUS - Berbekal pengalaman sembilan tahun sebagai guru TK, Yayang Dini Nur Frihartini memilih jalur yang lebih dalam untuk mendidik anak-anak: menjadi pendongeng.

Lewat cerita yang menarik, ia berupaya menanamkan nilai-nilai kebaikan tanpa kesan menggurui.

Menanggalkan Profesi Demi Dongeng

Tak main-main, Yayang bahkan rela meninggalkan profesinya sebagai guru demi fokus mendongeng.

Sudah hampir 12 tahun ia setia menggeluti dunia dongeng, dengan semangat tinggi untuk terus mengasah kemampuannya. Berbagai pelatihan mendongeng diikuti, dari Grobogan hingga Yogyakarta, demi menyempurnakan teknik bercerita.

Minatnya terhadap dongeng sudah tumbuh sejak kecil. Kakeknya yang gemar bercerita dengan bahasa Sunda menjadi inspirasinya.

Kebiasaannya berbicara di depan umum pun semakin menguatkan tekadnya untuk menekuni dunia dongeng.

“Ketika mengajar di TK di Bandung selama lima tahun, saya sadar betapa pentingnya skill mendongeng.

Lalu, setelah menikah pada 2011 dan pindah ke Grobogan, saya mulai mengikuti les mendongeng yang dibuka Kak Erwin saat itu,” kenangnya.

Meskipun banyak peserta kursus datang dan pergi, Yayang tetap konsisten.

Bagi dia, setiap pertemuan adalah kesempatan emas untuk memperdalam pengalaman dan bertanya lebih banyak kepada pelatih.

Ikatan Pencerita dan Misi Menyebarkan Dongeng

Pada 2013, Yayang bersama pendongeng lain membentuk Ikatan Pencerita Anak Muslim (IPAM) di Grobogan.

Organisasi ini bertujuan meningkatkan minat baca anak-anak melalui dongeng.

“Inisiatif ini muncul karena saya prihatin melihat rendahnya minat baca anak-anak. Maka, kami mengadakan parade cerita dan mulai mendapat banyak tawaran mendongeng, baik sendiri maupun bersama teman-teman,” ujarnya.

Kini, hampir setiap pekan Yayang mendongeng di berbagai tempat—mulai dari rumah sakit, sekolah, panti asuhan, perpustakaan, hingga di tempat-tempat pengungsian.

Ia juga sering diundang ke kota lain seperti Kudus, Jepara, dan Semarang.

“Sering kali saya mendongeng secara sukarela, terutama untuk kegiatan sosial atau sekolah-sekolah di pelosok yang minim anggaran.

Kalau ada budget dari pengundang, tentu ada tarifnya.

Tapi bagi saya, bayaran paling besar adalah melihat tawa dan senyum anak-anak,” ungkapnya.

Karakter Boneka dan Pesan Moral

Seiring berjalannya waktu, Yayang dan timnya menciptakan karakter boneka sendiri untuk mendukung pementasan dongeng.

Ada empat tokoh utama yang menjadi andalan: Dondong, Cenul, Si Moli, dan Grobi.

Setiap karakter memiliki kepribadian berbeda, yang membantu menyampaikan pesan moral kepada anak-anak.

“Anak-anak lebih mudah memahami nilai kebaikan jika disampaikan melalui cerita yang menyenangkan.

Dongeng adalah cara efektif untuk menanamkan nilai-nilai seperti sopan santun, persahabatan, dan kepedulian,” jelasnya.

Meski tak selalu menentukan tema dalam setiap penampilannya, ia tetap menyesuaikan isi cerita dengan acara yang mengundangnya.

“Kalau di sekolah, saya bawakan tema yang sesuai dengan dunia pendidikan. Yang penting, selalu ada pesan moral yang bisa diserap anak-anak,” tambahnya.

Tantangan dan Pengalaman Berkesan

Selama lebih dari satu dekade mendongeng, Yayang telah mengalami berbagai momen unik. Salah satu pengalaman paling berkesan terjadi saat ia mendongeng di PAUD.

“Saya mengeluarkan boneka, tapi anak-anak malah takut. Satu anak menangis, yang lain ikut menangis semua. Tapi saya tetap lanjut mendongeng.

Mereka penasaran, meski sambil menutup muka dengan tangan, mereka tetap mengintip dari sela-sela jari mereka,” kisahnya sambil tertawa.

Dengan latar belakang sebagai guru, Yayang merasa lebih mudah memahami karakter anak-anak.

Namun, tantangan terbesar baginya adalah melatih suara agar bisa membawakan berbagai karakter.

“Butuh hampir setahun untuk bisa melatih suara yang berbeda-beda. Sekarang, saya bisa memerankan tujuh karakter suara yang berbeda,” ujarnya bangga.

Bagi Yayang, mendongeng bukan sekadar hobi atau profesi, tapi juga misi untuk menanamkan kebaikan kepada generasi muda.

Dengan semangat dan ketulusan, ia terus menebarkan kebahagiaan melalui setiap cerita yang ia bawakan. (*)

Editor : Mahendra Aditya
#grobogan #pendongeng anak #pendongeng #guru tk