DESA Bantrung, Kecamatan Batealit, menjadi contoh desa yang maju dan kreatif.
Berkat kepemimpinan Nur Sholeh, Petinggi atau Kepala Desa Bantrung, desa ini telah mengalami banyak perubahan positif.
Suara gamelan yang ditabuh secara perlahan terdengar di komplek Balai Desa Bantrung, menjadi bukti bahwa desa ini memiliki semangat untuk melestarikan kesenian tradisional.
Latihan gamelan ini diikuti oleh anak-anak Desa Bantrung dan menjadi salah satu program yang digagas oleh Sholeh untuk meningkatkan kreativitas para pemuda.
“Kami bekerja sama dengan SD. Ada pelatihnya. Yang mau latihan, nanti akan dilatih,” ungkap Sholeh.
Tak hanya latihan gamelan, namun juga karawitan, hingga tari-tarian. Di tangan Nur Sholeh, di balai desa juga dimanfaatkan para pemuda untuk latihan pencak silat.
”Atletnya sudah sampai tingkat nasional, tapi belum juara,” ungkap Sholeh saat ditemui kemarin.
Selain itu, Sholeh juga mengoptimalkan Badan Usaha Milik Desa (BUMdes) yang memiliki usaha pemasangan wifi.
Saat ini, sudah ada sekitar 600 pelanggan, dan menghasilkan keuntungan sekitar Rp 13 juta per bulan.
“Sistemnya yang minat. Kami tidak memonopoli. Kami kasih paket Rp 100 ribu perbulan, ada yang Rp 150 ribu. Yang Rp 150 ribu, nanti gratis BPJS Ketenagakerjaan,” jelas Sholeh.
Dengan berbagai inovasi yang diberikannya, Sholeh berharap Desa Bantrung bisa sejahtera.
Desa ini memiliki potensi alam yang cukup menjanjikan, seperti pertanian dan peternakan.
”Kami dorong para pemuda,” tegas Sholeh.
Sholeh merupakan contoh pemimpin yang kreatif dan peduli dengan masyarakatnya.
Ia membuktikan bahwa dengan kepemimpinan yang baik, desa dapat berkembang dan maju. (rom/ali)
Editor : Ali Mustofa