ANDIKA TRISNA SAPUTRA, Kudus, Radar Kudus
KREATIVITAS tanpa batas membawa Ngatmin, seorang perajin biola bambu asal Desa Japan, Kudus, menembus pasar Malaysia hingga Hongkong. Ia memproduksi karya unik, biola dan gitar dari bambu.
Ini berawal dari keinginan memanfaatkan sisa bahan baku bambu. Pria yang akrab disapa Mbah Min ini sukses menciptakan alat musik bernilai seni tinggi yang diminati para pecinta musik.
Perjalanan kreatif Mbah Min dimulai pada 2014, ketika ia menciptakan biola berbahan bambu patung.
Sebelumnya, ia telah belajar membuat biola kayu di Bogor pada 2009, setelah bertahun-tahun bekerja sebagai tukang mebel di Jepara sejak lulus SD.
Namun, ide membuat biola bambu muncul setelah ia kembali ke Kudus pada 2013. Hingga pada November 2024, Ia menemukan ide lagi untuk membuat gitar dari bambu.
”Awalnya sisa batang bambu dari pembuatan biola itu tak bisa digunakan lagi atau hanya dibuang. Akhirnya, saya manfaatkan untuk membuat gitar. Kalau gitar bambu ini termasuk produk baru, baru mulai tiga bulanan,” ujarnya pada Kamis (6/2).
Dalam prosesnya, satu batang bambu petung sepanjang delapan meter dapat menghasilkan tiga biola atau dua gitar.
Untuk menyambung bambu hingga memiliki permukaan lebar, ia menggunakan lem khusus. Menurutnya, kualitas bambu petung adalah yang terbaik untuk resonansi suara.
Keunikan biola dan gitar bambu Mbah Min tak hanya terletak pada bahan dasarnya, tetapi juga pada detail seni yang ditambahkan. Ia mengukir motif wayang dan garuda pada leher biola, serta memberikan corak batik pada covernya.
”Itu kan ciri khas dari Indonesia,” kata Mbah Min.
Selain alat musik, ia juga membuat miniatur Menara Kudus dari limbah kayu jati. ”Daripada limbah itu sia-sia menjadi kayu bakar, lebih baik dijadikan karya seni,” tambahnya.
Dalam proses produksi, Mbah Min mengaku tidak menghadapi kendala berarti. Namun, tantangan terbesar ada pada pemasaran.
“Saya sangat bersemangat jika ada pesanan, tetapi memang penjualannya masih perlu dorongan lebih,” katanya.
Meski begitu, karyanya telah terjual ke berbagai pulau di Indonesia, bahkan hingga Malaysia dan Hong Kong.
“Alhamdulillah, meskipun tidak bisa dijadikan pendapatan utama karena bukan kebutuhan pokok, saya tetap bersyukur. Saya masih bekerja sebagai tukang kayu hingga kini,” ujarnya.
Saat ini, gitar bambu baru dikembangkan selama tiga bulan terakhir sebagai kelanjutan dari biola bambu. Mbah Min berharap inovasinya semakin dikenal dan diminati. Apalagi, dalam waktu dekat, katanya, Pemerintah Kabupaten Kudus berencana mengadakan ekstrakurikuler seni musik biola di sekolah-sekolah.
”Harapan saya, program ini bisa mendorong penjualan biola bambu dan mengenalkan lebih banyak orang pada alat musik unik ini,” tuturnya.
Bagi Mbah Min, ketekunan adalah kunci utama dalam berkarya. “Yang penting tekun, istiqomah. Apapun yang kita tekuni, insyaallah akan membuahkan hasil,” pungkasnya. (*/him)
Editor : Noor Syafaatul Udhma