Ada yang berbeda dari durian milik warga Desa Ngetuk, Gunungwungkal, Pati, Zumrotus Sholelah.
Pembeli secara khusus mencari durian yang sudah dimakan tupai. Mereka percaya ada khasiat tersendiri.
ANDRE FAIDHIL FALAH, Radar Kudus, Pati
Warung durian milik Zumrotus ramai dikunjungi pembeli. Durian warga RT 1/RW 3, Desa Ngetuk, Kecamatan Gunungwungkal, Pati, itu menjadi primadona.
Warga dari berbagai wilayah. Baik dari Pati sendiri dan dari kabupaten tetangga, seperti Rembang datang untuk mencicipi durian lokal yang dipetik langsung dari pohon.
Perempuan yang akrab disapa Bu Zum itu menunjukkan beberapa duren miliknya. Baunya memang khas. Aromanya pekat. Bahkan sebelum dibelah buahnya.
Uniknya, banyak pembeli yang mencari durian sisa dimakan tupai. Durian jenis ini, dipercaya memiliki rasa yang lebih nikmat dan dianggap bisa membantu program kehamilan.
”Durian lokal sisa dimakan tupai ini, banyak dicari orang. Katanya rasanya paling enak. Ada juga yang percaya bisa membantu program kehamilan," ungkap Zum.
Beberapa pelanggan bahkan memberikan testimoni, bahwa setelah memakan durian sisa tupai, ternyata rasanya lebih enak.
”Alhamdulillah, banyak yang sudah memberi testimoni. Ada yang dari Kecamatan Tambakromo dan Margoyoso, bahkan Rembang. Bahkan seorang suster dari rumah sakit di Tayu juga akhirnya punya anak setelah makan durian sisa tupai itu," ungkapnya.
Kepercayaan ini, telah ada secara turun-temurun di daerahnya. Meski ia sendiri tidak mengetahui asal-usulnya.
Dia sendiri telah menjual durian lokal selama enam tahun. Namun, nama warungnya baru dikenal luas pada tiga tahun terakhir.
Zum menjual berbagai jenis durian lokal, seperti petruk dan jempret hingga durian impor seperti musang king. Durian lokal dipetik langsung dari pohon.
Mengingat wilayah Gunungwungkal berada di lereng Pegunungan Muria yang cocok untuk perkebunan durian.
Harga durian di warung Zum bervariasi. Mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 150 ribu. Tergantung ukuran dan jenis.
Namun, durian dengan harga Rp 75 ribu hingga Rp 80 ribu paling banyak diminati pembeli.
”Kalau hari libur saya bisa menjual sampai 600 buah durian," ujarnya.
Duren dari Kecamatan Gunungwungkal menjadi primadona dan laris manis di warungnya.
Bahkan, beberapa pembeli secara khusus mencari durian yang sudah dimakan tupai, karena dipercaya dapat membantu mempermudah mendapatkan keturunan.
Salah satu pembeli, Eko datang dari Kecamatan Batangan, Pati, untuk menikmati durian lokal milik Zum. Ia mengaku sudah beberapa kali membeli durian di sini.
”Rasanya enak, manis, legit, dan harganya juga murah. Jadi, ramah di kantong," ujarnya.
Eko pun membeli beberapa durian. Memang niatnya mencari yang bekas tupai. Sayangnya, sudah habis.
”Niatnya ya seperti itu (membeli durian bekas tupai, Red). Tapi malah pas habis. Daripada sudah sampai sini tidak makan durian, akhirnya beli yang apa adanya aja,” imbuhnya. (*/lin)
Editor : Ali Mustofa