INTAN MAYLANI SABRINA, Grobogan, Radar Kudus
DI tengah kesibukannya di kantor Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) sebagai aparatur sipil negara, perempun berhijab ini, menyempatkan diri untuk berbincang sejenak dengan Jawa Pos Radar Kudus.
Perempuan bernama Petra Paramita ini, dengan ramah menceritakan tentang karirnya menjadi ASN.
Dimulai pada 2015. Baru setahun menjadi ASN, dia merasa ”gatal” ingin punya samben. Akhirnya dia membuka bisnis. Saat itu, perempuan kelahiran Tangerang, 6 Agustus 1989 ini, mulai menekuni bisnis fashion hijab.
Namun sebelumnya, sang suami yang juga seorang ASN telah lebih dulu atau pada sejak 2010 menggeluti bisnis game centre.
Kondisi bisnisnya itu, berubah ketika pandemi Covid-19 datang. Petra Paramita bersama suami harus merelakan menutup bisnis dan menjual seluruh komputer untuk game centre itu.
Dari penjualan aset tersebut, mereka gunakan untuk membuka restoran pada 2022 lalu. Ide bisnis kuliner tersebut, muncul karena selama ini, Petra punya hobi masak.
Tak disangka, bak pepatah ”iseng-iseng berhadiah”. Dari memutuskan berbisnis kuliner untuk menyalurkan hobi, kini malah sukses.
”Meski sibuk bisnis juga, bukan berarti mengalahkan pekerjaan utama sebagai ASN. Waktu kerja sebagai ASN tetap utama, karena bisnis sudah dibantu karyawan. Saya hanya kroscek periodik," ungkap ibu tiga anak ini.
Bisnis kulinernya pun dibuat berbeda daripada kafe dan resto lain yang ada di Kota Purwodadi, Grobogan.
Perempuan yang tinggal di Jalan Harjuna 2, Nomor 4, Kecamatan Purwodadi, Grobogan, ini mengunggulkan menu nusantara dengan resep sendiri.
”Kalau yang lain menunya cepat saji, kalau di sini menu Indonesia-Western yang pembuatannya membutuhkan chef. Menunya antara lain, nasi jenggo khas Bali, ayam taliwang, soto Betawi, dan soto mi bogor," ungkap perempuan yang disapa Mita ini.
Konsepnya pun berupa resto keluarga dengan nuansa pinggir sawah. Keindahan view tersebut, menjadi salah satu daya tarik tersendiri.
Mita juga menceritakan pengalaman menarik yang pernah didapat selama membuka bisnis kuliner tersebut. Restonya pernah didatangi grup band ibu kota untuk manggung dadakan.
”Kami dikontak kru artis Bian Gindaz atau The Bagindaz dulunya. Saat itu, mereka pas mau manggung di daerah lain. Tapi mau dinner dulu di tempat saya. Jadi benar-benar nggak prepare dan mendadak untuk menyiapkan alat musik. Karena mereka mau nyanyi juga di resto sini," kenangnya.
Kedatangan grup band tersebut, bahkan tanpa dia bayar. ”Mereka malah bayar untuk makanan yang mereka pesan di sini," imbuh alumni STIE Atma Bhakti Solo ini.
Tak hanya grup band ibu kota, kafe dan restonya juga sempat dijadikan tempat launching eksklusif koleksi pakaian muslim milik brand Ria Miranda.
”Saat itu, kami dihubungi tim Ria Miranda Semarang. Katanya mau launching baju edisi Hari Raya. Nah, akhirnya mereka memilih kafe dan resto saya ini, buat pre-launch seri Raya 2024," jelasnya.
Dalam acara tersebut, sejumlah tamu yang diundang bisa ekslusif punya seri tersebut, terlebih dulu daripada costumer Ria Miranda di semua cabang.
”Kesuksesan berbisnis ini, patut disyukuri, karena dunia bisnis yang ditekuni terus berkembang pesat. Saya yakin kesuksesan ini, tak akan datang dengan mudah dan instan. Tetapi harus bekerja keras, tekun, dan pandai mencari peluang usaha," imbuhnya. (*/lin)
Editor : Noor Syafaatul Udhma