Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Lebih Dekat dengan Inayati, Sosok Guru Honorer yang Menggerakkan Literasi di Kampungnya di Ngombak Grobogan

Sirojul Munir • Minggu, 22 Desember 2024 | 20:51 WIB
PENGGERAK: Inayati di rumahnya dijadikan TBM Merti Lestari bersama dengan anak-anak sekitar membaca buku untuk mengisi liburan sekolah.
PENGGERAK: Inayati di rumahnya dijadikan TBM Merti Lestari bersama dengan anak-anak sekitar membaca buku untuk mengisi liburan sekolah.

Seorang guru honorer Inayati menggerakkan literasi di kampungnya, Desa Ngombak, Kabupaten Grobogan.

Ia tergerak mendirikan taman baca masyarakat (TBM). Bahkan kini sudah ada lima TBM yang didirikan dengan dananya sendiri.

SIROJUL MUNIR, Grobogan, Radar Kudus

Belasan anak-anak asyik berkumpul di ruangan 3x4 meter yang dijadikan ruang baca. Mereka asyik memilih dan membaca buku cerita dengan berbagai judul itu.

Ruangan tersebut merupakan ruangan tamu rumah milik Inayati pemilik Taman Baca Masyarakat (TBM) Merti Lestari di Dusun Karanggeneng, RT 2/RW 6 Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, Grobogan.

Ruangan dengan tembok warna hijau tersebut itu ada tiga lemari. Dua lemari kaca bertingkat tersebut berisikan buku ditata rapi.

Satu lemari lagi berisikan mainan edukasi anak-anak yang tertata rapi. Setiap anak bebas mengambil buku dan mainan edukasi yang ada di ditempat itu.

Asalkan nanti setelah membaca atau bermain dikembalikan ke tempatnya sendiri.

TBM yang dirikan ramai anak-anak karena mengisi waktu liburan sekolah setelah ambil raport kelas pada Sabtu (21/12) kemarin.

Sehingga anak-anak sekitar memanfaatkan waktu datang ke TBM untuk belajar dan membaca.

”Sebelum membentuk TBM dulu tempat ini dijadikan sebagai tempat latihan teater anak-anak sampai dewasa,” kata Inayati disela-sela menemani anak-anak membaca cerita di TBM Merti Lestari yang menjadi satu dengan tempat tinggalnya.

Saat itu, pada 2007 dia menajdi koordinator relawan Plan Internasional. Kemudian membentuk kelompok teater anak bimbingan dari Plan Internasional.

Dari kelompok teater bimbinganya pernah pentas di beberapa daerah lainnya. Mulai pentas di Rembang, Ketep Magelang, Purwodadi dan tempat lainya.

Dari situ dirinya mempunyai motivasi buat kemajuan anak desa yang berada di tengah hutan di Kecamatan Kedungjati.

Dirinya kemudian meminta buku untuk menunjang literasi anak.  Selajutnya pada 2008 iseng-iseng membuka Taman Baca Masyarakat (TBM).

”Ketika itu, dirinya mengajar Bahasa Inggris kepada masyarakat secara gratis di setiap kampung. Saat mengajar itu, saya kepikiran tidak ada buku bacaanya. Hanya sekadar belajar. Maka saya kasih bacaan,” kenangya.

Maka saat itu, ia pertama TBM Merti Lestari di rumahnya. Kemudian kedua kampung Ledoan RW 8 TBM Tabuan. Ketiga di TBM Madrasah Kampung Metuk.

Selanjutnya keempat ada pengembangan lagi kerjasama dengan UPGRIS mendirikan TMB di Kedunggandri TPQ Keduggandri.

Dan kelima mendirikan TMBM Al Huda Kampung Kaliwonang kerjasama denagn Komunitas Warga Ngombak.

”Jadi kami walaupun bekerja sendiri meminta para donatur untuk mengisi. Mengisi belum banyak tapi sudah ada bacaaan untuk anak,” ujarnya.

Dari hasil pengumpulan buku yang didapat kini jumlahnya sudah capai dua ribu koleksi buku. Koleksi buku ini berisikan buku anak-anak, cerita, pengatuan umum dan pertanian.

Pertama kali membuat TBM dirinya dicueki warga masyarakat sekitar. Dari 100 KK di kampungya hanya ada 10 sampai 15 KK yang peduli.

”Kepedulian niat baca harus dimulai dari mental. Yang penting anak-anak dan orang tua ikut membaca. Dan yang terpenting bisa mengajak literasi dan mengurangi gadget,” terang dia.

Sementara terkait dengan pendanaan, ia menggunakan uang pribadi dan belum ada bantuan dari pemerintah untuk fasilitasnya.

Sedangkan buku didapatkan dari Plan Internasional, Yayasan Perpustakaan Nasional Jakarta, UPGRIS Semarang dan Paguyuban Asrah Batin serta komunitas media sosial peduli literasi.

Mengurusi TBM dilakukanya dengan riang gembira. Sebab, tempat TBM yang dirikan merupakan tempat aktivitas sehari-hari sebagai guru honorer Bahasa Inggris di SD N 1 Ngombak, guru bahasa Inggris di SMP Kedungjati dan  guru bahasa inggris di Madin Sore Metuk mulai pukul 14 sampai 15.30 WIB di Madrasah Sore Metuk.

”Untuk TBM saya buka pada Sabtu-Minggu. Menggerakan anak untuk datang ke TBM. Anak anak itu ikutan ada. Ada satu dua anak datang maka yang lain juga akan ikut. Disediakan mainan menarik dan siswa ikut membaca,” tambahnya.

Selama liburan sekolah, TBM di rumahnya dibuka setiap hari. Di mana anak dan orang tua bisa mengambil buku sendiri dan mengembalikan ke tempatnya kembali.

Ada juga orang tua anak membawa dan membacanya di rumah. Jika sudah selesai dikembalikan.

Dia mengaku, selama ini belum ada peran pemerintah daerah untuk membantu TBM-ya, ia berprinsip hanya untuk membantu warga masyarakat untuk melek literasi baca dan menjadikan anak cerdas.

Meski hidup di tengah hutan dan berada di daerah perbatasan dengan Kabupaten Semarang tetapi pengetahuan umum harus tetap didapatkan.

”Yang penting anak mau membaca dan tidak kalah dengan handphone. Kita tidak berharap banget. Pingin pribadi anak membaca dan mengurangi main hanphone. Paling tidak dua jam sudah berkurang,” tandasnya.

Inayati berharap ada kepedulian pemerintah tuk perhatikan. Di mana sekarang ini tidak ada yang melirik dan mendengar.

Di mana daerah pinggiran juga ingin dimanusiakan seperti manusia lain. Bantuan buku dapat dari Perpustakaan Nasional Pusat dapat dua ribu buku.

Riwayat pendidikan Inayati berawal dari lulusan TK Dharma Wanita, SD 1 Ngombak, SMP N 3 Salatiga dan SMAN 2 Salatiga dan S1 Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Setelah lulus kuliah, ia bekerja di Banjarmasin bagian kemahasiswaan di Akademi Komputer Indonesia selama 10 tahun.

Kemudian pada 2000 mengundurkan diri dan bekerja ke Brunei Darussalam bekerja di konsultan.

Kemudian pada 2007 pulang dan menganggur. Akhirnya ketemu LSM Plan Internasional dan ikut bergabung.

”Bapak ibu saya guru ada jiwa pengabdian.  Maka saya jadi guru Bahasa Inggris dan mulai mengajar di SMP pada 2018 dari Yayasan Islam dan SD dan madrasah. Saya mengajar bahasa Inggris agar anak anak Ngombak tak ketinggalan. Pingin mengenal dunia karena Bahasa Inggris bahasa internasional,” pesanya. (*/him)

Editor : Ali Mustofa
#tbm #literasi #grobogan #Inayati #edukasi #guru honerer