Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Meneladani Semangat Literasi Mbah KH. Bisri Mustofa di Rembang: Aktif Menulis sejak Santri, Haji dari Tabungan Nyuci

Vachri Rinaldy Lutfipambudi • Selasa, 22 Oktober 2024 | 18:04 WIB
KARYA PALING TERKENAL: KH Bisri Adib Hattani membawa Kitab Tafsir Al-Ibriz.
KARYA PALING TERKENAL: KH Bisri Adib Hattani membawa Kitab Tafsir Al-Ibriz.

 

REMBANG - Jejak kegiatan tulis menulis KH Bisri Mustofa masih tersimpan. Berbagai kitab, meja, hingga cetakan jaman dulu (jadul) masih terjaga.

Barang-barang tersebut merupakan saat ini disimpan di ndalem KH Bisri Adib Hattani.

Ia merupakan salah satu cucu Mbah Bisri yang aktif mengoleksi peninggalan-peninggalan kakeknya.

Tidak hanya kitab, namun juga barang-barang lainnya.

Gus Adib -sapaan akrabnya- menyampaikan total karya-karya Mbah Bisri ada 179 kitab.

Dari jumlah tersebut ada sekitar 49 naskah yang sudah dikumpulkan. Sementara 20 kitab lainnya masih dicetak dan diperjualkan sampai sekarang.

Kitab-kitab tersebut tersimpan dalam sebuah meja kayu peninggalan Mbah Bisri yang saat ini berada di ndalem Gus Adib.

Ada juga yang didapatkan dari percetakan Menara Kudus atau membeli dari orang lain.

Mbah Bisri diperkirakan masih produktif menulis sejak masih mengenyam pendidikan di pesantren.

Ulama kelahiran 1915 itu mengusahakan sendiri untuk berangkat haji. Diantaranya, dengan mendirikan grup laundri di Pesantren.

"Nyuciin santri-santri kaya, bati (untungnya) ditabung. Dulu mondoknya di Kasingan, santrinya ada ribuan," katanya.

FOTO KELUARGA: Bisri Cholil Laquf membawa foto Mbah Bisri bersama keluarga
FOTO KELUARGA: Bisri Cholil Laquf membawa foto Mbah Bisri bersama keluarga

Mbah Bisri juga membuat jasa catering untuk para santri. Selain itu, lanjut Gus Adib, Mbah Bisri juga memiliki adik yang bisa menulis bagus.

Dari sinilah aktivitas literasi Mbah Bisri dimulai.

"Beliau (Mbah Bisri) hafalannya kuat. Habis ngaji, semua kata-kata kiai hafal. Terus diulang lagi, adiknya menulis," katanya.

Tulisan transkrip tersebut kemudian dijual kepada santri-santri lain.

Berdasarkan cerita yang Gus Adib dapat, satu kitab yang ditulis Mbah Bisri berharga sampai lima kerbau. Hal ini karena pada masa itu mencari kertas masih sulit.

"Yang kedua nulis setebal itu pakai kertas tipis. Nulisnya pakai tinta bak. Jadi kalau nulis siap-siap bawa kapur dihalusin, supaya tidak blobor. Dan itu bisa jadi satu buku tebal. Alfiyah itu seribu bait beserta keterangannya," jelasnya.

Hasil menjual kitab itu dikumpulkan untuk biaya haji. Mbah Bisri pun berhaji di usia sekitar 20 tahun.

Kitab-kitab Mbah Bisri rata-rata memang diproduksi secara indie. Artinya proses produksi tidak hanya sebatas menulis namun juga mencetak.

Sebuah plat timah berbentuk persegi panjang yang saat ini masih disimpan Gus Adib menjadi saksi bisu ketekunan sang kiai.

Plat tersebut digunakan untuk mencetak kitab. Permukaannya terdapat ukiran-ukiran tulisan arab.

Sementara, tintanya berasal dari hasil rendaman koran bekas.

Air hitam hasil rendaman itu kemudian ditambahkan pati, lalu diaduk sehingga menjadi tinta. Mbah Bisri, kata Gus Adib, termasuk jarang menulis kitab sendiri. 

”Yang ada itu beliau mensyarahi. Menurut beliau itu barokah nggandul. Jadi nggandul kepada ulama," katanya.

Salah satu karya Mbah Bisri yang paling terkenal adalah Kitab Tafsir Al-Ibriz.

Sebelum menulis kitab tersebut, kata Gus Adib, Mbah Bisri menerjemahkan kitab-kitab perangkat bahasa arab terlebih dahulu. Selain itu juga membaca kitab-kitab tafsir.

"Beliau ngaji tafsir Al Ibriz, khatam berkali-kali dulu," katanya.

Tafsir Al Ibriz ini diperkirakan mulai ditulis sekitar tahun 1956. Mbah Bisri menuliskannya di buku terlebih dahulu. Kemudian proses cetak diperkirakan dimulai pada sekitar tahun 1967.

"Itu mulai dijadikan naskah tahun 1967 dijual kepada Menara Kudus naskahnya," jelasnya. (vah/zen)

Editor : Ali Mustofa
#kitab #pesantren #literasi #Tafsir al Ibriz #KH Bisri Mustofa #rembang #menulis #menara kudus