Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Menelisik Prasasti Tiongha yang Disebut sebagai ”Liang Naga” di Pancur Rembang: Berisi Fengshui, Menarik Minat Peneliti Luar Negeri

Vachri Rinaldy Lutfipambudi • Senin, 2 September 2024 | 21:16 WIB

 

DITELITI: Peneliti mengidentifikasi prasasti Ngasinan 1 yang berada di Desa Warugunung, Pancur, Rembang.
DITELITI: Peneliti mengidentifikasi prasasti Ngasinan 1 yang berada di Desa Warugunung, Pancur, Rembang.

 

TEMUAN dua prasasti Tionghoa di Desa Warugunung, Kecamatan Pancur, Rembang, menarik perhatian pemerhati sejarah.

Tim dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) akan turun langsung meneliti.

VACHRI RINALDY L, Rembang, Radar Kudus

Hamparan perkebunan jati di Desa Warugunung, Kecamatan Pancur, Rembang, seakan menjadi magnet bagi pegiat sejarah di Kecamatan Lasem dan sekitarnya.

Di sana, baru saja ditemukan dua bongkah batu yang memiliki ukiran aksara Tionghoa. Lokasinya berada di area perbukitan. Tidak jauh dari permukiman.

Meski begitu, untuk sampai di lokasi prasasti harus berjalan kaki. Sebab, benda yang diduga sebagai cagar budaya itu, berada di tengah perkebunan jati.

Sebetulnya, warga setempat sudah mengetahui keberadaan batu tersebut sejak lama.

Hanya, masyarakat mengira hanya sekadar bongpay (bagian dari makam etnis Tionghoa).

Sampai beberapa waktu lalu, Jayadi, salah satu warga setempat berbincang dengan pegiat sejarah.

Saat itu, ia sedang ngopi dan bercerita soal batu tersebut. Ia kemudian mengajak pegiat sejarah ke lokasi.

”Kawasan ini kan kebun. Dulu (saat masih kecil) main ke sini duduk di situ (batu prasasti, Red),” kenangnya saat menceritakan pengalaman masa kecilnya di lokasi temuan prasasti.

Danang Swastika, pegiat sejarah yang diajak oleh Jayadi mengatakan, setelah ia melihat langsung batu yang dimaksud, ia menilai batu ini merupakan prasasti.

”Ini sebagai temuan yang luar biasa yang harus saya laporkan ke dinas terkait. Dan direspons dengan baik,” jelasnya.

Kabar adanya penemuan prasasti pada awal Agustus lalu itu pun tersiar. Para komunitas sejarah di Lasem pun ramai-ramai mendatangi lokasi.

Mereka juga melaksanakan kerja bakti untuk membersihkan area temuan.

Di tengah-tengah aktivitas tersebut, salah satu dari mereka pun menemukan prasasti lagi.

Lokasinya tak jauh dari temuan yang pertama. Jaraknya sekitar 15 meter.

Selanjutnya dua temuan itu, disebut sebagai prasasti Ngasinan 1 dan prasasti Ngasinan 2. Sebab, lokasi penemuannya berada di Dukuh Ngasinan, Desa Warugunung, Kecamatan Pancur.

Berdasarkan identifikasi awal yang dilalukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Rembang, prasasti Ngasinan 1 memiliki ukuran tinggi 144 cm, panjang 190 cm, dan tebal 81 cm.

Sementara prasasti Ngasinan 2 memiliki panjang 216 cm, tinggi 110 cm, dan tebal 105 cm.

Masing-masing memiliki ukiran aksara Tionghoa. Tulisannya masih terlihat jelas.

Tidak hanya prasasti, di sekitar lokasi juga terdapat bongpay dan altar Dewa Bumi yang diperkiralan sudah ada sekitar 1876 silam.

TULISAN MASIH JELAS: Prasasti Ngasinan 2 yang berada tak jauh dari prasasti Ngasinan 1.
TULISAN MASIH JELAS: Prasasti Ngasinan 2 yang berada tak jauh dari prasasti Ngasinan 1.

Agni Malagina, peneliti sejarah Tionghoa sudah melihat temuan prasasti tersebut.

Ia menilai, isi dari prasasti Ngasinan 1 merupakan puisi yang berisi tentang fengshui.

”Fengshui ini praktik geomansi (metode ramalan yang menginterpretasikan tanda di tanah atau pola yang dibentuk oleh beberapa tanah, batu, atau pasir yang dilemparkan) sejak masa Tiongkok kuno," ujarnya.

"Biasanya mengenai pengaturan spasial, tempat, orientasi arah, menyelaraskan energi (qi), agar bisa menghasilkan suasana harmonis damai untuk penghuni atau pemilik tempat itu,” jelasnya.

Agni sudah melakukan penelitian selama 25 tahun di berbagai pecinan di nusantara. Mulai dari Sumatera hingga Sulawesi. Ia mengaku baru kali ini menemukan puisi yang dipahat dibatu utuh.

”Ini langka. Jadi, layak dan wajib dilindungi dengan UU Cagar Budaya,” ujarnya.

Rencana, bulan ini ia bersama tim Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) akan meninjau prasasti tersebut. Keberadaan prasasti ini, terus menarik perhatian.

Danang Swastika, pegiat sejarah mengatakan, baru-baru ini ia juga mendampingi dua orang penerjemah bahasa Tionghoa mengunjungi lokasi prasasti. Mereka Kwa Tong Hay dan Ding An.

Danang menerangkan, ada beberapa kesimpulan dalam penerjemahan prasasti tersebut, yang terkait dengan puisi atau syair. Isinya tentang tempat yang baik dan suci untuk pemakaman.

Menurut Danang, Kwa Tong Hay menyampaikan, bahwa tempat tersebut sebagai liang naga atau kepala naga. Diartikan sebagai pusat energi yang bagus bagi kepercayaan Tionghoa.

”Naga merupakan lambang kebaikan dan keberuntungan. Naga juga menjadi simbol kekuasaan,” jelasnya.

”Ding An mengatakan, prasasti Ngasinan 2 merupalan informasi tentang kejayaan masa lalu yang telah tenggelam dan akan berjaya lagi hingga waktunya tiba,” ungkap Danang.

Ia juga mengatakan, bahwa informasi prasasti Ngasinan ini, telah sampai ke para akademisi luar negeri.

Salah satunya profesor sejarah dari Taiwan yang tertarik untuk melihat langsung Prasasti Ngasinan.

”Semoga situs sejarah Lasem semakin lestari dan melengkapi catatan catatan sejarah yang sudah ada,” harapnya. (*/lin)

Editor : Ali Mustofa
#Dinbudpar #peneliti #rembang #perbukitan #Ngasinan #dewa bumi #Luar negeri #tiongkok #Prasasti