Rutan Kelas II B Rembang juga memberikan sentuhan religi kepada para warga binaan.
Bahkan, ada salah satu dari mereka yang merupakan penyandang disabilitas tuna netra hafal Alquran. Kemudian menjadi guru ngaji untuk warga binaan lain.
VACHRI RINALDY L, Rembang, Radar Kudus
Para warga binaan (wabin) Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Rembang sudah terlihat bersiap di Musala At-Taubah yang berada di dalam rutan beberapa waktu lalu.
Total ada 11 orang. Masing-masing sudah memegang instrumen hadroh.
Baca Juga: KH Baidlowi Lasem Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Ya, mereka merupakan kelompok hadroh di sini. Para warga binaan tersebut piawai memainkan alat musik tersebut.
Tak berselang lama, terlihat Rahmat, wabin lain yang berjalan keluar dari ruang tahanan. Ia dituntun wabin lain.
Sebab, dia disabilitas tuna netra. Meski demikian, ia yang biasa diminta oleh petugas rutan untuk membantu mengajar ngaji teman-temannya.
Sebab, pria berusia 44 tahun itu, hafal Alquran. Sesampainya di musala, Rahmat dan para wabin lain mempraktikkan mengaji. Mereka duduk bersila.
Rahmat pun melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Kemudian diikuti para peserta. Sesekali ia mengoreksi bacaan para wabin lain.
Rahmat mengaku sudah terbiasa mengikuti rutinitas di Rutan Kelas II B Rembang.
Berbeda ketika ia baru kali pertama masuk menjalani masa hukuman beberapa bulan lalu.
”Kalau pertama kali ya pasrah sama Allah. Dulu saya kan belum tahu, rutan keadaannya seperti apa. Sementara saya tidak bisa melihat. Ya nangis," ungkapnya.
Baca Juga: Disambut Antusias Warga, Dinas Perikanan Jepara Getol Garap Lomba Mancing, Ini Harapannya!
Di momen Ramadan seperti ini, ia juga mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di rutan. ”Ada ngaji setiap Rabu. Tadarus juga ada," ujarnya.
Rahmat mengatakan, dirinya hafal Alquran 30 juz. Untuk menjaga hafalannya, dia menggunakan alat bantu Alquran Braille. Setiap hari selalu dibaca. Biasanya saat pagi hari.
”Nanti di dalam blok minta teman-teman yang bisa baca Alquran menyimak," katanya.
Ia mengaku mulai menghafal Alquran sekitar empat tahun lalu. Awalnya, ia merasa senang ketika ada orang membaca Alquran.
Kemudian Rahmat mendekat dan meminta untuk dibacakan. ”Saya minta dibacakan satu ayat, dua ayat, hafal. Terus besoknya lagi, besoknya lagi," katanya.
Kepala Rutan Kelas II B Rembang Irwanto Dwi Yhana Putra menjelaskan, dalam menjalankan pembinaan di rutan ada dua metode. Yakni pembinaan kemandirian dan kepribadian.
Ada beberapa program yang sudah dijalankan. Baik saat Ramadan maupun hari-hari biasa. Di antaranya, pelatihan hadroh, pengajian, hingga khataman Alquran.
Dia bilang, kesenian hadroh biasa dimainkan saat ada kegiatan eksternal maupun internal rutan. Seperti ketika ada kunjungan-kunjungan pimpinan.
Sementara itu, soal adanya warga binaan tuna netra yang hafal Alquran, dia juga terus mendorong agar yang bersangkutan bisa mengajari wabin lain.
Ia melihat keseharian Rahmat merupakan pribadi yang baik dalam berkelakuan.
Memang, ia menyadari, ketika Rahmat kali pertama menjalani masa hukuman sempat merasa tidak terima terhadap kasus tentang perlindungan anak yang disangkakan kepadanya.
”Sempat mengajukan banding dan kasasi. Kemudian setelah diputus Mahkamah Agung menguatkan putusan awal dengan putusan delapan tahun subsider enam bulan," ujarnya.
"Beliau menjalani dengan ikhlas. Juga mau membantu petugas mengajari rekan-rekannya (di rutan)," ungkapnya.
Pihak rutan juga memberikan fasilitas Alquran Braille kepada Rahmat. Agar dia bisa menjaga hafalan Alquran.
Juga ada alat semacam pena elektronik yang digunakan saat membaca Alquran.
”Jadi ketika alat itu ditempelkan ke tulisan Alquran akan mengeluarkan suara bacaan Alquran," katanya.
Rutan Kelas II B Rembang juga memberikan perlakuan khusus bagi wabin difabel.
Rahmat diberikan pendamping untuk menemani kegiatan di luar kamar. Seperti pengajian. (*/lin)
Editor : Ali Mustofa