Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Lebih Dekat dengan Mega Nur Ariska, Penari Asal Grobogan: Hasilkan Karya Kontemporer, Gabungkan Gerakan Melayu

Intan Maylani Sabrina • Jumat, 29 Desember 2023 | 23:42 WIB

 

MENJIWAI: Mega Nur Ariska saat pentas tari bertajuk Umak karyanya sendiri.
MENJIWAI: Mega Nur Ariska saat pentas tari bertajuk Umak karyanya sendiri.

Mega Nur Ariska menuruni bakat ibunya menjadi penari. Baru-baru ini, ia menghasilkan karya kontemporer yang dipadukan dengan gerak dasar melayu.

Jemari lentik berpadu dengan tubuhnya yang luwes berlenggak-lenggok saat pentas. Ia tampak menikmati alunan musik yang menggema.

Kerling perempuan mungil itu, juga tampak hendak menikam. Mega Nur Ariska mempraktikkan tari kontemporer ciptaannya bertajuk ”Umak”.

Karya tarinya itu, tak murni kontemporer. Sebab, ia padukan dengan gerak-gerak dasar Melayu.

Tarian yang sedang ia tunjukkan ini, merupakan tarian yang ia buatnya selama hampir dua bulan lamanya.

Dalam menghasilkan sebuah karya, ternyata tak mudah. Perempuan kelahiran Grobogan, 15 Mei 1997 ini, tak begitu asal memunculkan gerakan.

Lalu mengambil musik dari Youtube. Gerakan tari itu, ia ciptakan sendiri. Sedangkan untuk musik ia menggandeng komposer.

”Untuk musik memang nggak murni menciptakan sendiri. Saya dibantu Panji Pramayana. Jadi, saat latihan pertama saya sempat berdiskusi dengan komposer tentang karya saya ini. Konsep dan gerakan seperti ini, sebaiknya pakai musik yang seperti apa. Jadi untuk musik saya menggandeng komposer,” ujarnya.

Setiap latihan ia selalu didampingi komposer untuk penyesuain gerak dan musik. Juga ada bimbingan ke para dosen pengampu.

Setiap bimbingan tidak ngasal, karena setiap gerak selalu dikonsultasikan.

Harus tahu alasan dan tujuan kenapa menggunakan ragam gerak tersebut.

”Jadi untuk proses penciptaan karya ini, tidak asal gerak. Saya harus tahu makna setiap gerak yang ada di dalam karya ini. Pada babak awal menggarap suasana kesedihan perempuan yang menginginkan buah hati," jelasnya.

"Kemudian babak kedua, menggarap suasana kemarahan dikarenakan banyaknya orang yang mencibirnya akibat keadaan. Pada babak ketiga, menggarap suasana hati yang lebih tenang dikarenakan perempuan tersebut, mulai dapat mengendalikan diri dan berdamai dengan keadaan,” lanjutnya.

Karya ”Umak” ciptaannya ini, telah melewati beberapa proses. Meliputi penelitian, pencarian, dan literatur dari beberapa buku untuk dijadikan tinjauan, sehingga benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.

Menurut mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta Jurusan Seni Tari ini, karya Umak tersebut diambil dari bahasa Palembang yang memiliki arti ibu.

Terinspirasi dari para perjuang yang berjuang untuk menjadi ibu.

Karyanya itu, menceritakan tentang perjuangan seorang perempuan yang ingin menjadi seorang ibu.

Dalam perjalanannya banyak cibiran dari orang lain dengan keadaannya yang belum juga mempunyai seorang anak.

”Cibiran yang datang setiap hari lama-kelamaan membuatnya terbiasa dan ia memilih untuk berdamai dengan keadaan,” ungkap Mega.

Sedangkan untuk bahasa Melayu tersebut, digabungkan lantaran ia pernah tinggal di Palembang, Sumatera Selatan, selama duduk di bangku SMA.

Dalam mempraktikkan tarian Umak, ia dibantu tiga orang. Satu penari hanya bergerak di awal dan akhir. Sedangkan dua penari yang bergerak.

”Untuk latihan kurang lebih sekitar dua jam. Lamanya itu hanya pada proses pembuatan tarian. Sedangkan praktik latihannya cukup singkat,” jelasnya.

Menurutnya, tak mudah mencari penari yang fisik serta staminanya kuat.

Mulanya dalam karya tersebut, ada lima penari dan akhirnya tinggal tiga penari. Untuk mengatur para penari memang ekstra sabar harus sabar dengan proses latihan.

Sedangkan untuk busana yang digunakan, tarian karyanya tersebut, menggunakan dominan warna merah maroon yang diartikan keanggunan.

Kemudian warna ungu dapat disimbolkan sebagai perjuangan perempuan dan keaggunan.

”Untuk kendala dalam karya ini, yang paling fatal adalah kostum. Sama penjahit kostumnya dibikin seperti gamis, itu bikin nggak mood. Tapi, alhamdulillah sebelum pentas dijahit lagi pakai tangan saat di ruang kostum dengan bantuan tim MUA (makeup artist),” kesannya.

Dia juga pengalaman yang berkesan lain. Saat tampil ia sedang hamil enam bulan. Ia pun hanya menari pada bagian awal dan akhir.

”Karena keterbatasan bergerak saat hamil, pada awalnya saya tidak diperkenankan menari. Saya hanya sebagai koreografer. Tetapi saya tidak bisa kalau hanya melihat. Jadi, saya terjun langsung untuk menari, meski gerakannya hanya simpel, tidak seperti penari lain,” imbuhnya. (int)

Editor : Ali Mustofa
#komposer #koreografer #kontemporer #grobogan #penari