KONDISI bangunan Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU) di Dusun Kaliceret, Desa Mrisi, Kecamatan Tanggungharjo sudah rusak karena usia.
Gereja tertua di Kabupaten Grobogan yang sudah ada sejak zaman Belanda. Pendeta Agus Tri Harjoko mengajak jemaah iuran hingga ada donatur memberikan talangan.
Belasan warga jamaah GKJTU tampak sibuk. Satu sama lain saling membantu. Mereka sedang menaikan genteng untuk dipasang di bangunan gereja.
Gereja yang berada di Dusun Kaliceret, Desa Mrisi, Kecamatan Tanggungharjo baru saja direhab.
Gereja berwarna putih dan biru terbuat dari kayu jati baru saja rehab. Bangunannya miring mau roboh.
Maka jamaah gereja membangunya lagi dengan membuat pondasi baru. Tetapi bangunan lama masih tetap utuh.
Model bangunanya seperti gereja Eropa ciri khas bangunan Belanda dan Jawa. Bentuknya limas segitiga dan ada menara di depan.
Tinggi bangunan menara ada 12 meter. Sedangkan atap plafon lima meter. Luas bangunan gereja lebar 10,3 meter x panjang 18 meter.
Ada satu pintu besar dengan dua pintu. Kanan kirinya ada jendela. Warnanya biru. Bangunan gereja yang sangat tua, lengkap dengan lonceng kuno yang dibuat dari konstruksi kayu.
Lonceng itu ada di depan bangunan dengan ketinggian 12 meter. Usia bangunan kayu itu pada tahun 2023 ini sudah 125 tahun.
”Bangunan mau roboh mau kami bangun pondasi baru,” kata pendekat GKJTU Agus Tri Harjoko.
Dia bersama jamaah lainya tergerak membangunya sudah lama. Yaitu sebelum tahun 2018 lalu atau sebelum ada Covid-19.
Kondisi gereja sudah miring. Jika tidak diatasi membahayakan para jamaat. Maka dengan dana swadaya sedikit dari warga maka dilakukan renovasi dan pembuatan pondasi.
”Akhirnya kami cari dana dan belum bisa mencukupi kebutuhan semua. Yang penting bangunan gereja tidak ambruk,” ujarnya.
Renovasi pembangunan gereja yang dilakukan tidak merubah bentuk aslinya gereja. Biaya untuk renovasi sampai selesai membutuhkan dana sekitar Rp 250 juta.
Tetapi dari jamaah baru terkumpul Rp 75 juta dan donatur Rp 10 juta. Dana itu, masih kurang banyak dari Rencana Anggaran Bangunan (RAB) yang dibuat.
Cara akan bangunan tidak berubah dan tetap sama. Maka cara membangunnya tidak membongkar bangunan.
Namun, dengan mengangkat dinding bangunan dan atapnya dari kayu. Setelah terangkat maka diganjal kayu.
Pengangkatan dimulai dari utara atau belakang bangunan. Kemudian terakhir di area selatan atau depan bangunan. Saat terakhir ini berat karena bagian depan ada menaranya.
Saat proses pengangkatan itu, ada kayu yang keropos dan perlu diganti.
Setelah selesai dindingya diangkat, maka warga membuat pondasi di bagian tengah gereja.
Sebab, dari awal pembangunan gereja itu tidak ada pondasinya. Hanya tumpukan batu untuk pondasi luar. Sedangkan pondasi dalam tidak ada.
”Dulu tidak ada slub dan sekarang kita beri slub. Hanya dari asli bangunan itu, pondasinya hanya batu aja sekarang dikasih besi tulangan,” aku alumni Universitas Satya Wacana Salatiga ini.
Proses pembangunan dilakukan dengan kerja bhakti jamaah.
Sedangkan pekerjaan sehari-hari membuat pondasi dan lantai menggunakan enam pekerja bangunan. Ditargetkan pembangunan akan selesai tahun ini.
Setelah pembangunan selesai maka bangunan gereja tidak akan miring.
Dimana sebelumnya gereja sudah miring 30 centimeter. Dan penyangga kayu gereja sudah tidak ada lagi.
Dia berharap ada donatur dari jamaah dan pemerintah daerah ikut membantu pembangunan.
Sebab, bangunan tersebut sudah masuk dalam cagar budaya.
”Harapanya pemerintah daerah ikut terlibat membantu karena masuk cagar budaya daerah,” tandasnya.
Agus menceritakan, gereja yang dibangun tahun 1898 ini pernah nyaris roboh. Namun, karena bangunan pakai kayu sedikit masih miring.
Bangunan gereja itu dibagi menjadi tiga bagian. Pertama teras gereja depan.
Kedua dibagian tengah untuk beribadah dan terkhir belakang digunakan untuk rapat dan memasak.
Agus menambahkan, bangunan GKJTU ini belum pernah direnovasi. Hanya bagian lantai diganti keramik.
Sebelumnya lantai ubin. Sedangkan lounching dipindah tahun 2012. Sebab, launching besar dan suaranya cukup keras jika dibunyikan.
Getaran suara bisa dirasakan sampai tanah juga ikut bergetar. Besaran getaran menjadi tentu saja membuat ratusan umat Kristen yang beribadah di gereja itu merasa khawatir.
Mereka takut jika bunyi lonceng besar itu justru akan merusak seluruh bangunan.
”Launching adalah pemberian dari jamaah sekolah minggu Jerman tahun 2012. Disitu ada tulisanya dalam bahasa jawa lonceng iki jenenge rahmat. Untuk ornamennya masih asli termasuk kursi dan altar tidak kita ubah,” aku dia.
Sementara itu, gereja tersebut sebelumnya ada rumah sakit di depanya. Namun, rumah sakit tersebut dipindahkan ke Kota Purwodadi.
Sebelah kanan kiri gerea ada rumah pendeta. Sekarang rumah pendeta atau pastori digunakan untuk sekolah dasar Kristen.
Gereja ini masih tetap awet karena menggunakan jenis kayu jati terbaik.
Sehingga rayap tidak mau memakan. Kemudian menjaga agar bangunan kayu tidak terkena air dan perawatan setiap hari.
”Bangunan gereja ini sebelumnya hampir nyaris terbakar di bagian belakang pada tahun 1996. Saat itu, ketahuan dan bisa langsung dipadamkan,” tambahnya.
Bangunan GKJTU Kaliceret sebenarnya sama dengan bangunan gereja GKJTU di daerah Tempurung, Desa Telogomulyo, Kecamatan Gubug.
Bangunannya persis sama. Hanya saja disana bangunan lebih pendek.
GKJTU merupakan bangunan gereja tertua di Kabupaten Grobogan dan masuk cagar budaya. (mun)
Editor : Ali Mustofa