SOSOK Alfiat memiliki karir kepelatihan cukup mentereng. Pelatih berlisensi AFC A itu, tercatat memiliki sejumlah prestasi saat menjadi pelatih.
Mulai dari membawa tim juara Porprov, hingga membawa tiga kali tim promosi.
Sesekali, pria berkaos putih dengan peluit yang dikalungkan di lehernya itu memberi instruksi anak asuhnya.
Ia beri contoh untuk bisa dipraktekan para punggawa Persijap Jepara dalam latihan di Stadion Gelora Bumi Kartini (GBK) Jepara Senin (30/10) sore.
Sore itu, agendanya memang fokus pematangan taktik sebelum dimulai putaran kedua Liga 2 2023/2024 empat hari mendatang atau Minggu (5/11).
Di laga itu, Persijap Jepara memang bakal menjamu pemuncak klasemen Grup 3, Persela Lamongan.
Mau tidak mau, pria berkaos putih yang tak lain Head Coach Persijap Jepara Alfiat harus mematangkan timnya sebaik mungkin.
Dirinya bertekad membawa tim berjuluk Laskar Kalinyamat itu berprestasi musim ini.
”Saya memang senang tantangan. Itu jadi alasan saya memilih Persijap,” ujar pelatih kelahiran Kediri, 9 November 1969 itu.
Itu pula yang jadi alasan dirinya selama di Jepara lebih sering menghabiskan waktu di penginapannya saat tak melatih.
”Soalnya saya lebih memikirkan program-program latihan,” imbuh Alfiat usai mengisi latihan sore itu.
Pria yang ditunjuk jadi pelatih kepala Persijap Jepara sejak 13 Oktober lalu itu bertekad membawa tim berjuluk Laskar Kalinyamat bisa finish di tiga besar klasemen Grup 3.
Bila itu terjadi, itu bisa jadi modal penting untuk masuk ke babak 12 besar. Apabila beruntung, bisa meraih juara dan lolos untuk promosi ke Liga 1.
Berbicara soal membawa tim promosi, Alfiat memang beberapa kali membawa tim promosi.
Di antaranya Persenga Nganjuk, ia bawa promosi dari saat itu Divisi Satu ke Divisi Utama di tahun 2012.
Tak Selesai di situ, di tahun 2013, ia bawa Persenga Nganjuk finish di peringkat empat Divisi Utama.
Selain Persenga, Alfiat juga pernah membawa tim kebanggan kampung halamannya, Persik Kediri dari jurang keterpurukan.
Persik Kediri yang pernah jadi juara Liga Indonesia, pernah terjerembab ke jurang degradasi hingga kasta terbawah Liga Indonesia di tahun 2017.
Alfiat, yang menukangi tim berjuluk Macan Putih di tahun 2018, sukses membawa tim tersebut promosi ke Liga 2 dengan status juara Liga 3.
Kesuksesan itu berlanjut di tahun 2019. Ia yang membentuk tim Persik untuk kompetisi Liga 2 musim itu, sukses membawa Macan Putih kembali ke kasta teratas Liga Indonesia dengan status juara Liga 2.
”Kalau saya melatih, itu tantangan bagi saya. Kalau saya diberi amanah, disuruh melatih di mana, saya harus optimis. Itu tantangan buat saya. Walaupun, pemainnya muda-muda, kalau mau kerja, bismillah semua pasti ada pertolongan,” ujar pria yang sebelum memulai karir kepelatihan sebagai seorang pemain tersebut.
Karir kepelatihan Alfiat sebenarnya telah dimulai sejak ia muda. Ia mulai dengan melatih Persik Kediri Junior sejak tahun 2003 hingga 2006.
Keputusannya menjadi pelatih itu, tak lepas dari karirnya sebagai pemain bola yang terhenti akibat cedera.
Di usia 28 tahun, Alfiat harus berhenti sebagai pemain sepak bola profesional.
”Kita masih ingin main, tapi kita sudah tidak mampu. Kita ikut training center Persedikab Kabupaten Kediri tahun 1996, saya keluar,” tandas Alfiat.
Dari sana, ia memutuskan untuk bermain bola dengan cara lain. Yakni sebagai pelatih. (rom)
Editor : Ali Mustofa