Eko Suparyanto atau yang kerap disapa Eko Supa pernah berjaya pada 2000-an saat menggelandang di Jogjakarta dan Jakarta. Pada 2009, ia sukses membuat pameran tunggal pertamanya dengan 30 karya bertema ”Orde Batik” di Gallery Hadiprana, Jakarta Selatan.
INTAN MAYLANI SABRINA, Grobogan, Radar Kudus
BERBAGAI kanvas dan cat warna memenuhi rumah kecil Eko Suparyanto yang berada di RT 4/RW 14, Jalan Glugu, Desa Kebondalem, Kecamatan Purwodadi, Grobogan.
Berbagai seni rupa karikatural dengan berbagai tokoh seperti Warkop (Dono, Kasino, Indro), Didi Kempot, Presiden Joko Widodo, Gito Rollies, hingga kisah Nabi Nuh dilukisnya. Semua terpajang di sejumlah sudut rumahnya.
Pria yang lebih akrab disapa Eko Supa tersebut, kini hanya bisa berkarir di Grobogan yang merupakan kampung halamannya. Sebab, dia tengah berjuang recovery dari sakit yang dideritanya.
Dulu, Eko merupakan karikarturis nasional. Karya-karyanya kerap terpajang di sejumlah event nasional. Bahkan, salah satu karyanya sempat terjual senilai Rp 35 juta.
”Saat ini, juga masih menerima beberapa orderan. Memang sementara hanya bisa aktivitas di rumah. Beberapa waktu lalu habis sakit dan opname. Jadi, ini proses recovery,” jelasnya.
Selama ini, ia hanya menerima tawaran ekspo secara daring. Karyanya juga masih bisa tembus Malaysia hingga Turki.
Sesekali pria kelahiran Grobogan, 2 April 1982 ini, juga menyempatkan kumpul dengan komunitas seni Palipuro saat car free day (CFD) di Purwodadi.
Meski begitu, dia bermimpi untuk bisa membuat pameran tunggal lagi. Namun, kali ini bertempat di kota kelahirannya sendiri.
”Pameran tunggal kali pertama saya gelar di Jakarta yang bertempat di Gallery Hadiprana, Kemang Raya. Ada sekitar 30 karya karikatur yang saya tampilkan saat itu. Dengan tema ”Orde Batik”,” jelasnya.
Saat itu, pria yang memiliki aliran karikatural, ekspresif, impresif, dekoratif, hingga naturalis ini, memilih tema batik karena kain itu sebagai warisan budaya yang baru saja diakui oleh UNESCO. Tepatnya pada 2 Oktober 2009.
Setelah pameran tunggal itu, karirnya terus cemerlang. Pada 2010, ia masuk dalam nominasi Jakarta Art Award.
Hanya ada 25 peserta se-Indonesia. Di tahun yang sama, ia juga diminta mengikuti Indonesia Art Award.
Kemudian pada 2011 hingga 2015, ia mengisi UOB Art Award. Karyanya terpajang di katalog UOB Art. Berlanjut pada 2016, dia mengikuti pameran di Semarang.
Berlanjut pada 2018, ia terpilih untuk menampilkan karyanya di Galeri Basoeki Abdullah di Jakarta.
”Ini (pameran di Galeri Basoeki Abdullah, Red) menjadi satu-satunya pameran resmi. Hanya ada 25 hingga 30 seniman se-Indonesia yang terpilih. Di sana kami diminta melukis karakter Basoeki Abdullah dengan eksplore sesuai aliran maupun pemikiran sendiri,” ujarnya.
Meski sempat sukses berkarya, Eko Supa seakan tenggelam di kampung kelahirannya. Beberapa event lukis yang ada di Kota Swike tak mengikutkan karyanya.
”Mungkin memang lupa untuk mengajak. Tapi saat itu saya tetap hadir sebagai penikmat seni. Saat itu, saya juga ingin bertemu dengan maestro lukis almarhum Joko Pekik,” kesannya.
Eko Supa pun berharap ingin selalu diberikan kesehatan, agar bisa terus berkarya lebih banyak lagi.
”Meski tak lagi di kota besar, saya harap karya saya bisa diterima masyarakat di sini (Grobogan Red). Ke depan, saya harap semakin banyak akses seluas-luasnya untuk menjual karya lukis. Juga diajak atau diberi wadah gratis untuk menggelar ekspo,” harapnya.
Pihaknya juga berharap bisa semakin mudah menemukan peralatan lukis di Kabupaten Grobogan.
”Kendalanya kalau di sini memang sudah mendapat bahan baku lukis. Mulai dari cat, kuas, canvas, dan alat penunjang lain. Harus beli di marketplace. Itu pun jatuhnya mahal, karena kena ongkir kalau untuk kanvas besar. Kadang saya harus bikin sendiri,” keluhnya.
Eko Supa juga berharap ada bantuan peralatan kanvas untuk komunitas lukis lokal. Sebab, sulitnya mencari kanvas dan pigura.
”Saya juga berharap ke depan ada ekspo lukisan. Paling tidak para pencinta lukis menghargai karya dengan mengoleksi. Sebagai pemicu semangat para pelukis untuk berkarya lebih hebat lagi,” harapnya. (*/lin)
Editor : Ali Mustofa