Para pemuda Desa Kajen, Margoyoso, Pati, membentuk komunitas Jelajah Pusaka Kajen. Tujuannya untuk menggali dan mengenalkan budaya setempat ke mancanegara. Ada museum yang memuat peninggalan waliyullah Syekh Ahmad Mutamakkin.
ANDRE FAIDHIL FALAH, Pati, Radar Kudus
MUHAMMAD Zuli Rizal, penggagas komunitas Jelajah Pusaka Kajen menerangkan pentingnya budaya kepada anggota kelompoknya. Sebab, banyak peninggalan-peninggalan budaya Islam yang berada di Desa Kajen, Margoyoso, Pati.
Kelompok pemuda itu, konsen nguri-uri peninggalan wali Alloh Syekh Ahmad Mutamakkin. Misalnya ada Masjid Jami’ Kajen. Tempat itu, peninggalan sang wali.
Di dalamnya terdapat beberapa ornamen simbolik berusia sekitar 300 tahun. Ada pula blumbang sarean, makam kanjengan, makam Mbah Alfiyah, dan makam Mbah Mutamakkin.
Biasanya, para kelompok budaya itu, punya kegiatan belajar sejarah. Generasi penerus bangsa diajari pentingnya sejarah. Kegiatan di luar kelompok itu, juga pernah dua tahun vakum saat pandemi Covid-19.
Ceritanya, selama pandemi tidak ada yang memandu para wisatawan. Beberapa anggota hanya berdiskusi internal. Terkadang sedikit jelajah keluar.
”Mengumpulkan relik, keris, dan arsip peninggalan Mbah Muttamakin. Semuanya dijadikan buletin dan buku,” ujarnya.
Selain diskusi serta membuat buletin dan buku, komunitas Jelajah Pusaka Kajen juga menyediakan guide bagi wisatawan untuk mengunjungi sejumlah situs di Kajen. Salah satu yang pernah berkunjung adalah duta wisata Pati.
”Tujuh orang duta wisata Pati datang ke sini (situs di Kajen, Red) kami ajak keliling di Kajen pakai dokar,” katanya.
Zuli menyebut, sejumlah instansi pemerintah juga beberapa kali diantar untuk mengunjungi situs-situs di Kajen. Mulai dari Dinsos Jateng hingga Kemenag pusat.
”Dari Kemenag tujuannya riset,” paparnya.
Bahkan sebelum pandemi, sejumlah sekolah dan kampus sering berkunjung. Mereka minta ditemani Jelajah Pusaka Kajen.
Bahkan, ada beberapa warga dari luar negeri. Kebanyakan wisatawan melirik daya tarik bagaimana agama dan budaya bisa bercampur. Sebab, di luar negeri sering ada perselihan.
”Dari luar negeri, pernah mahasiswa dari Chicago, Amerika Serikar, dan dari Australia,” tuturnya.
Dia berkisah, awal mula tergagas komunitas ini, atas inspirasi dari kegiatan yang diselenggarakan oleh ”Borobudur Heritage Forum”.
Kala itu, pada 2015 diselenggarakan forum pelatihan selama tiga hari di Kota Gede, Jogjakarta. Kebetulan Zuli menjadi peserta.
”Forum itu membuat acara di Kota Gede bareng-bareng mengenal sejarah cagar budaya. Biar anak-anak muda punya kiat untuk menjaga,” paparnya.
Setelah pulang ke Pati, dia bertemu dengan sejumlah pemuda Desa Kajen yang menginisiasi Perpustakaan Mutamakkin. Lalu, didiskusikan panjang lebar. Akhirnya mulai tumbuhlah komunitas Jelajah Pusaka Kajen yang diisi oleh para muda Kajen.
Komunitas ini, lahir atas kegelisahan bersama. Bagi dia, di Kajen memiliki banyak peninggalan sejarah. Namun, sejarah tersebut hanya diceritakan. Makin ke sini mulai hilang.
”Akhirnya Perpustakaan Mutamakkin menjadi fasilitator atau semacam wadah jelajah pusaka ini tumbuh. Akhirnya teman-teman yang ada di perpus itu, kami ajak diskusi tentang situs-situs bersejarah di Kajen,” paparnya.
Pada 2016 lahirlah Komunitas Jelajah Pusaka Kajen. Proyek pertamanya membuat buku infrografis sejarah dan ornamen simbolik dari Masjid Kajen. ”Buku ini jadi pada awal 2017,” jelasnya.
Seiring berkembangnya waktu, makin banyak para pemuda di Desa Kajen yang bergabung. Cita-cita untuk membangun museum di Kajen pun terwujud. Sebelumnya, hanya angan-angan.
Isi museum yang berada di lantai II Masjid Jami’ itu, foto-foto dan replica barang-barang peninggalan Mbah Mutamakkin.
”Museum ini diinisasi teman-teman Islamic Center Kajen (ICK) bekerja sama dan didukung Yayasan Mbah Ahmad Mutamakkin,” ujarnya.
Bagi Zuli, banyak peninggalan di Kajen yang perlu diangkat. Salah satu buktinya, menggambarkan bahwa Islam dan kebudayan mampu berakulturasi.
Banyak situs dan cagar budaya peninggalan tokoh-tokoh besar zaman dulu ditemukan di Desa Kajen. Salah satunya Mbah Mutamakkin.
”Mbah Mutamakin punya ajaran yang dipahat di Masjid Kajen,” paparnya.
Di masjid berusia sekitar 300 tahun itu, menjadi salah satu bukti Islam dan budaya mampu berdampingan.
Di masjid tersebut, banyak terdapat ornamen-ornamen yang melukiskan kebudayaan Jawa kuno. Seperti naga, burung, dan huruf pegon di ukir di atas mimbar masjid, serta papan dengan tulisan Alquran di depan pengimaman.
Desa Kajen juga banyak menyimpan manuskrip-manuskrip kuno peninggalan Mbah Mutamakkin. Menggambarkan dakwah Islam menggunakan kebudayaan Jawa.
”Manuskrip itu, menceritakan serat Dewa Ruci dengan perspektif tasawuf. Inilah sangat luar biasa. Bagaimana mistisisme Jawa berupa cerita pewayangan bisa dijadikan bahan dakwah Mbah Mutamakkin,” imbuhnya. (*/lin)
Editor : Ali Mustofa